Skip to main content

Kantor Pelabuhan Perikanan Brondong Abaikan Keluhan Nelayan



Keterangan Foto : Nelayan Brondong ketika melakukan bongkar di kawasan Pelabuhan Perikanan

LAMONGAN-Dalam beberapa tahun terakhir ini para nelayan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur tetap ketir-ketir ketika melakukan kegiatan melaut. Pasalnya, tepat pada titik pintu keluar- masuk tiang anjir atau klop sebagai tanda aman atau bahaya bagi kapal nelayan, belum sepenuhnya diperbaiki. Akibatnya belasan kapal nelayan setempat rusak  dan tenggelam. Apalagi, pada saat cuaca ekstrim saat ini, bahaya karam tersebut terus membayangi para nelayan di wilayah pantura kota Soto tersebut. 

“Kami sudah lama mengeluhkan keadaan tiang anjir yang sangat bahaya, kondisi tiang juga agak miring dan lampunya juga belum sepenuhnya terang, namun tampaknya pihak yang bertanggungjawab tentang itu, tak pernah mendengar keluhan nelayan,” kata Warji, salah seorang nelayan Brondong.

Slamet, nelayan lainnya, menurut dia sudah sering nelayan sambat (mengeluh) adanya tiang anjir yang nyaris roboh itu, tapi lagi-lagi tak ada respon yang menggembirakan. “Padahal itu, sangat berbahaya dan bisa menghancurkan kapal nelayan, kesalahan sedikit memegang kemudi akan berakibat fatal,” tambah Par.

Kondisi seperti ini, akibat adanya reklamasi laut untuk pengembangan pembangunan kawasan pelabuhan perikanan diwilayah itu, kerap kurang memperhitungkan factor-faktor lain yang selama ini justru membuat nelayan nyaman.

Urugan atau reklamasi laut yang menutup sebagian zona pintu aman keluar masuk kapal nelayan, menambah beban berat nelayan karena pintu keluar masuk (jarak) tiang anjir pada zona aman menjadi sempit.
Ironisnya, kantor UPT Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong justru seolah tak menaruh perhatian terhadap keadaan ini. Terbukti, hingga sekarang kondisi yang sewaktu-waktu bisa mendatangkan bencana tersebut tetap dibiarkan apa adanya. Fakta inilah, yang lantas membuat belayan geram dan akan ramai-ramai mempertanyakan ke kantor PPN setempat.

“Kalau keluhan kami terus diabaikan, ya mau apa lagi, nelayan harus kompak karena ini demi kelancaran nelayan itu sendiri,” tambah Wardi.

Kepala Kantor Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong-Lamongan, Dedi Sutisna melalui Kasi Sarana Prasarana, Amik Amiyoso hingga berita ini ditulis belum berhasil dihubungi.(mas)

Comments

Populer

Delegasi Palestina Mengaku Merasa Bangga Ikut Kegiatan Tasikmalaya Oktober Festival

TASIKMALAYA (wartamerdeka.net) - Delegasi Palestina mengaku marasa bangga ikut sebagai salah satu peserta dalam kegiatan Tasikmalaya Oktober Festival yang akan di laksanakan pada 14-17 Oktober 2017.

Sambut TOF, Hari Ini Mambo Kuliner Tasik, Buka Mulai Pagi Hingga Malam Selama Dua Hari

TASIKMALAYA (wartamerdeka.net) - Mambo Kuliner Nite Tasikmalaya yang biasanya hanya dilaksanakan satu minggu sekali serta buka hanya pada setiap malam sabtu saja di Jalan Mayor Utarya Kota Tasikmalaya,  kini buka selama dua hari berturut-turut pada 14-15 Oktober 2017.

Mengapa Artis Sinetron Lidya Pratiwi Sampai Terlibat Pembunuhan?

Penulis: Aris Kuncoro

Kalau ada berita yang cukup mengejutkan pada pekan lalu, terutama di bidang hukum dan kriminalitas, maka salah satunya adalah soal ditangkapnya artis sinetron Lidya Pratiwi (19) oleh aparat kepolisian karena disangka terlibat pembunuhan berencana terhadap sesama artis yang juga teman dekatnya sendiri, Naek Gonggom Hutagalung (33).

Kasus ini menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Baik menyangkut keberhasilan para petugas reserse Polres Metro Jakarta Utara dalam mengungkap kasus ini, maupun menyangkut latar belakang dan motivasi para pelaku pembunuhan ini, yang menurut pihak kepolisian, melibatkan orang-orang di sekitar keluarga Lidya Pratiwi, seperti, Vince Yusuf (ibu kandung Lidya), Tony Yusuf (paman Lidya), dan Ade Sukardi (teman Tony). Kisahnya benar-benar mirip cerita di sinetron.

Kasat Reserse Polres Jakut Komisaris Andry Wibowo mengatakan, keberhasilan pengungkapan kasus ini didapat setelah polisi menggabungkan penyelidikan elektronik, penyelidikan forensik, dan…

Produksi Minuman Keras Ilegal Merek ‘’Rajawali’’, Komisi B DPRD DKI Minta Pemerintah Tegas Menindak CV Jakarta Indonesia Makmur

JAKARTA – Keberadaan pabrik yang memproduksi minuman keras (miras) illegal bermerek ‘’Rajawali’’ di bawah bendera CV Jakarta Indonesia Makmur di Jalan Kemuning Raya No 19/20 Kelurahan Cengkareng Barat, Cengkareng, Jakarta Barat telah meresahkan warga setempat. Bahkan kini sejumlah pihak mendesak agar perusahaan tersebut segera ditutup.

CV Jakarta Indonesia Makmur menurut sejumlah sumber pemiliknya bernama Pieter ini telah memproduksi minuman keras dengan kapasitas lumayan besar, bahkan mencapai ribuan botol setiap hari.

Pabrik miras bermerek ‘’Rajawali” ini tadinya diproduksi di bawah ‘’bendera’’ CV Jakarta. Namun, terhitung mulai tanggal 16 Nopember 2009, CV Jakarta ditutup dan berganti nama badan hukumnya menjadi CV Jakarta Indonesia Makmur dengan logo yang sama persis dimiliki oleh CV Jakarta dengan alamat yang sama pula.


CV Jakarta sendiri telah dilarang memproduksi minuman keras merek ‘’Rajawali’’ karena telah menggelapkan pajak cukai sekitar Rp 5 miliar. CV Jakarta seharusny…

MS Bulganon H. Amir: YASKUM akan Dirikan Sekolah dan Pesantren Gratis

Foto : Ir Teuku Muhammad Syamsoe Bulganon Hasbullah Amir, pendiri YASKUM.
Oleh:M. Aris Kuncoro
JAKARTA-Ada khabar gembira dari Yayasan Kharisma Usada Mustika (YASKUM). Lembaga yang bergerak di bidang sosial ini kini tengah bersiap-siap hendak menyelenggarakan pesantren gratis dan sekolah umum gratis, bagi warga masyarakat tidak mampu. Untuk program sekolah umum gratis ini rencananya akan dibuka dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).