Skip to main content

Oknum Dewan Torut Intervensi PUAP di Bokin


TORAJA (wartamerdeka.com) -  Sejumlah oknum anggota dewan di Toraja Utara tampaknya tak jera melanggar aturan. Tak tanggung-tanggung, mereka mengintervensi proyek yang ada. Umumnya dari mereka adalah oknum dewan yang baru pertama kali duduk di gedung rakyat itu. Bentuk intervensi tersebut tampak pada pembentukan GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani) program PUAP (Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan) tahun anggaran 2011. Seperti yang terjadi di Bokin. Oknum dewan berinisial PRT itu diduga melakukan intervensi dengan memaksakan Gapoktan bentukannya sendiri menerima Dana BLM (Bantuan Langsung Masyarakat) PUAP tanpa peduli nama Gapoktan yang diusulkan sebelumnya.



Gapoktan oknum dewan tersebut bernama Samba Buka dengan pengurusnya terdiri dari Komba Massuang, Matius Tandiola dan Hermin. Sumber di Bokin menyebutkan, akibat pemaksaan kehendak oknum dewan tersebut, penyuluh pendamping bernama Yacobus menolak melaksanakan tugas. Konon, sang penyuluh enggan bertanggungjawab karena tak sejalan dengan kata hatinya yang sesungguhnya.

“Saya tidak berani pak. Awalnya saya tidak mau bertandatangan menyetujui pencairan dananya tapi karena camat sudah tandatangan dan camat minta saya tandatangani ya saya tandatangan. Makanya karena masalah ini saya menolak melakukan pendampingan di Bokin,” ujar Yacobus dibalik telepon genggamnya, Jumat, 16 Desember.

Menurut Yacobus, kerena dirinya menolak mendampingi maka ia diganti rekannya yang lain dari Tikala. “Walaupun saya tidak punya uang tapi kalau yang begini saya tidak bisa. Kasih saja yang lain,” tandasnya merespon masalah Gapoktan yang dinilai janggal ini. Namun ketika ditanya apakah kegiatan Gapoktan dengan program PUAP itu benar dilaksanakan di lapangan, dia enggan menjawab. “Tapi kalau yang di bawah binaan saya itu saya jamin karena laporan kegiatannya saya yang pegang. Tembusan laporan kegiatan mereka sampai ke saya. Jadi tidak bisa main-main. Saya tidak tahu kalau yang lain,” ketusnya lagi. Keberadaan Gapoktan PUAP yang lain tersebar di beberapa lembang (desa, red) dan kecamatan. Seperti di Sumalu dan tempat lainnya. (TOM/YAN)


Comments

Populer

Delegasi Palestina Mengaku Merasa Bangga Ikut Kegiatan Tasikmalaya Oktober Festival

TASIKMALAYA (wartamerdeka.net) - Delegasi Palestina mengaku marasa bangga ikut sebagai salah satu peserta dalam kegiatan Tasikmalaya Oktober Festival yang akan di laksanakan pada 14-17 Oktober 2017.

Sambut TOF, Hari Ini Mambo Kuliner Tasik, Buka Mulai Pagi Hingga Malam Selama Dua Hari

TASIKMALAYA (wartamerdeka.net) - Mambo Kuliner Nite Tasikmalaya yang biasanya hanya dilaksanakan satu minggu sekali serta buka hanya pada setiap malam sabtu saja di Jalan Mayor Utarya Kota Tasikmalaya,  kini buka selama dua hari berturut-turut pada 14-15 Oktober 2017.

Mengapa Artis Sinetron Lidya Pratiwi Sampai Terlibat Pembunuhan?

Penulis: Aris Kuncoro

Kalau ada berita yang cukup mengejutkan pada pekan lalu, terutama di bidang hukum dan kriminalitas, maka salah satunya adalah soal ditangkapnya artis sinetron Lidya Pratiwi (19) oleh aparat kepolisian karena disangka terlibat pembunuhan berencana terhadap sesama artis yang juga teman dekatnya sendiri, Naek Gonggom Hutagalung (33).

Kasus ini menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Baik menyangkut keberhasilan para petugas reserse Polres Metro Jakarta Utara dalam mengungkap kasus ini, maupun menyangkut latar belakang dan motivasi para pelaku pembunuhan ini, yang menurut pihak kepolisian, melibatkan orang-orang di sekitar keluarga Lidya Pratiwi, seperti, Vince Yusuf (ibu kandung Lidya), Tony Yusuf (paman Lidya), dan Ade Sukardi (teman Tony). Kisahnya benar-benar mirip cerita di sinetron.

Kasat Reserse Polres Jakut Komisaris Andry Wibowo mengatakan, keberhasilan pengungkapan kasus ini didapat setelah polisi menggabungkan penyelidikan elektronik, penyelidikan forensik, dan…

Produksi Minuman Keras Ilegal Merek ‘’Rajawali’’, Komisi B DPRD DKI Minta Pemerintah Tegas Menindak CV Jakarta Indonesia Makmur

JAKARTA – Keberadaan pabrik yang memproduksi minuman keras (miras) illegal bermerek ‘’Rajawali’’ di bawah bendera CV Jakarta Indonesia Makmur di Jalan Kemuning Raya No 19/20 Kelurahan Cengkareng Barat, Cengkareng, Jakarta Barat telah meresahkan warga setempat. Bahkan kini sejumlah pihak mendesak agar perusahaan tersebut segera ditutup.

CV Jakarta Indonesia Makmur menurut sejumlah sumber pemiliknya bernama Pieter ini telah memproduksi minuman keras dengan kapasitas lumayan besar, bahkan mencapai ribuan botol setiap hari.

Pabrik miras bermerek ‘’Rajawali” ini tadinya diproduksi di bawah ‘’bendera’’ CV Jakarta. Namun, terhitung mulai tanggal 16 Nopember 2009, CV Jakarta ditutup dan berganti nama badan hukumnya menjadi CV Jakarta Indonesia Makmur dengan logo yang sama persis dimiliki oleh CV Jakarta dengan alamat yang sama pula.


CV Jakarta sendiri telah dilarang memproduksi minuman keras merek ‘’Rajawali’’ karena telah menggelapkan pajak cukai sekitar Rp 5 miliar. CV Jakarta seharusny…

SMA N 9 Kota Bekasi Sukses Gelar Kompetisi Olahraga NSC

BEKASI (wartamerdeka) - Kegiatan kompetisi olahraga bertajuk  Niners Sport Competition (NSC) yang ke 4 tahun 2017 sukses digelar SMAN 9 Kota Bekasi.