Skip to main content

PT South Pasifik Viscose (SPV) akan Berikan Konpensasi kepada Warga Korban Keracunan


PURWAKARTA (wartamerdeka.com) - Kebocoran pipa Gas Emisi PT South Pasifik Viscose (SPV)  yang mengakibatkan ratusan warga keracunan, terus menuai kecaman. Saat hendak dikonfirmasi wartamerdeka.com, Hermawan, General Manager (GM) Umum PT  SPV  terkesan dingin.  ’’Saat ini kami fokus pada kondisi masyarakat yang terkena dampak kebocoran yang pasti pihak perusahaan akan manjamin masyarakat,’’ ujar Hermawan di ruang kerjanya, tadi pagi.
Selain bertanggung jawab untuk biaya pengobatan warga, pihaknya juga akan memberikan konpensasi akibat peristiwa ini . “Bantuan bukan hanya kepada warga yang sakit tetapi juga kepada warga yang kehilangan mata pencahariannya akan diperioritaskan,’’ tegasnya.

Diakuinya perusahaan akan memberikan bantuan konpensasi kepada warga sebesar Rp 500 ribu di luar biaya pengobatan. “Adapun untuk warga yang kehilangan mata pencaharian akibat insiden ini masih dalam proses,’’ujar Hermawan
Disinggung soal ada pihak dari LSM yang akan melaporkan peristiwa ini, pihaknya tidak mau ambil pusing. ’’Intinya kami no coment, silahkan saja sementara ini kami mau fokus dulu pada warga dan korban,” ungkapnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak empat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) setempat, malah berencana melaporkan perusahaan PT SPV ke kepolisian  Daerah (Polda) Jabar. Empat LSM yang akan melaporkan perusahaan tersebut diantaranya  adalah LSM Sanggabuana, Laskar Merah Putih, KPLH Jabar dan GMBI Distrik Purwakarta.
Markum Sekretaris LSM Laskar Merah Putih yang juga sebagai Koordinator empat LSM itu mengatakan, peristiwa itu tidak bisa didiamkan begitu saja. Karena akibat kejadian itu, ratusam warga sekitar pabrik yakni warga Kampung Ciroyom, Desa Cicadas, Kecamatan Babakan Cikao, Kabupaten Purwakarta, telah mengalami mual, muntah, pusing, sesak napas, “Sekitar 42 warga dirawat di RS Efarina Etaham, dan ratusan warga di sekitar pabrik diungsikan,”katanya.
Perusahaan yang memproduksi kapas buatan itu dituding telah melanggar pasal 98 dan 99 dalam UU 32 tahun 2009. (Asep Budiman)
Keterangan Foto: Warga yang keracunan tampak tengah dirawat (kiri), dan PT SPV yang pipa gasnya bocor, hingga meracuni warga sekitar.

Comments

Populer

Delegasi Palestina Mengaku Merasa Bangga Ikut Kegiatan Tasikmalaya Oktober Festival

TASIKMALAYA (wartamerdeka.net) - Delegasi Palestina mengaku marasa bangga ikut sebagai salah satu peserta dalam kegiatan Tasikmalaya Oktober Festival yang akan di laksanakan pada 14-17 Oktober 2017.

Sambut TOF, Hari Ini Mambo Kuliner Tasik, Buka Mulai Pagi Hingga Malam Selama Dua Hari

TASIKMALAYA (wartamerdeka.net) - Mambo Kuliner Nite Tasikmalaya yang biasanya hanya dilaksanakan satu minggu sekali serta buka hanya pada setiap malam sabtu saja di Jalan Mayor Utarya Kota Tasikmalaya,  kini buka selama dua hari berturut-turut pada 14-15 Oktober 2017.

Mengapa Artis Sinetron Lidya Pratiwi Sampai Terlibat Pembunuhan?

Penulis: Aris Kuncoro

Kalau ada berita yang cukup mengejutkan pada pekan lalu, terutama di bidang hukum dan kriminalitas, maka salah satunya adalah soal ditangkapnya artis sinetron Lidya Pratiwi (19) oleh aparat kepolisian karena disangka terlibat pembunuhan berencana terhadap sesama artis yang juga teman dekatnya sendiri, Naek Gonggom Hutagalung (33).

Kasus ini menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Baik menyangkut keberhasilan para petugas reserse Polres Metro Jakarta Utara dalam mengungkap kasus ini, maupun menyangkut latar belakang dan motivasi para pelaku pembunuhan ini, yang menurut pihak kepolisian, melibatkan orang-orang di sekitar keluarga Lidya Pratiwi, seperti, Vince Yusuf (ibu kandung Lidya), Tony Yusuf (paman Lidya), dan Ade Sukardi (teman Tony). Kisahnya benar-benar mirip cerita di sinetron.

Kasat Reserse Polres Jakut Komisaris Andry Wibowo mengatakan, keberhasilan pengungkapan kasus ini didapat setelah polisi menggabungkan penyelidikan elektronik, penyelidikan forensik, dan…

Produksi Minuman Keras Ilegal Merek ‘’Rajawali’’, Komisi B DPRD DKI Minta Pemerintah Tegas Menindak CV Jakarta Indonesia Makmur

JAKARTA – Keberadaan pabrik yang memproduksi minuman keras (miras) illegal bermerek ‘’Rajawali’’ di bawah bendera CV Jakarta Indonesia Makmur di Jalan Kemuning Raya No 19/20 Kelurahan Cengkareng Barat, Cengkareng, Jakarta Barat telah meresahkan warga setempat. Bahkan kini sejumlah pihak mendesak agar perusahaan tersebut segera ditutup.

CV Jakarta Indonesia Makmur menurut sejumlah sumber pemiliknya bernama Pieter ini telah memproduksi minuman keras dengan kapasitas lumayan besar, bahkan mencapai ribuan botol setiap hari.

Pabrik miras bermerek ‘’Rajawali” ini tadinya diproduksi di bawah ‘’bendera’’ CV Jakarta. Namun, terhitung mulai tanggal 16 Nopember 2009, CV Jakarta ditutup dan berganti nama badan hukumnya menjadi CV Jakarta Indonesia Makmur dengan logo yang sama persis dimiliki oleh CV Jakarta dengan alamat yang sama pula.


CV Jakarta sendiri telah dilarang memproduksi minuman keras merek ‘’Rajawali’’ karena telah menggelapkan pajak cukai sekitar Rp 5 miliar. CV Jakarta seharusny…

SMA N 9 Kota Bekasi Sukses Gelar Kompetisi Olahraga NSC

BEKASI (wartamerdeka) - Kegiatan kompetisi olahraga bertajuk  Niners Sport Competition (NSC) yang ke 4 tahun 2017 sukses digelar SMAN 9 Kota Bekasi.