Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Presiden Jokowi Serahkan 2.700 Sertifikat di NTB

Presiden Jokowi menyerahkan sertifikat kepada perwakilan masyarakat di lapangan Masjid Nurul Bilad, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kab. Lombok Tengah, NTB, Jumat (20/10) pagi. 

MANDALIKA (wartamerdeka) - Mengawali hari kedua kunjungan kerjanya di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Presiden Joko Widodo (Jokowi) membagikan langsung 27.000  sertifikat tanah untuk rakyat se Pulau Lombok di lapangan Masjid Nurul Bilad, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kab. Lombok Tengah, NTB, Jumat (20/10) pagi.


Dalam sambutannya Presiden Jokowi mengemukakan, setiap pergi ke daerah ke desa, ke kampung, dirinya selalu yang dikeluhkan adalah sengketa tanah. Oleh sebab itu, menurut Presiden, di seluruh Indonesia tahun ini pemerintah akan mengeluarkan 5 juta sertifikat yang akan diterima masyarakat.

“Biasanya hanya 400 ribu, tahun depan saya berikan target pada Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala BPN 7 juta sertifikat. Tahun depannya lagi 9 juta sertifikat,” kata Presiden.

Untuk NTB, Presiden Jokowi mengutip laporan Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi, bahwa dari 1.600.060 sertifikat yang harus diterbitkan baru 870.000 yang dipegang masyarakat.

Ia memegang pernyataan Menteri ATR/Kepala BPN, bahwa pada tahun 2022 seluruh masyarakat NTB sudah akan memegang sertfikat dimaksud.

Kepala Negara mengingatkan, bahwa sertifikat adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang dimiliki. Dengan demikian, kalau sudah memegang sertifikat enak. Sengketa tanah terjadi, karena kita tidak memiliki sertifikat.

“Ada orang mengklaim kita tidak ada sertifikat akhirnya berantem, dimana-mana, di Jawa, di Kalimantan, Sumatera seperti itu. Oleh sebab itu, saya perintahkan pada Menteri ATR/Kepala BPN agar memberikan secepat-cepatnya sertifikat untuk rakyat dengan dianggarkan di APBN,” ungkap Presiden Jokowi seraya menambahkan, kalau targetnya tidak tercapai menterinya bisa diganti.

Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Sofyan Jalil, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama