Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

TNI Bersama ITB Dirikan Bangunan Serbaguna Untuk Pengungsi di Palu


 PALU (wartamerdeka.info) -  Sebanyak 48 prajurit TNI dari Batalyon Infanteri 714/Sintuwu Maroso dipimpin Mayor Inf Arianto Maskare S. yang tergabung dalam Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) Penanggulangan Bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi Kota Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah, bekerja sama dengan Tim Arsitektur Institut Teknolagi Bandung (ITB) bahu membahu dirikan tenda serbaguna di lokasi pengungsian Petobo, Kota Palu, Minggu (21/10/2018).

Pembangunan tenda serbaguna yang dilakukan oleh prajurit TNI dan ITB ini diperuntukan sebagai wadah kegiatan warga disekitar pengungsian seperti sarana Ibadah, balai pertemuan, trauma Healing anak-anak korban bencana gempa bumi dan likuifaksi beberapa waktu yang lalu di Kota Palu, Sigi dan Donggala Sulawesi Tengah. Bangunan ini dapat menampung kurang lebih 50 orang dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan di bangunan ini.

Menurut Gilang salah satu Tim Arsitektur ITB mengatakan bahwa kedatangannya di tempat ini untuk menyumbang dalam bentuk bangunan dari rekan-rekan Mahasiswa, Dosen dan beberapa donatur dari luar ITB dalam bentuk bangunan Resiprokal Tanel.

“Resiprokal Tanel semacam bangunan serbaguna yang bisa digunakan sebagai wadah atau sarana bagi para pengungsi di tempat ini,” katanya.

Lebih lanjut Gilang mengatakan bahwa untuk membuat bangunan ini, Tim Arsitektur ITB menggunakan bambu sebagai bahan utamanya, dimana bambu selain kuat juga mudah didapat. “Bangunan ini dapat bertahan sampai dengan 6 bulan kedepan untuk dapat digunakan disesuaikan dengan situasi dan kondisi pengungsian di daerah Petobo,” ujarnya.

“Selain bekerja sama dengan TNI, kami juga bekerja sama dengan mahasiswa Universitas Tadulako untuk membuat bangunan seperti ini di tempat lain. Kami berharap dapat terus bekerja sama dengan TNI untk membangun fasilitas seperti ini di tempat lain,” tandasnya.(AR)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama