Ramadan Hampir Pergi, Tapi Dosa Belum Pamit (26)


Oleh : Kamaruddin Hasan

Ramadan itu seperti tamu agung yang datang hanya setahun sekali. Kita menyambutnya dengan penuh suka cita. Masjid ramai, mushaf kembali dibuka, doa-doa dilantunkan dengan nada yang lebih lembut dari biasanya. Bahkan orang yang sepanjang tahun sulit bangun subuh, tiba-tiba bisa bangun pukul tiga pagi hanya untuk sahur.

Ramadan memang punya kekuatan magis. Ia mampu membuat manusia yang biasa saja menjadi sedikit lebih saleh.
Namun seperti semua tamu mulia, Ramadan juga punya jadwal pulang. Dan setiap tahun, kepulangannya selalu meninggalkan satu pertanyaan yang agak menggelitik:
Ramadannya sudah siap pamit, tapi dosanya sudah ikut pergi atau belum?
Ini pertanyaan yang agak tidak nyaman, tapi perlu ditanyakan.
Sebab sering kali yang pergi hanya kalender Ramadan. Sementara kebiasaan lama masih duduk santai di ruang hati, seperti tamu yang tidak tahu diri.
Kita rajin tarawih sebulan penuh.
Tapi setelah Ramadan, masjid kembali sepi seperti perpustakaan di musim liburan.
Kita khatam Al-Qur’an dua atau tiga kali.
Tapi setelah Syawal, mushaf kembali disimpan rapi… bersama niat baik yang ikut dilipat.
Kita menahan lapar dan haus dengan sangat disiplin.
Tapi setelah Idulfitri, yang kembali kita lepas justru bukan hanya rasa lapar, tapi juga kesabaran.
Seolah-olah Ramadan hanyalah proyek spiritual temporer. Ada masa aktifnya, ada masa cutinya.
Padahal jika direnungkan, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah sekolah karakter yang berlangsung selama tiga puluh hari.
Puasa mengajarkan kita mengendalikan diri.
Tarawih melatih kita bertahan dalam kebaikan.
Tadarus melatih kita mendengar kembali suara wahyu.
Sedekah melatih kita peduli pada sesama.
Dengan kata lain, Ramadan adalah semacam bootcamp spiritual. 
Bayangkan seseorang ikut pelatihan militer selama sebulan. Ia bangun pagi, latihan fisik, disiplin tinggi, dan makan teratur. Tapi begitu pelatihan selesai, ia langsung kembali hidup berantakan: bangun siang, malas bergerak, dan lupa semua latihan.
Tentu pelatihnya akan menggelengkan kepala.
Begitu juga dengan Ramadan. Tujuannya bukan hanya membuat kita saleh selama sebulan, tapi menjadikan kita manusia baru setelahnya. 
Persoalannya, manusia memang makhluk yang unik. Kita sangat pandai menyambut tamu, tapi sering lupa menjaga pesan yang dibawanya.
Ramadan datang membawa pesan besar: bersihkan hati.
Namun kadang kita hanya sibuk meramaikan suasana.
Masjid penuh, tapi hati masih penuh iri.
Mulut sibuk berzikir, tapi jari tetap lincah menyebar gosip di grup WhatsApp.
Doa panjang dipanjatkan, tapi ego masih berdiri tegak seperti tiang listrik.
Akhirnya yang berubah hanya jadwal makan. Bukan cara hidup.
Padahal ukuran keberhasilan Ramadan sebenarnya sangat sederhana: apakah dosa mulai merasa tidak nyaman tinggal di dalam diri kita. 
Jika setelah Ramadan kita masih mudah marah, masih ringan menyakiti orang lain, masih gemar memelihara kebencian, mungkin yang berubah hanya jam biologis kita bukan hati kita.
Ramadan seharusnya membuat dosa merasa seperti penyewa rumah yang kontraknya tidak diperpanjang.
Ia mulai berkemas.
Ia mulai mencari alamat baru.
Namun kalau dosa masih betah, mungkin karena kita diam-diam masih menyediakan kamar untuknya.
Di sinilah pentingnya muhasabah di akhir Ramadan. Bukan sekadar menghitung berapa kali kita khatam, atau berapa rakaat tarawih yang kita jalani. Tapi bertanya lebih jujur:
Apakah hati saya lebih lembut dari bulan lalu?
Apakah saya lebih sabar menghadapi orang lain?
Apakah saya lebih ringan memaafkan?
Jika jawabannya “ya”, berarti Ramadan bekerja dengan baik.
Tapi jika tidak ada perubahan, mungkin kita hanya menjalani Ramadan secara administratif: hadir, mengikuti jadwal, lalu pulang tanpa membawa pelajaran.
Padahal Ramadan adalah semacam “bengkel hati” Tempat manusia memperbaiki kerusakan batin yang terjadi selama sebelas bulan.
Sayangnya, kadang kita datang ke bengkel hanya untuk duduk di ruang tunggu, bukan benar-benar memperbaiki mesin.
Kini Ramadan hampir pergi. Langkahnya sudah pelan-pelan menjauh dari kalender kita. Takbir sebentar lagi akan menggema. Ketupat sudah mulai dipesan. Baju baru sudah disiapkan.
Namun ada satu hal yang lebih penting untuk dipastikan sebelum Ramadan benar-benar pamit:
apakah dosa juga sudah ikut angkat koper.
Kalau belum, mungkin kita perlu berbicara serius dengan diri sendiri malam ini.
Sebab akan sangat ironis jika Ramadan pulang membawa pahala… tapi kita tetap tinggal bersama kebiasaan lama.
Dan jangan-jangan, ketika Ramadan menoleh untuk terakhir kalinya, ia hanya ingin bertanya dengan lembut:
Aku sudah datang sebulan penuh. Tapi sebenarnya, apa yang berubah dalam dirimu.

Redaktur

No Comment

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama