Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Fahmi Peternak Sukses, Perlakukan Domba dengan Penuh Kasih Sayang

Fahmi Ismail, 52 tahun, peternak sukses di desanya yang menjadi rujukan para peternak lain. (Foto: Drianto Martono/wartamerdeka.info)

CIANJUR (wartamerdeka.info) - Bila ke Desa Babakan Cisarua, Cipanas, Cianjur, nama Fahmi Ismail, 52 tahun, sudah tidak asing lagi karena menjadi rujukan yang selalu dicari para peternak Domba Garut pemula dan juga sebagai orang yang menjadi contoh dalam urusan peternakan. 

"Saya sudah berternak Domba Garut sekitar 32 tahun, meneruskan dan mengikuti jejak ayah yang sudah turun-temurun dan masih bertahan sampai sekarang," katanya menjelaskan kepada wartamerdeka.info di rumahnya yang asri, Kamis (25/6/2026) lalu.


Di tangan Fahmi, Domba Garut tidak lagi sekadar hewan kegemaran atau hobi dan budaya saja, tetapi sudah menjadi komoditas agribisnis yang nilai jualnya sangat tinggi.

Melihat sejarah dan latar belakang Domba Garut atau Domba Priangan, awalnya adalah hasil persilangan tiga ras di era kolonial Belanda tahun 1850-1900, yaitu Domba Lokal Jawa x Merino Afrika Selatan x Kaapstad. 

Ternyata hasil persilangannya sangat unik, postur tubuh dombanya sedang, bulunya keriting tebal, dan tanduknya jantan melingkar simetris dengan insting ngadu alami untuk beradu tanding dengan jantan lainnya. Maka Kementan RI mengesahkannya sebagai Rumpun Ternak Lokal dengan SK No. 1051/Kpts/SR.120/10/2014. 

Untuk domba Garut tipe Dwi-guna, berat standarnya yang jantan sekitar 40-70 kg, sedangkan yang betina 25-40 kg. Keunggulannya, 2-3 ekor anak untuk sekali lahir, bisa beradaptasi sesuai kondisi lingkungan setempat, termasuk adaptif di lahan sempit dan tahan terhadap penyakit tropis.

Bila melihat ciri pejantannya yang unggul, tanduknya melingkar sempurna, dada lebar, bulu tebal. Domba unggul pejantan "Sang Jawara" harganya sangat fantastis, bisa mencapai Rp15 - Rp150 juta per ekor.

Data yang diperoleh dari Ditjen PKH 2023, populasi domba secara nasional >1,2 juta ekor yang berpusat utamanya di Garut 30%, 70% tersebar  di Tasikmalaya, Ciamis, Bandung, dan Sukabumi.

Sementara itu domba Garut memiliki empat fungsi secara ekonomi, diantaranya Domba Garut Pedaging yang tidak prengus kuat, harganya Rp120 - Rp140 ribu per kg. Dalam hal kejantanannya, domba Garut biasa digunakan untuk acara pertandingan adu domba, selain ajang silaturahmi warga peternak juga berfungsi sebagai seleksi genetik domba Garut yang efektif.

"Bila Domba Garut Adu yang "Menang adu" dan menjadi jawara di ajang "adu domba", otomatis harganya naik melambung tinggi secara fantastik, yang harganya sesuai kesepakatan," ujar Fahmi menjelaskan.

Domba juga dikenal masyarakat untuk acara Aqiqah atau binatang kurban. Biasanya sebelum Idul Adha bila domba dalam kondisi, postur gagah, kuat, sehat, dan bersih menjadi primadona masyarakat untuk berkurban.

Tidak itu saja, Domba Garut juga ternyata untuk pariwisata, jadi ajang Agrowisata farm event memperagakan "ngadu domba" yang menarik para wisatawan khususnya penggemar "Adu Domba".

Rupanya tidak mudah beternak domba Garut, tantangannya kondisi genetik aslinya kurang berkembang dengan pesat karena beberapa hal seperti kawin silang dengan jenis domba yang lain, lahan rumput hijau yang saat ini sudah berkurang karena alih fungsi seperti menjadi area perkebunan, pesawahan, dan pemukiman, termasuk gedung perkantoran. Pemasarannya masih konvensional di era digitalisasi saat ini.

Biasanya Domba Garut yang produktif, baik yang jantan atau betina, akan menjadi modal utama dan bisa menjadi mesin pendulang uang, satu induk yang bagus dan produktif bisa tiga kali beranak dalam jangka waktu dua tahun.

Tentunya harus serius dalam pengelolaannya untuk mengurus dan memelihara yang reproduksi dengan menjalaninya yang baik dan benar sesuai prosedur.

Melihat sistem di kandang, Fahmi yang selama ini sudah 32 tahun bergelut di peternakan memegang prinsip kandang harus rapih, bersih teanitasi yang baik, agar Domba Garut merasa nyaman, aman dan sehat.

Merujuk pada prosedur beternak domba agar bernilai tinggi, gunakan kandang yang baik dalam model panggung yang tingginya 1,2 m² per ekor. Selain itu, sirkulasi udara harus baik dan lancar untuk mencegah datangnya penyakit, khususnya pneumonia.

"Kandang kering itu vaksin termurah," kata Fahmi, menjelaskan karena walaupun kotoran jatuh, lantai tetap masih kering, bersih, tidak berbau dan domba tetap sehat.

Fahmi menjelaskan soal pakan ternak, rumusnya 70:30 (70% hijauan dan 30% konsentrat protein /14-16% dari fermentasi ampas tahu). Selain itu domba juga perlu diperhatikan kesehatannya, dengan wajib Vaksin dua kali dalam setahun, pencegahan cacing setiap tiga bulan dan dianjurkan melibatkan mantri dari Puskeswan setempat.

Fahmi Ismail yang telah 32 tahun berternak domba memberikan kiatnya dalam berbisnis. "Karena domba mahluk hidup, harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang, rajin dan penuh dengan dedikasi. Yang tidak kalah penting makanan, minuman, obat-obatan, kebersihan kandang, sanitasi harus diperhatikan dengan seksama. Bila menyayangi domba dengan tulus, insya Allah rezeki juga ikut lancar hehehe," ujar Fahmi.

Sebelum mengakhiri diskusinya dengan wartamerdeka.info, Fahmi menjelaskan, bila mungkin jangan beternak dengan cara biasa atau konvensional seperti saat jaman lama, lebih baik memadukan kearifan lokal dengan ilmu manajemen modern yang sudah lebih maju (Drianto Martono)

Sumber referensi Kementan RI (Kementerian Pertanian) tahun  2014., BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2023., PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia), Ditjen PKH ( Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama