Catatan, Syamsu Marlin
Aula Sekolah Rakyat Terintegrasi (STR) I Barru mendadak hening. Ratusan pasang mata tertuju ke atas panggung ketika tiga siswa melangkah bergantian. Tak ada kemewahan, hanya sebuah panggung sederhana yang menjadi saksi lahirnya harapan baru.
Satu per satu mereka menyampaikan pidato dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab dengan suara lantang dan penuh keyakinan pada pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) STR I Barru di Aula STR I Barru, di Lawallu, Desa Lawallu, Kecamatan Soppeng Riaja, Jumat (31/7/2026).
Setiap kalimat yang terucap seolah menjadi jawaban atas keraguan bahwa keterbatasan dapat menghalangi masa depan. Tepuk tangan panjang bergemuruh, disusul decak kagum dari ratusan tamu undangan dan para orang tua yang menyaksikan anak-anak mereka tampil begitu percaya diri.
Suasana semakin menggetarkan ketika kelompok paduan suara melantunkan lagu dengan penuh penghayatan. Alunan suara mereka memenuhi ruangan, menghadirkan suasana yang membuat banyak hadirin larut dalam rasa syukur dan haru.
Di deretan kursi tamu, Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si. dan Wakil Bupati Barru Dr. Ir. Abustan A. Bintang, M. Si dan tamu undangan lainnya tampak berkaca-kaca. Perlahan, air mata haru mengalir di wajah keduanya.
Yang mereka saksikan bukan sekadar tiga siswa yang mampu berpidato dalam tiga bahasa atau lantunan lagu yang menyentuh hati. Di hadapan mereka berdiri anak-anak yang menjadi bukti bahwa Sekolah Rakyat telah menghadirkan harapan baru bagi keluarga yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
Bagi banyak orang tua, 'mungkin' memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja merupakan perjuangan yang tidak mudah. Dalam kondisi seperti itu, pendidikan yang berkualitas sering kali terasa sebagai impian yang sulit dijangkau.
Namun kini, melalui Sekolah Rakyat, negara hadir memastikan bahwa kemiskinan tidak lagi menjadi alasan seorang anak kehilangan kesempatan untuk belajar, berkembang, dan menggapai cita-citanya.
Mungkin itulah yang membuat air mata haru dan bahagia tak terbendung. Bupati dan Wakil Bupati dan tamu undangan lainnya melihat sendiri bagaimana kesempatan mampu mengubah masa depan. Anak-anak yang lahir dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi kini berdiri tegak di atas panggung, berbicara dalam tiga bahasa dengan penuh percaya diri.
Sebuah pemandangan yang menegaskan bahwa potensi tidak pernah ditentukan oleh keadaan, melainkan oleh kesempatan yang diberikan.
Hari itu, Sekolah Rakyat Barru dengan gedung megah dengan segala fasilitasnya membuktikan dirinya bukan sekadar tempat belajar. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan mimpi dengan kenyataan, memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan, serta menghadirkan harapan bahwa setiap anak Indonesia, tanpa memandang latar belakang keluarganya, memiliki hak dan peluang yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Pembukaan MPLS tersebut sekaligus menandai dimulainya operasional Sekolah Rakyat Terintegrasi (STR) I Barru, yang diresmikan oleh Menteri Sosial Republik Indonesia H. Syaifullah Yusuf secara virtual melalui Zoom.
Bagi Barru, hari itu bukan sekadar peresmian sebuah sekolah, melainkan awal dari lahirnya harapan-harapan baru yang akan tumbuh bersama anak-anak yang kini memiliki kesempatan mengubah masa depan melalui pendidikan.(*)

.jpeg)