Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Agustinus, SMPN 9 Tambun Selatan Penderita Gagal Jantung, Butuh Bantuan

BEKASI-Agustinus Sihotang (14) penderita gagal jantung dan rematik, kini membutuhkan bantuan lanjutan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi maupun uluran tangan para donatur. Setelah, sebelumnya gagal menjalani operasi yang dilakukan tim dokter Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Jawa Barat.  

Keselamatan jiwa Agustinus, putra pertama dari pasangan Haryati Naenggolan (38) dan Holowan Sihotang (41), menunggu datangnya bantuan dari pemerintah daerah untuk segera dilakukan operasi pertamanya. 

Keterbatasan biaya operasi menjadi hambatan keluarga kurang mampu ini. Adapun biaya yang harus dikeluarkannya sebesar Rp 50 juta. 

Agustinus, warga Kampung Jatimulya Rt 07/Rw 07, Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan, sejak usia lahir telah mengindap jantung bocor serta rematik. Keluarga pun baru mengetahuinya, ketika anaknya berusia 14 tahun. Pasalnya, Ibunda dari siswa kelas III, SMPN 9 Tambun Selatan ini tidak pernah memperhatikan sebelumnya. 

"Sejak enam bulan yang lalu, Agustinus mulai terlihat penyakitnya. Dia mulai ngedrop pada 30 Agustus 2010. Hanya beberapa minggu Agustinus menjalani perawatan di rumah sakit umum Bekasi. Karena, kurangnya peralatan rumah sakit, dia dirujuk ke rumah sakit Hasan Sadikin Bandung," tutur Ibunda Agustinus kepada wartamerdeka.com

Di RS Hasan Sadikin, lanjut Haryati, hanya menjalani perawatan selama dua minggu, sebab jaminan surat tidak mampu (jamkesmas) terbatas untuk biaya operasi. "Saya harus ada biaya operasi sebesar Rp 50 juta, itupun sudah dikurangi dari setengahnya sebesar Rp 150 juta," terang Ibu rumah tangga ini.  

Lebih lanjut, Haryati menambahkan perhatian pemerintah daerah hanya sebatas kunjungan saja. Keluarga meminta, agar dikawal sampai operasi berlangsung. "Beberapa waktu lalu, pihak Kecamatan, puskesmas dan dinas kesehatan sudah berkunjung kerumah menjenguk Agustinus," kata Haryati, seraya  berharap, nantinya bisa segera dioperasi secepatnya dengan bantuan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi," pintanya. 

Diketahui, Agustinus masih menjalani perawatan biasa di rumah Orangtuanya. Sejak menjalani perawatan di RS Hasan Sadikin Bandung, Jawa Barat, aktivitas sekolah terhenti selama tiga bulan terakhir ini. 

"Kami berharap, Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi merekomendasikan biaya sebesar Rp 50 juta dan ditindaklanjuti pelaksanaan operasi dari keluarga Sihotang," ujar Jonly Nahampun, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pemerintah Daerah (LP3D) Bekasi, yang juga mengawal keluarga korban. (dha)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama