Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Pengusaha UKM Makanan Olahan Ada Yang Terpaksa Tolak Order Ekspor

JAKARTA-Memasuki hari keempat Pameran Pangan Nusa ke-5 tahun 2010 yang disandingkan dengan Trade Expo Indonesia ke-25, sejumlah usaha kecil dan menengah yang memproduksi makanan olahan dalam kemasan makin banyak mendapat pesanan dari buyer. Pada hari ke empat, tanggal 16 Oktober 2010 jumlah transaksi di stand Pameran Pangan Nusa mencapai Rp 174.200.000 dengan jumlah pengunjung mencapai 3.392 orang.

Hal ini diungkapkan  penanggungjawab pameran Pangan Nusa ke-5 Agus Purwanto yang didampingi stafnya, Haryanto kepada wartawan Journal TEI 2010, Sabtu (16/10).

Pada hari keempat, giliran produk abon ikan patin yang kebanjiran order. Namun, ada kejadian cukup unik di sini.  “Stand yang memproduksi abon ikan patin, kemarin  mendapat pesanan order sebanyak tiga  kontainer dari buyers asing. Tapi UKM tersebut haya menyanggupi satu container karena keterbatasan modal,”ujar Agus.

Menurut Agus, memang kelemahan di stand Pameran Pangan Nusa yang pesertanya adalah pengusaha UKM yang sama sekali tak pernah punya pengalaman ekspor, adalah saat kebanjiran order untuk eskspor justru pengusahanya malah kewalahan untuk memenuhi permintaan. Kelemahan lainnya adalah soal packaging.

Selain abon ikan patin, uajr Agus lagi,  produk ikan balit dan ikan petek juga menerima pesanan satu container senilai sekitar Rp 200 juta. Namun mengingat cara pengiriman eskpor belum paham, pihak pengusaha UKM meminta pembelian dilakukan di Jakarta. (AR)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama