Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Warga Minta Bupati Menutup Galian C Tanah Merah. Di Kampung Cikalong Desa Jabong

SUBANG- Sejak adanya kegiatan usaha pertambangan galian c  tanah merah oleh perusahaan  an H. RD, jalan raya di wilayah Desa Jabong   menjadi rusak parah karena hilir mudiknya truk pengangkut tanah. Lingkungan pun rusak. Debu kotor beterbangan sehingga warga riskan dengan penyakit pernapasan. Demikian dikatakan oleh Warma  Paley, Ketua BPD Desa Jabong,  Selasa (9/11)

 

  

Dijelaskan Warma Paley, selama aktivitas penambangan galian c ituPemerintah Daerah Kabupaten dan dinas instansi terkait  terkesan tutup mata. Padahal  izinnya belum keluar dari kepala daerah untuk perusaahan H. RD itu.

 

”Kenapa Dinas instasi terkait  tidak mendengar  keluhan warga kampung Cikalong Desa Jabong,” tegas  ketua BPD desa Jabong itu.

 

 Di tempat terpisah Talam Kopral selaku   tokoh masyarakat Desa Jabong  menuntut Bupati Subang untuk segera menutup kegiatan usaha pertamabangan di daerahnya itu.

 

Menurutnya,  semula masyarakat mendukung  mendukung adanya kegiatan penambangn galian c tanah merah itu. Karena berharap dengan kegiatan itu   dapat kesejahteraan dari pengusaha  Tetapi, ternyata bukan kesejateraan yang didapat malah tidak  dipedulikan sama sekali oleh perusahaan itu, bahkan lingkungan   pun rusak dengan  adanya kegiatan penambangan galian c tanah merah itu, (ASEP/AYI)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama