Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Kalapas Pangkalan Bun Rajin Pantau Kesehatan Warga Binaan



KOBAR (wartamerdeka.info) - Kepala Lembaga Pemasyarakatan kelas IIB Pangkalan Bun, Kabupaten Kota Waringin Barat (Kobar)  Kusnan AMd IP SSos SH MH sigap memperhatikan kesehatan para warga binaannya.

Untuk menghadapi situasi panca roba dan akan munculnya bulan kemarau yang bisa menimbulkan berbagai penyakit khususnya radang tenggorokan, Kusnan memberikan  penyuluhan dan deteksi dini terhadap para Narapidana.

Hal ini dilakukan di masing masing blok ruang tahanan.

"Kwgiatan ini, di samping mengantisipasi penyakit juga menghindari dari kekumuhan di lingkungannya," ujar Kusnan kepada wartamerdeka.info, kemarin

Dari pantauan wartawan di lapangan nampak kepala Lembaga Pemasyarakatan terus pro aktip untuk mengecek kepada bawahannya agar pembinaan bisa berjalan lebih maksimal guna untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan.

Mengenai sarana prasarana terutama air dan sarana lainnya untuk  dilingkungan Lembaga Pemasyarakatan kelas II B Pangkalan Bu, tersedia dan cukup  baik.

Hanya saja pada saat ini tinggal pengawasan kesehatan warga binaan.

"Alhamdulillah, kami dibantu oleh Tim  dokter  Puskemas Kelurahan Madurejo Pangkalan Bun, sehingga untuk kesehatan bagi warga binaan cukup terbantu,"  ungkap kalapas.  (Taufik Hidayat)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama