Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Toilet yang Berkeadilan


Oleh Eli Halimah

Bagimereka yang sering bepergian, keberadaan fasilitas umum seperti toilet tentu sangat dibutuhkan. Dengan keberadaannya, pengguna mendapatkan kemudahan dan mampu memperlancar mobilitas mereka. Toilet umum juga mendukung terciptanya kebersihan yang bermuara pada kesehatan banyak orang.

Namun, pernahkah kita memerhatikan sistem antrean yang sering ditemui di sebagian besar tempat umum? Tentu saja. Semua orang yang pernah menggunakan toilet umum akan mudah menjelaskan hal tersebut.

Jika kita ingin menggunakan toilet umum, biasanya kita akan berdiri mengantre di dekat pintu bilik yang dimaksud. Karena bilik toilet umum biasanya lebih dari satu, kita harus memilih di bilik mana kita akan mengantre.

Akan tetapi, pernahkan Anda mengalami hal yang kurang menyenangkan saat mengantre di sana? Seumpama Anda menjadi orang pertama yang masuk ke toilet umum. Ternyata semua bilik toilet sedang digunakan. Anda memutuskan berdiri di dekat salah satu pintu toilet tersebut.

Ternyata pengguna  di dalamnya memakan waktu yang lama. Sementara orang-orang yang datang setelah Anda sudah bisa mengakses fasilitas ini dengan cepat. Anda tentu merasa kesal, bukan? Padahal Anda datang lebih dulu dari pada mereka.

Sistem antre semacam ini sudah berlaku hampir di semua toilet umum. Benar, bukan? Dan tidak ada seorang pengguna pun yang merasa bahwa sistem ini perlu dibenahi. Ia sudah seperti mendarah daging dan seperti tidak mungkin untuk diubah.

Rasa tidak adil saat berada di toilet umum, menurut hemat penulis bukan masalah sepele yang hanya perlu dijawab dengan, ”Ya itu sih sudah takdirmu”, ”Ya sudah sih terima saja. Memang dari dulu antre di toilet umum ya begitu” atau kalimat-kalimat lain yang semacamnya. Unsur keadilan tentu harus diterapkan dalam segala aktivitas dan semua fasilitas umum. Tidak terkecuali toilet umum.

Kabar baiknya, penulis mendapati sistem atrean di toilet umum yang mengandung nilai ”keadilan”. Siapa yang datang lebih dulu, dia juga akan memperoleh kesempatan lebih dulu dari pada pengguna yang lainnya. Sistem atrean ini sudah sering penulis temui di beberapa gedung di Jakarta dan sekitarnya, seperti perkantoran, rumah sakit, dan mall.

Apa perbedaan sistem antrean yang penulis temui, jika dibandingkan dengan sistem atrean yang lama?

Jika biasanya kita mengantre persis di depan salah satu pintu bilik toilet, dalam sistem yang berkeadilan ini pengguna mengantre di ujung bilik terakhir. Orang yang datang setelahnya, dia akan mengantre di belakang orang pertama, dan seterusnya.

Ketika salah satu bilik toilet terbuka (bilik yang manapun), pengantre pertama berhak masuk ke dalamnya dan menggunakan fasilitas tersebut. Pengantre nomor dua maju dan berada di posisi paling depan. Ketika salah satu bilik toilet terbuka, pengantre nomor dua pun mendapatkan gilirannya. Begitu seterusnya.

Sistem ini sangat tertib dan semua orang mendapatkan keadilannya masing-masing. Karena mereka memperoleh kesempatan yang sama dalam mengakses fasilitas umum ini. Tidak ada lagi rasa kesal karena merasa tersalib oleh orang yang datang belakangan tapi mendapatkan kesempatan lebih dulu.

Namun, sistem ini belum banyak diterapkan di tempat-tempat yang memiliki fasilitas toilet umum. Para penggunanya pun belum banyak yang tahu tentang sistem antre yang seperti ini.

Melalui tulisan ini, penulis berharap siapapun kita yang akan menggunakan fasilitas toilet umum, dapat menerapkan sistem seperti ini di tempat-tempat yang nanti disinggahi. Sangat mungkin akan ada perbedaan sudut pandang dari pengguna yang lain. Perbedaan ini pun bisa memicu sedikitnya ”perdebatan” dari mereka yang mungkin sulit untuk ditertibkan dan diberikan pemahaman baru.

Tidak mengapa, sesuatu yang baru memang selalu menimbulkan ”culture shock”. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, semoga para pengguna lain akan merasakan kebaikan dari sistem antre seperti ini.

Bukankah menjadi impian kita semua untuk mendapatkan rasa ”keadilan” dalam setiap aktivitas kita sehari-hari, di manapun?

 

           

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama