Bagimereka yang sering bepergian, keberadaan fasilitas umum seperti toilet tentu sangat dibutuhkan. Dengan keberadaannya, pengguna mendapatkan kemudahan dan mampu memperlancar mobilitas mereka. Toilet umum juga mendukung terciptanya kebersihan yang bermuara pada kesehatan banyak orang.
Namun,
pernahkah kita memerhatikan sistem antrean yang sering ditemui di sebagian
besar tempat umum? Tentu saja. Semua orang yang pernah menggunakan toilet umum
akan mudah menjelaskan hal tersebut.
Jika
kita ingin menggunakan toilet umum, biasanya kita akan berdiri mengantre di
dekat pintu bilik yang dimaksud. Karena bilik toilet umum biasanya lebih dari
satu, kita harus memilih di bilik mana kita akan mengantre.
Akan tetapi, pernahkan Anda mengalami hal yang kurang menyenangkan saat mengantre di sana? Seumpama Anda menjadi orang pertama yang masuk ke toilet umum. Ternyata semua bilik toilet sedang digunakan. Anda memutuskan berdiri di dekat salah satu pintu toilet tersebut.
Ternyata pengguna di dalamnya memakan waktu yang lama. Sementara orang-orang yang datang setelah Anda sudah bisa mengakses fasilitas ini dengan cepat. Anda tentu merasa kesal, bukan? Padahal Anda datang lebih dulu dari pada mereka.
Sistem
antre semacam ini sudah berlaku hampir di semua toilet umum. Benar, bukan? Dan
tidak ada seorang pengguna pun yang merasa bahwa sistem ini perlu dibenahi. Ia
sudah seperti mendarah daging dan seperti tidak mungkin untuk diubah.
Rasa
tidak adil saat berada di toilet umum, menurut hemat penulis bukan masalah
sepele yang hanya perlu dijawab dengan, ”Ya itu sih sudah takdirmu”, ”Ya sudah
sih terima saja. Memang dari dulu antre di toilet umum ya begitu” atau
kalimat-kalimat lain yang semacamnya. Unsur keadilan tentu harus diterapkan
dalam segala aktivitas dan semua fasilitas umum. Tidak terkecuali toilet umum.
Kabar
baiknya, penulis mendapati sistem atrean di toilet umum yang mengandung nilai
”keadilan”. Siapa yang datang lebih dulu, dia juga akan memperoleh kesempatan
lebih dulu dari pada pengguna yang lainnya. Sistem atrean ini sudah sering
penulis temui di beberapa gedung di Jakarta dan sekitarnya, seperti
perkantoran, rumah sakit, dan mall.
Apa
perbedaan sistem antrean yang penulis temui, jika dibandingkan dengan sistem
atrean yang lama?
Jika
biasanya kita mengantre persis di depan salah satu pintu bilik toilet, dalam
sistem yang berkeadilan ini pengguna mengantre di ujung bilik terakhir. Orang
yang datang setelahnya, dia akan mengantre di belakang orang pertama, dan
seterusnya.
Ketika
salah satu bilik toilet terbuka (bilik yang manapun), pengantre pertama berhak
masuk ke dalamnya dan menggunakan fasilitas tersebut. Pengantre nomor dua maju
dan berada di posisi paling depan. Ketika salah satu bilik toilet terbuka,
pengantre nomor dua pun mendapatkan gilirannya. Begitu seterusnya.
Sistem
ini sangat tertib dan semua orang mendapatkan keadilannya masing-masing. Karena
mereka memperoleh kesempatan yang sama dalam mengakses fasilitas umum ini.
Tidak ada lagi rasa kesal karena merasa tersalib oleh orang yang datang
belakangan tapi mendapatkan kesempatan lebih dulu.
Namun,
sistem ini belum banyak diterapkan di tempat-tempat yang memiliki fasilitas
toilet umum. Para penggunanya pun belum banyak yang tahu tentang sistem antre
yang seperti ini.
Melalui
tulisan ini, penulis berharap siapapun kita yang akan menggunakan fasilitas
toilet umum, dapat menerapkan sistem seperti ini di tempat-tempat yang nanti
disinggahi. Sangat mungkin akan ada perbedaan sudut pandang dari pengguna yang
lain. Perbedaan ini pun bisa memicu sedikitnya ”perdebatan” dari mereka yang
mungkin sulit untuk ditertibkan dan diberikan pemahaman baru.
Tidak
mengapa, sesuatu yang baru memang selalu menimbulkan ”culture shock”. Akan
tetapi seiring berjalannya waktu, semoga para pengguna lain akan merasakan
kebaikan dari sistem antre seperti ini.
Bukankah
menjadi impian kita semua untuk mendapatkan rasa ”keadilan” dalam setiap
aktivitas kita sehari-hari, di manapun?
