Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Terapkan Teknologi Pertanian, Lamongan Dongkrak Provitas Petani Jagung


LAMONGAN (wartamerdeka.info) - Tingkat provitas dan pemanfaatan teknologi yang masih rendah mendorong Pemerintah Kabupaten Lamongan untuk melakukan inovasi guna mendukung swasembada jagung di Indonesia.

Pemanfaatan teknologi terbaru sesuai agroekologi dan sosial ekonomi petani  dianggap dapat meningkatkan provitas jagung, dampaknya pendapatan petani jagung dapat meningkat. Apalagi,
tingkat provitas dan pemanfaatan teknologi yang masih rendah mendorong Pemerintah Kabupaten Lamongan melakukan inovasi guna mendukung swasembada jagung di Indonesia.

Bupati Lamongan, Fadeli, mengungkapjan ini pada presentasi dan wawancara kompetisi inovasi pelayanan publik dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang dilaksanakan secara virtual, Jum’at (10/7/2020).

Menurut bupati Fadeli, ada beberapa tahapan yang dilakukan untuk mengubah Petani  dari pertanian tradisional menjadi pertanian modern, dimulai dengan membuat kawasan percontohan budidaya jagung modern (sasaran 15 kecamatan), melakukan sosialisasi, pelatihan, publikasi, dan pendampingan kelompok tani, pengembangan kawasan percontohan, menfasilitasi penyediaan sarana produksi, menguatkan kelembagaan petani, menumbuhkan koperasi petani, membangun kemitraan dengan sumber teknologi, keuangan, sarana produksi dan produsen pakan ternak, serta melakukan monitoring dan evaluasi.

Pertanian modern, kata Fadeli  dilakukan dengan menggunakan teknologi terbaru, tanam-panen menggunakan mesin, penggunaan pupuk (insektisida dan herbisida) yang tepat dosis, serta penggunaan bibit unggul hibrida (pioneer 27, bisi 18, bisi 321) dianggap lebih efisien dalam meningkatkan keuntungan petani.

Lebih lanjut Fadeli menambahkan, jika dilihat dengan analisis usaha, biaya produksi pertanian modern (sarana produksi, tenaga kerja/sewa alat) memang relatif lebih mahal yakni Rp 15.385.000 dibanding pertanian tradisional Rp 13.450.000, namun hasil yang diperoleh juga cenderung lebih besar yakni 10.850 kg/ha untuk pertanian modern dan 6.700 kg/ha untuk pertanian tradisional. Jika dihitung pendapatan dengan harga jual Rp 3.900 per-kg, maka hasil yang diterima adalah Rp 42.315.000 untuk pertanian modern dan Rp 26.130.000 untuk tradisional.

Dengan demikian pendapatan bersih yang diperoleh petani adalah Rp 26.957.000/ha pada petani modern dan Rp 12.680.000 pada petani tradisional, jika dirasio yakni 2,7 banding 1,9.

“Biaya produksi memang naik 12.4 persen, namun hasil panen juga naik 38.2 persen, begitu juga pendapatan petani yang naik sebesar 52.9 persen,” ungkap Bupati Fadeli.

Bupati Lamongan juga mengungkapkan bahwa capaian provitas jagung meningkat setiap tahunnya setelah menggunakan pertanian secara modern, yakni mulai dari 5.8 ton/ha pada tahun 2016, 8.4 ton/ha pada tahun 2017, tahun 2018 sebesar 9.4 ton/ha, tahun 2019 9.5 ton/ha, dan meningkat menjadi 9,7 ton/ha pada tahun 2020 (Juni).(Mas)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama