// Setelah gempa melanda Jepang utara, peringatan tsunami dikeluarkan lalu kemudian dicabut, namun masyarakat di berbagai wilayah harus tetap waspada terhadap potensi gempa mega. // Harga minyak mentah Brent melonjak naik lebih dari 7 persen karena Washington dan Teheran memberikan keterangan yang bertentangan mengenai negosiasi gencatan senjata. // China sejauh ini telah berhasil melewati krisis minyak bersejarah. Namun, saat Xi bersiap bertemu Trump, biaya mulai meningkat. // Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengkritik komentar Trump tentang Paus Leo XIV //

Pineapple

Jepang memperingatkan potensi gempa dahsyat setelah gempa berkekuatan 7,7 melanda.


Para pejabat Jepang telah mengeluarkan peringatan setelah gempa berkekuatan 7,7 melanda wilayah timur laut negara itu pada tanggal 20 April. Mereka memperingatkan bahwa gempa dahsyat dapat terjadi dalam seminggu ke depan dan menyerukan agar masyarakat tetap bersiap menghadapi peristiwa seismik besar lainnya.

IPW: Polri Perlu Klarifikasi Kasus Polisi Pukul Polisi Dalam Aksi Demo Mahasiswa

Neta S Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) 

JAKARTA (wartamerdeka.info) - Neta S Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) minta Polda Jambi  menjelaskan secara transparan kasus video viral dimana seorang perwira polisi sedang dipukuli sejumlah polisi Anti huru hara dalam aksi demo mahasiswa menolak UU Ciptaker.

"IPW menilai, Polri perlu mengklarifikasi peristiwa ini. Sebab bagaimana pun peristiwa ini sebuah peristiwa yang sangat memalukan bagi Polda Jambi dan sekaligus menggambarkan betapa buruknya koordinasi Polda Jambi dalam menangani aksi demo mahasiswa menolak UU Ciptaker," ujar Neta S Pane dalam siaran persnya hari ini.

Akibat buruknya kordinasi ini di lokasi demo yang terjadi justru aksi baku hantam sesama polisi. Bukan hanya itu publik juga melihat dengan jelas, seorang polisi Anti huru hara jatuh terjengkang setelah ditendang polisi berpakaian preman. 

Jika dilihat dari kronologinya, perwira polisi itu menyusup ke barisan mahasiswa yang sedang berdemo. Dia memakai jaket mahasiswa. Saat terjadi kericuhan sejumlah polisi berpakaian preman terlihat menangkapnya dan lalu memitingnya serta sebagian memukulinya. Bahkan ada pula sejumlah pasukan anti huru hara ikut memukulinya. Akibatnya polisi yang menyusup itu babak belur. 

Melihat hal ini teman-teman polisi yang menyusup itu yang juga adalah polisi berpakaian preman langsung berdatangan untuk menyelamatkan perwira yang menyusup tersebut. Akhirnya baku hantam sesama polisi di tengah aksi demo pun tak terhindarkan. Bagaimana pun peristiwa ini tidak hanya memalukan Polda Jambi tapi juga memalukan institusi kepolisian. 

Di TKP para demonstran menertawakan peristiwa ini. Begitu juga di medsos banyak yang menertawakan peristiwa ini.

"Kasus baku hantam antar polisi di tengah aksi demo mahasiswa ini terjadi akibat tidak adanya koordinasi yang baik sesama aparatur kepolisian di lapangan," tambah Neta.

Selain itu tidak ada petugas yang mengawal perwira penyusup, sehingga ketika yang bersangkutan ditangkap polisi yang lain, tidak ada yang menjelaskan bahwa yang bersangkuta sedang melakukan penyusupan. Akibatnya yang bersangkutan babak belur dipukuli dan terjadi bakuhantam antar polisi. 

Aksi penyusupan adalah hal biasa dalam strategi kepolisian untuk melakukan cipta kondisi, terutama dalam mengatasi aksi demo. Namun jika aksi penyusupan itu tidak terkoordinasi dengan baik, kekonyolan yang memalukan pun akan terjadi. 

"Bukan hanya si penyusup yang babak belur tapi sesama polisi bisa baku hantam di TKP, seperti di Jambi. Kasus ini harus menjadi pelajaran bagi polri. Jika tidak, mahasiswa yang demo akan kembali disuguhkan pertunjukkan sesama polisi baku hantam di lokasi demonstrasi," pungkas Neta. (A)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama