Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Bamsoet Dukung Karya Cineas Muda Indonesia Tentang Antariksa V

BALI (wartamerdeka.info) - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendukung setiap usaha kreatif anak bangsa. Seperti ditunjukan cineas muda Gusti Handoko melalui Vektor Pictures, yang sedang menggarap film Antariksa V. Berkisah tentang usaha Indonesia pada dekade 2030an dalam membuktikan dirinya sebagai negara maju dengan proyek teknologi yang paling ambisius dan berisiko, yakni program eksplorasi ruang angkasa Antariksa. 

"Film mengisahkan usaha pengiriman astronot Indonesia pertama, Alice, ke luar angkasa dan mendaratkannya ke Bulan. Namun semuanya tidak berjalan lancar. Alice hilang saat melakukan pendaratan di bulan bersama misi Antariksa IV, yang membuat program Antariksa dipertanyakan kelayakan dan tujuannya," ujar Bamsoet saat mendatangi studio pembuatan film Antariksa V, di Bali, Senin (10/5/2021).

Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan, Alice dikisahkan sebagai single mother yang meninggalkan anak tunggalnya di Bumi. Oleh sebagian kalangan, ia dianggap sebagai pahlawan. Namun bagi sebagian kalangan lainnya, proyek Antariksa dianggap pemborosan. Rekan-rekan astronot Alice, seperti Rendra, Gita, dan Surya pun berusaha memperjuangkan agar misi Antariksa V dapat dilanjutkan, tidak hanya untuk menyelesaikan misi Antariksa IV tapi juga untuk mencari tahu alasan pasti hilangnya Alice. 

"Film ini menekankan, bahwa setiap program eksplorasi pasti memiliki risiko, dan tidak setiap pencapaian dapat dinilai dengan uang," jelas Bamsoet. 

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini menerangkan, pemilihan astronot sebagai personifikasi superhero merupakan simbol yang paling tepat. Di dunia nyata, Indonesia pernah memiliki dua orang astronot, Pratiwi Sudarmono dan Taufik Akbar. Keduanya gagal berangkat karena insiden pesawat ulang alik Challenger di tahun 1986 dan krisis moneter yang melanda sehingga mereka harus kembali lagi ke Indonesia karena keterbatasan dana. 

"Hingga hari ini, Indonesia masih belum kembali menyentuh mimpi yang sama untuk melahirkan astronot. Melalui film Antariksa V, kita harap bisa menggugah kesadaran semua pihak, khususnya untuk memotivasi generasi muda, sehingga mimpi besar Indonesia memiliki astronot bisa segera terwujud," pungkas Bamsoet. (A)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama