TikTok YouTube Instagram Twitter WhatApp

Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Andi Ina Kartika Sari, Semangat Kartini yang Tak Pernah Padam


Oleh: Syam M. Djafar 

Setiap 21 April, nama R.A. Kartini kembali kita sebut dengan penuh hormat. Namun, peringatan Hari Kartini bukan sekadar mengenang sosok perempuan pelopor emansipasi, melainkan juga menjadi cermin: sejauh mana semangatnya hidup dalam diri perempuan Indonesia hari ini?

Bagi Bupati Barru, Sulawesi Selatan, Andi Ina Kartika Sari, Kartini masa kini adalah perempuan yang tak lagi menunggu ruang, tetapi berani mengambil peran di dalamnya. Di era yang serba terbuka ini, perempuan dituntut untuk semakin kuat, tangguh, dan pantang menyerah, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk memberi kontribusi nyata dalam pembangunan.

“Perempuan Kartini di era ini harus semakin kuat dan pantang menyerah untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan di lini manapun. Dengan begitu, kita telah memberikan penghargaan kepada sosok R.A. Kartini yang pada masanya telah berjuang agar perempuan punya kesempatan untuk maju dan berkembang,” ungkap Andi Ina.

Pernyataan itu bukan tanpa makna. Hari ini, perempuan hadir di berbagai sektor, pemerintahan, pendidikan, ekonomi, hingga ruang-ruang sosial yang dulu terasa jauh dari jangkauan. 

Mereka bukan lagi pelengkap, melainkan penggerak. Dari desa hingga pusat kota, dari ruang kelas hingga ruang kebijakan, jejak perempuan semakin nyata dan menentukan arah perubahan.

Namun, perjalanan itu belum sepenuhnya selesai. Tantangan masih ada—stereotip, keterbatasan akses, hingga beban ganda yang kerap dipikul perempuan. Di sinilah semangat Kartini menemukan relevansinya: bahwa perjuangan bukan hanya tentang membuka pintu, tetapi juga memastikan pintu itu tetap terbuka bagi generasi berikutnya.

Kartini telah menyalakan api itu lebih dari seabad lalu. Kini, api itu berada di tangan perempuan-perempuan masa kini yang memilih untuk terus melangkah, meski jalan tak selalu mudah. Mereka yang berani bermimpi, bekerja, dan berdiri sejajar, tanpa kehilangan jati diri.

Hari Kartini yang kita selalu peringati setiap tahun bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengingat bahwa setiap langkah perempuan dalam berkarya dan berdaya adalah bentuk penghormatan paling nyata bagi Kartini.

Dan hari ini, di Barru dan di seluruh penjuru negeri, Kartini itu hidup dalam sosok perempuan yang tak pernah berhenti berjuang.(Syam M. Djafar)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama