JAKARTA (wartamerdeka.info)
Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan dimulainya blokade militer terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara laporan mengatakan AS dan Iran sedang membahas kemungkinan putaran kedua pembicaraan tatap muka.
Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin, bahwa blokade dimulai pukul 10 pagi waktu setempat.
Komando Pusat AS mengatakan akan memblokir semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan atau daerah pesisir Iran, termasuk di sepanjang Teluk Persia dan Teluk Oman.
Ditambahkan bahwa pasukan CENTCOM tidak akan menghalangi kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz ke dan dari pelabuhan non-Iran.
Sementara Iran bereaksi keras, melalui media pemerintah menyiarkan pernyataan juru bicara kementerian pertahanan, pada Senin, Iran tidak akan mengizinkan campur tangan atau agresi apa pun oleh AS atau pasukan asing lainnya.
Teheran tidak akan ragu untuk menanggapi secara tegas kepada agresor mana pun, termasuk Israel dan Amerika Serikat, di Selat Hormuz dan di tempat lain.
Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan dalam pembicaraan langsung pertama mereka yang diadakan akhir pekan lalu di Pakistan.
Wakil Presiden AS JD Vance, yang ikut serta dalam pembicaraan tersebut, mengatakan kepada FOX News pada Senin, ada beberapa kemajuan selama negosiasi. Ia mengatakan, pihak AS mengetahui bahwa tim Iran tidak dapat mencapai kesepakatan kecuali mereka mendapatkan persetujuan kembali di Teheran, baik dari Pemimpin Tertinggi atau orang lain.
Menurut Vance, Iran harus berjanji memindahkan persediaan uranium yang diperkaya keluar dari negara itu dan membuat komitmen yang pasti untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
"Jika Iran bersedia bertemu dengan kita di sana, maka ini bisa menjadi kesepakatan yang sangat, sangat baik untuk kedua negara," kata Vance, yang menambahkan "bola sepenuhnya berada di tangan mereka (Iran)."
Washington telah mendesak Teheran untuk secara permanen menghentikan kegiatan pengayaan uraniumnya.
Media AS mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah ini yang mengatakan bahwa selama pembicaraan di Pakistan, para pejabat AS melonggarkan tuntutan menjadi kemungkinan penangguhan kegiatan pengayaan uranium Iran selama 20 tahun, tetapi kedua pihak gagal menyepakati jangka waktu kesepakatan tersebut.
Bloomberg melaporkan, AS dan Iran sedang berdiskusi tentang penyelenggaraan putaran negosiasi tatap muka lainnya, untuk gencatan senjata jangka panjang.
Mengutip orang-orang yang mengetahui masalah tersebut, laporan itu mengatakan tujuannya adalah untuk mengadakan pembicaraan baru sebelum gencatan senjata dua minggu yang diumumkan pada 7 April berakhir minggu depan. (NHKWord/**)
