Krisis kelaparan di Somalia memburuk karena kekeringan menyebabkan lebih dari 500.000 orang mengungsi. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // Setelah gempa melanda Jepang utara, peringatan tsunami dikeluarkan lalu kemudian dicabut, namun masyarakat di berbagai wilayah harus tetap waspada terhadap potensi gempa mega. // Harga minyak mentah Brent melonjak naik lebih dari 7 persen karena Washington dan Teheran memberikan keterangan yang bertentangan mengenai negosiasi gencatan senjata. //

Bayi lahir di tengah genosida Israel: Anak-anak Gaza menanggung luka perang


Bayi yang lahir saat pecahnya konflik menghadapi kecacatan seumur hidup akibat gas beracun, luka bakar parah, dan sistem perawatan kesehatan yang runtuh, seperti dialami Nour Abu Samaan yang lahir pada 7 Oktober 2023, hanya tiga jam sebelum dimulainya perang genosida di Jalur Gaza, kelahirannya disambut dengan sukacita oleh ibunya, Samar Hammad, tetapi kebahagiaan itu hanya berlangsung sehari.

Pada 8 Oktober, saat Nour beristirahat di pelukan ibunya, rudal Israel menghantam di dekatnya. Udara dipenuhi asap dan gas beracun, bayi yang baru lahir itu mulai kesulitan bernapas.

“Anak perempuan saya tiba-tiba tersedak di tangan saya. Warnanya berubah menjadi biru, matanya berputar ke belakang, dan dia kehilangan semua gerakan,” kata Samar kepada Al Jazeera Arabic.

Dokter kemudian mendiagnosis Nour menderita kelumpuhan gerak yang disebabkan menghirup gas beracun. Saat baru berusia dua hari, kehidupan Nour beralih dari ruang bayi ke ranjang rumah sakit, memulai perjalanan berat penuh rasa sakit.

Sebuah kisah penyelamatan ajaib
Samar menghabiskan satu bulan di Rumah Sakit Anak al-Nasr di Gaza utara, mengawasi putrinya di unit perawatan intensif (ICU), saat perang semakin mendekat. Gaza utara menanggung beban terberat dari pemboman Israel pada hari-hari awal perang. Tak lama kemudian, wilayah itu dikepung militer Israel, dan orang-orang terpaksa mengungsi.

Saat pengepungan semakin intensif, Samar berhasil mengevakuasi Nour tepat sebelum rumah sakit dibom. Saat itu ia tidak tahu bahwa putrinya akan menjadi satu-satunya yang selamat dari serangan mematikan di Rumah Sakit al-Nasr, termasuk ICU.

Setelah pasukan Israel menyerbu fasilitas medis tersebut, mereka memutus sistem pendukung kehidupan dari bayi-bayi prematur yang tertinggal. Tubuh mereka yang membusuk ditemukan di tempat tidur beberapa hari kemudian.

Ayah Nour, Othman Abu Samaan, 42 tahun, mengawasi putrinya dengan kesedihan yang belum sembuh seiring berjalannya waktu. Cedera tersebut menyebabkan Nour mengalami kekakuan parah pada anggota tubuhnya, suatu kondisi yang digambarkan dokter sebagai melemahkan daripada kelumpuhan sebagian.

“Kami sudah berulang kali mencoba mendudukkannya, tetapi dia tidak bisa,” kata Othman.

Saat keluarga tersebut berjuang, data resmi dari Kementerian Kesehatan Gaza mengkonfirmasi peningkatan kasus serupa. Zaher al-Waheidi, kepala Unit Informasi kementerian, melaporkan bahwa 1.200 anak di Gaza kini menderita cedera sumsum tulang belakang dan kelumpuhan yang diakibatkan langsung oleh serangan Israel.


Penderitaan yang Melebihi Usianya
Misk al-Jarou, bayi berusia enam bulan, telah berjuang dengan masalah kesehatan sejak lahir. Ia lahir dengan kelainan bentuk yang parah, tidak memiliki persendian yang jelas di tangan dan kakinya, sementara saudara kembarnya meninggal di dalam kandungan.

Meskipun Misk selamat, ia dibebani dengan masalah kesehatan yang menurut ibunya, Warda al-Jarou, disebabkan karena menghirup gas beracun secara terus-menerus selama kehamilan.

Bagi keluarga seperti Misk, kehidupan sehari-hari adalah siklus yang melelahkan, yaitu menghadapi rumah sakit yang kewalahan dan mengejar janji temu medis yang sulit didapatkan.

“Misk sangat kesakitan, dan setiap hari saya merasa kondisinya semakin memburuk,” kata Warda kepada Al Jazeera.

Perjuangannya mencerminkan “epidemi” kelainan bentuk yang lebih luas. Kementerian Kesehatan mencatat 322 kasus cacat bawaan pada tahun 2025 saja  dua kali lipat dari angka sebelum perang. Al-Waheidi, kepala Unit Informasi Kementerian Kesehatan, menghubungkan lonjakan ini dengan kelaparan, paparan racun dari jutaan ton proyektil, dan runtuhnya perawatan prenatal.

Dua tahun pemboman tanpa henti telah memicu pergeseran demografis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Gaza. Untuk pertama kalinya, pertumbuhan penduduk di Jalur Gaza menjadi negatif, mencapai -1,3 persen. Angka kelahiran anjlok sebesar 38 persen pada tahun 2024 dan turun lagi sebesar 13 persen pada tahun 2025.

Menurut al-Waheidi, bayi-bayi yang lahir menghadapi peluang yang sangat buruk. Pada tahun 2025, lebih dari 4.000 wanita melahirkan prematur, dan setidaknya 4.800 bayi lahir dengan berat badan rendah, dua kali lipat dari angka sebelum perang. Tragisnya, 457 bayi meninggal pada minggu pertama kehidupan mereka tahun lalu saja.


Penderitaan yang Melebihi Usianya
Di koridor sekolah Mustafa Hafez di Gaza barat, Ramez Abu Hajeela berjuang untuk memasangkan masker kompresi medis pada putranya yang berusia dua tahun, Mohammed Abu Hajeela. Sebelum fajar pada 3 Juli 2025, serangan Israel menghantam tempat perlindungan sekolah, menewaskan 14 kerabat Ramez. Mohammed selamat dengan luka bakar tingkat tiga yang meliputi 18 persen tubuhnya.

Sekarang, ia harus mengenakan masker kompresi selama 20 jam sehari. “Ketika dia bangun, kami memberinya makan dan mempersiapkannya untuk jam-jam penyiksaan yang akan datang,” kata Ramez. Mohammed, salah satu dari sekitar 1.000 anak di Gaza yang telah menjalani amputasi atau menderita bekas luka permanen yang parah.

Al-Waheidi memperingatkan bahwa bagi anak-anak seperti Nour, Misk, dan Mohammed, satu-satunya harapan terletak pada evakuasi medis segera. Saat ini, sekitar 4.000 anak di Gaza membutuhkan perawatan mendesak di luar negeri. Mereka diharapkan mendapat ijin untuk melakukan perjalanan melalui penyeberangan Rafah, satu-satunya gerbang Gaza ke dunia. Namun Israel telah memberlakukan pembatasan ketat terhadap pergerakan.

Menurut Kementerian Kesehatan, lebih dari 20.000 pasien dan orang terluka saat ini menunggu untuk melakukan perjalanan ke luar negeri untuk perawatan medis. Terlepas dari kebutuhan yang sangat besar, data resmi yang diberikan oleh al-Waheidi menunjukkan bahwa hanya 154 anak yang diizinkan meninggalkan Gaza sejak penyeberangan dibuka kembali sebagian pada bulan Februari.

“Setiap hari penyeberangan Rafah tetap ditutup, kita kehilangan nyawa. Lebih dari 470 anak telah meninggal dunia saat menunggu kesempatan untuk diselamatkan.” kata al-Waheidi. (sumber: Al Jazeera)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama