![]() |
| Warga Palestina berkumpul setelah serangan Israel terhadap perkemahan tenda di Kota Gaza, 6 Juni 2026 (Dawoud Abu Alkas/Reuters) |
JAKARTA - Setidaknya enam orang tewas dalam serangan udara Israel terhadap perkemahan yang menampung pengungsi di Kota Gaza. Sebuah dariRumah Sakit al-Shifa menyebutkan kepada wartawan Al Jazeera setidaknya 15 orang terluka dalam serangan pada Sabtu.
Di duga wanita dan anak-anak termasuk di antara korban dan jumlahnya diperkirakan akan meningkat," kata Hani Mahmoud dari Al Jazeera melaporkan dari Kota Gaza.
Menurut Mahmoud, serangan drone Israel menyebabkan ledakan besar dan keadaan panik di kompleks sekolah PBB yang menampung pengungsi.
"Serangan itu menargetkan tenda di sebelah tenda lain, dan tampaknya ada pesta pernikahan yang sedang berlangsung pada saat itu. Orang-orang terlihat berlari keluar dari lokasi pengungsian menuju jalanan, di mana kendaraan sipil dikerahkan untuk mengangkut korban luka akibat serangan tersebut," tambahnya.
Tentara Israel mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa mereka telah menargetkan teroris di sektor itu, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Serangan itu terjadi di tengah pelanggaran berkelanjutan Israel terhadap apa yang disebut perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober lal.
Serangan itu adalah salah satu dari beberapa serangan yang dilaporkan di wilayah tersebut pada hari Sabtu, di mana pemboman rutin Israel terus berlanjut.
Menurut sumber medis setempat, serangan terpisah sebelumnya di daerah Khan Younis di Gaza Selatan menghantam tenda lain, menewaskan seorang pria yang rencana saat itu akan menikah.
Di lingkungan Tuffah di Kota Gaza, tank militer Israel dan drone quadcopter melepaskan tembakan di dekat rumah sakit anak-anak.
“Kami melihat serangan meningkat dibandingkan dengan hari-hari awal gencatan senjata,” kata Mahmoud.
Serangan-serangan itu terjadi ketika kelompok Palestina Hamas mengadakan pertemuan dengan para mediator dan faksi-faksi Palestina lainnya di Mesir, untuk membahas masa depan wilayah tersebut di tengah proses gencatan senjata yang terhambat.
Selain serangan berulang Israel, dalam beberapa bulan terakhir, lebih dari separuh Gaza tetap berada di bawah kendali militer Israel yang bertentangan dengan ketentuan gencatan senjata.
Fase pertama gencatan senjata melibatkan pembebasan tawanan Israel terakhir yang ditahan oleh Hamas sebagai imbalan atas warga Palestina yang ditahan oleh Israel.
Transisi ke fase kedua gencatan senjata, yang seharusnya melibatkan pelucutan senjata Hamas dan penarikan bertahap militer Israel, telah terhenti selama berbulan-bulan.
Qassem dari Hamas mengatakan bahwa pertemuan akhir pekan ini di Kairo akan fokus pada memastikan implementasi penuh fase pertama perjanjian, termasuk mengakhiri apa yang ia sebut sebagai pelanggaran Israel, membuka kembali perbatasan, dan mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza.
Ia mengatakan, diskusi tersebut juga akan membahas isu-isu terkait fase kedua perjanjian gencatan senjata, termasuk usulan mengenai penempatan pasukan internasional di Gaza dan pelucutan senjata faksi-faksi Palestina.
Dalam pernyataannya setelah serangan mematikan Israel di Kota Gaza pada hari Sabtu, Qassem menuduh Israel berupaya untuk melemahkan dan menghancurkan perjanjian tersebut. (sumber: Al Jazeera)
