Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Prancis Mengkonfirmasi Kasus Ebola Pertama pada Dokter yang Kembali dari Kongo

Seorang petugas kesehatan dengan alat pelindung diri (APD) berdiri di dekat para pengungsi yang menunggu pemakaman korban diduga terinfeksi Ebola di kamp pengungsi Kigonze, satu bulan setelah wabah dinyatakan, di Bunia, bagian timur Republik Demokratik Kongo (File: Gradel Muyisa Mumbere/Reuters)

JAKARTA - Otoritas Kesehatan Prancis menyatakan, Prancis telah mengkonfirmasi kasus Ebola pertama selama wabah saat ini, dimana seorang dokter yang kembali dari misi kemanusiaan di Republik Demokratik Kongo dinyatakan positif.

Dalam pernyataan pada hari Rabu, Kementerian Kesehatan Prancis mengatakan bahwa petugas kesehatan tersebut bertugas di salah satu daerah di Kongo tempat virus tersebut beredar.

“Pasien sedang dirawat di fasilitas kesehatan terkemuka, mengikuti protokol biokeamanan yang ketat. Semua tindakan pencegahan, termasuk isolasi pasien, telah diterapkan saat tiba di Prancis, dengan pemindahan ke rumah sakit dalam kondisi aman untuk mencegah risiko kontaminasi,” kata kementerian tersebut.

Menurut kementerian kesehatan, Investigasi epidemiologis sedang dilakukan untuk mengidentifikasi individu yang mungkin telah melakukan kontak dengan pasien. Mereka akan dihubungi oleh otoritas kesehatan untuk melakukan isolasi mandiri selama 21 hari.

Sejak Mei, provinsi Ituri di timur laut Republik Demokratik Kongo (DRC) telah menjadi pusat wabah Ebola, yang telah menewaskan lebih dari 260 orang dan menginfeksi lebih dari seribu orang hingga saat ini. Kasus juga telah dilaporkan di negara tetangga, Uganda.

Pada 17 Mei, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah tersebut sebagai "darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional".

Sebagian besar wabah Ebola sebelumnya di DRC disebabkan oleh virus yang disebut Ebola Zaire, tetapi wabah ini disebabkan oleh strain yang berbeda disebut Bundibugyo, yang saat ini belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui.

Sumber: Al Jazeera

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama