![]() |
| Asap mengepul dari Lebanon Selatan setelah serangan Israel, seperti terlihat dari Nabatieh, Lebanon, pada 6 Juni 2026. (Reuters) |
JAKARTA - Panglima Angkatan Darat Lebanon, Rodolphe Haykal, berangkat ke Pakistan dalam kunjungan mendadak di tengah berlanjutnya pertempuran dan rencana pemakaman untuk tentara yang tewas oleh serangan Israel
Pemakaman akan diadakan untuk para perwira Lebanon yang tewas dalam serangan Israel di Lebanon Selatan, sementara panglima Angkatan Darat Beirut menuju Pakistan dalam kunjungan mendadak di tengah upaya mediasi yang sedang berlangsung dalam perang Amerika Serikat-Israel yang lebih luas melawan Iran.
Para tentara Lebanon akan dimakamkan pada Minggu, sehari setelah brigadir jenderal, kapten, dan seorang tentara tewas dalam serangan Israel terhadap kendaraan militer di jalan Khardali-Nabatieh, dalam insiden yang menurut tentara Israel sedang diselidiki.
Gencatan senjata yang disepakati pada 17 April, dimaksudkan untuk menghentikan pertempuran antara Israel dan Hizbullah, tetapi Israel terus melakukan serangan hampir setiap hari, yang memicu serangan balasan dari kelompok Lebanon tersebut.
Kekerasan tersebut telah menimbulkan korban jiwa yang tidak proporsional di kalangan warga sipil di Lebanon, di mana lebih dari 3.500 orang telah tewas sejak permusuhan kembali terjadi pada 2 Maret lalu.
Gencatan senjata bersyarat lebih lanjut diumumkan oleh utusan Lebanon dan Israel pekan lalu di Washington, tetapi ditolak oleh Hizbullah karena tidak mencakup kelompoknya atau mengatur penarikan Israel dari Lebanon Selatan.
Kepala Angkatan Darat Lebanon, Rodolphe Haykal, berangkat pada hari Sabtu ke Pakistan, yang telah mulai sebagai mediator utama antara AS dan Iran.
Kunjungan ini penting mengingat desakan Washington dan para pemimpin Lebanon, termasuk presiden, bahwa pembicaraan gencatan senjata untuk Lebanon tetap terpisah dari negosiasi AS-Iran yang dimediasi oleh Pakistan.
Sementara itu, serangan Israel menghantam beberapa kota di Lebanon Selatan dan Bekaa Barat semalam, sementara Hizbullah mengatakan telah meluncurkan roket, tembakan artileri, dan serangan drone terhadap pasukan Israel, termasuk di dekat Kastil Beaufort di Yohmor al-Shaqif.
Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon menjelaskan pada hari Minggu serangan Israel di Kota Saksakiyeh sehari sebelumnya menewaskan sedikitnya dua orang dan 22 orang terluka dalam serangan itu, termasuk tiga anak dan seorang wanita.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan, dua orang lainnya terluka setelah serangan drone Israel di Kota Shahabiyeh.
Serangan udara Israel juga menghantam Kota Qalawiya saat fajar, dan kota-kota al-Qatrani, Byblos, dan Rihan di distrik Jezzine semalam. Kota Deir Kifa di distrik Tyre juga di bom, sementara Barashit dan Chaqra di distrik yang sama menjadi sasaran penembakan artileri sesekali semalam.
NNA juga melaporkan terjadi penembakan artileri di Kota al-Mansouri dan Bayt al-Sayyad di distrik Tyre. Pesawat tempur Israel melancarkan serangan ke Kota Srifa. Media lokal juga melaporkan bahwa jet tempur Israel menyerang Dweir, dekat Nabatieh, di utara Sungai Litani.
Sementara itu, paramedis terus mencari korban selamat di bawah reruntuhan setelah serangan Israel.
Nour Odeh dari Al Jazeera melaporkan dari Ramallah di Tepi Barat yang diduduki, bahwa pola ini merupakan bagian dari apa yang disebut Gazafikasi Lebanon, atau Israel menggunakan tindakan yang dinormalisasi oleh genosida Gaza.
“Penargetan sekolah-sekolah di Lebanon Selatan, sama seperti di Gaza. Pemboman rumah sakit dan klinik Lebanon, juga seperti di Gaza. Dan pembunuhan jurnalis. Kemudian ada yang disebut serangan ganda terhadap paramedis dan petugas penyelamat. Ratusan paramedis Palestina dan Lebanon telah tewas dengan praktik ilegal ini.” kata Odeh, yang menambahkan Gazafikasi juga meluas hingga ke gencatan senjata.
“Garis Kuning, yang pertama kali diperkenalkan di Gaza, kini telah mencakup 60 persen wilayahnya. Di Lebanon, Garis Kuning kini mencakup hampir seperlima wilayah negara itu. Kedua garis tak terlihat ini terus meluas,” kata Odeh.
Tidak ada pilihan lain selain negosiasi, kata anggota parlemen Lebanon. Najat Aoun Saliba, anggota parlemen independen Lebanon, mengutuk pembunuhan tentara Lebanon oleh Israel dan mengatakan Presiden Joseph Aoun tidak punya pilihan selain bernegosiasi dengan Israel.
“Jika kita tidak bernegosiasi, apa alternatifnya? Apakah alternatifnya adalah berperang? Perang tidak akan memberi kita perdamaian,” katanya kepada Al Jazeera.
Salaba mengatakan dialog adalah satu-satunya jalan yang layak mengingat ketidakseimbangan kekuatan antara Israel dan tentara Lebanon.
“Keseimbangan kekuatan antara tentara tidak dapat dibandingkan. Israel memiliki tentara yang sangat kuat didukung oleh Amerika Serikat. Angkatan Bersenjata Lebanon telah dipinggirkan oleh kemauan politik selama 30 tahun, karena mereka ingin memperkuat kehadiran Hizbullah,” katanya.
Anggota parlemen itu menambahkan bahwa Hizbullah belum mampu menghentikan agresi Israel.
“Hezbollah tidak mampu menghentikan kejahatan perang ini, dan tidak mampu menghentikan invasi yang dilakukan Israel. Saya pikir dengan semua pembantaian dan kehancuran ini, saya rasa kita tidak punya pilihan.” katanya.
Pembunuhan Brigadir Jenderal Wissam Sabra, Kapten Elie Khoury, dan tentara Hussein Ghozal terjadi pada saat yang tegang di tengah upaya yang lebih luas untuk mencapai kesepakatan antara AS, Iran, Hezbollah, pemerintah Lebanon, dan Israel.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan serangan itu bertujuan untuk menggagalkan semua upaya untuk mencapai solusi, sementara Perdana Menteri Nawaf Salam menggambarkannya sebagai kejahatan keji dan serangan terhadap Lebanon dan seluruh rakyat Lebanon.
Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah ketika Hezbollah yang didukung Iran menyerang Israel pada 2 Maret lalu, menyusul serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran 28 Februari.
Teheran telah menjadikan gencatan senjata di Lebanon antara Israel dan Hezbollah sebagai syarat untuk kesepakatan perdamaian apa pun dengan Washington. (Sumber: Al Jazeera)
