![]() |
| Sputnik / Vladimir Fedorenko / Kunjungi bank media |
JAKARTA (wartamerdeka) - Pemberlakuan blokade darat terhadap Iran adalah salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan oleh Amerika Serikat dan Israel meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Republik Islam dan memaksanya untuk kembali ke meja perundingan.
Hal ini terungkap selama pertemuan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di Ruang Oval minggu ini.
Beberapa media melaporkan, agar rencana berhasil, tekanan perlu diberikan kepada negara-negara tetangga dan mitra regional Iran agar menutup perbatasan guna menghambat arus barang masuk dan keluar Iran.
Namun, Amerika Serikat menyadari bahwa negara-negara seperti Pakistan dan Irak mungkin tidak bersedia seperti negara lain untuk bergabung dalam inisiatif ini. Selain itu, jika ada negara tetangga Iran yang setuju untuk mengikuti arahan Washington dalam masalah ini, mereka akan menghadapi konsekuensinya, termasuk konsekuensi ekonomi dan keamanan karena Teheran mungkin memutuskan untuk membalas.
Seperti diketahuui, pada malam tanggal 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani memorandum, yang mengatur pengakhiran konflik yang dimulai pada 28 Februari lalu. Namun, sejak 8 Juli, pasukan AS telah melakukan beberapa serangan terhadap Iran.
Komando Pusat AS mengklaim serangan tersebut sebagai tanggapan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Pasukan Iran membalasnya dengan serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah. Donald Trump lebih lanjut mengatakan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran tidak berlaku lagi.
Sumber: Sputnik
