Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Terkait Donasi Gempa, Sekretaris Kwarda Pramuka Sulteng Diperiksa LPK


PALU (wartamerdeka.info) - Selain wakilnya (Hutabri), Sekretaris Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Sulawesi Tengah (Sulteng), Dr Muzakir Tawil, alias Mute juga tak luput dari pemeriksaaan Lembaga Pemeriksa Keuangan (LPK) Kwarda Sulteng.

Sama halnya Hutabri, pemeriksaan Mute kali ini terkait dugaan penyalahgunaan donasi (sumbangan) untuk korban gempa, likuifaksi dan tsunami Palu, 28 September 2018 silam.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, uang donasi tersebut merupakan hasil penggalangan dari beberapa Kwarda di Indonesia serta pihak  lain yang prihatin terhadap bencana kemanusiaan maha dahsyat saat itu.

Sumber menyebutkan, total penggalangan dana ini ditaksir Rp 1,5 Miliar lebih, ditransfer langsung para donatur ke rekening Kwarda Sulteng, ditambah uang tuai kisaran Rp 100 juta.

Sayangnya, alih-alih sampai ke tangan korban dan pengungsi, donasi kemanusiaan itu malah terindikasi disalah gunakan.

Mute diperiksa terkait kasus pengelolaan uang sekitar Rp 600-an juta.

Seperti diketahui, dalam manajemen organisasi, tugas dan fungsi sekretaris adalah menjalankan tugas administrasi, bukan mengelola uang organisasi, apalagi sampai mengendalikan seluruh isi Kas Kwarda.

Berdasarkan data yang ada, aliran dana Rp 600-an  juta yang dikelola Sekretaris Mute itu  kabur, alias tidak dapat dipertanggung jawabkan. Ada indikasi  penyalurannya tidak hanya salah sasaran dan fiktif, tapi juga kuat dugaan banyak yang hilang.

Karuan saja, Mute yang dikonfirmasi kemarin, Minggu (21/6) di kantor Kwarda oleh tim investigas MOI serta LSM terlihat gagap dan berbelit belit. Apa yang diutarakan tidak sesuai data dan fakta di lapangan.

Menariknya, sebelum berikan keterangan, Dosen bergelar Doktor ini, melalui whastuppnya membantah tidak ada mengunakan uang Pramuka Peduli, Bansos dan sumbangan lainnya.

"Bila sampai dimasukkan di koran..., hati-hati kalau tidak sesuai fakta dan tidak valid datanya...dan merusak nama baik saya dan keluarga saya..saudara juga bersiap saya gugat," tulisnya dalam WA.

Nah, apakah data dan fakta lapangan itu bersesuaian atau sebaliknya tidak sama dengan apa yang dinyatakan Mute pada Minggu sore itu ?

Yang pasti, sejumlah pengurus kwarda sulteng mengatakan bila sikap sekretaris Mute terus begitu, solusi terakhir biar kejaksaan yang bongkar (tim)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama