Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

 


Polisi Pastikan Usut Tuntas Kasus Penganiayaan Oleh Pendukung DP

Korban Diteror Untuk Mencabut Laporan Polisi


Siti Roslina R, korban penganiayaan pendukung DP saat lapor polisi

MAKASSAR (wartamerdeka.info) - Kasus penganiayaan terhadap Siti Roslina R (30), yang dilakukan pendukung pasangan calon (paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto- Fatmawati Rusdi (Adama) dipastikan akan diusut secara tuntas oleh pihak kepolisian.

Kepastian ini disampaikan oleh pihak kepolisian Maros melalui surat yang ditujukan kepada korban pada hari ini (15/11/2020), perihal: Pemberitahuan Perkembangan Penelitian Laporan, yang ditandatangani oleh Iptu Rusly atas nana Kepala Satuan Reskrim Polres Maros.

Peristiwa penganiayaan terhadap ibu rumah tangga pendukung Paslon nomor urut 3 Syamsu Rizal-Fadli Ananda (Dilan) ini seperti diketahui terjadi di Villa Pribadi  milik Danny Pomanto, di Dusun Tokka Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, Sabtu (14/11/2020). 

Korban mengaku mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh empat orang pengawal atau penjaga vila milik Danny Pomanto.

Usai mendampingi korban melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Maros, Pepy Nelfayanti yang merupakan Koordinator Kecamatan Biringkanaya Tim Relawan Dilan menjelaskan bahwa ada dua saksi lain yang akan diminta keterangan yakni mereka yang melihat kejadiannya. 

"Sudah dilampirkan juga nama-nama mereka. Mungkin akan menunggu panggilan," ujar Pepy Nelfayanti, Minggu (15/11/2020).

Pepy adalah Korcam Bringkanaya Tim Dilan, sedangkan korban, yaitu Siti Roslina R adalah Koordinator Kelurahan Paccerakkang Tim Relawan Dilan.

Terkait perkembangan kasus tersebut, Pepy mengungkapkan bahwa korban, mendapat beberapa telepon yang menyalahkan si korban. Bahkan pendukung DP meminta kepada ibunya korban untuk mencabut laporan. 

"Saya tegaskan tidak bisa. Jangan mau menurut mereka. Proses hukum harus terus berlanjut," tegasnya.

Pendukung DP yang tinggal di satu wilayah menyalahkan korban karena dengan adanya kasus ini berdampak kepada mereka semua.  

"Kalau merasa benar silahkan. Memang si korban tidak ada undangannya karena dia hanya mengantar. Selain itu juga belum ada sesi untuk kelurahan ," terangnya.

Siti Roslina, jelasnya, tidak pernah naik ke atas lokasi acara. Apalagi dari tempat parkir lumayan jauh. Dia jongkok bersama anaknya di tempat parkiran menunggu ibunya. 

"Sebelumnya ibu Roslina bernama Ny Rajja Lawa, yang merupakan ketua RT yang diundang Tim DP sudah menyampaikan ke pihak pengundang bahwa tidak bisa ikut dengan mobil. Maka diantar sama anaknya pakai motor," terangnya.

Jadi, tambah Pepy, Roslina hadir di vila DP bukan dalam rangka menyusup atau memata matai, tapi karena mengantar ibunya yang diundang Tim DP.

Menurut Pepy, Tim DP memang sering mengundang Ketua-Ketua RT dan RW untuk hadir di vila DP dalam rangka nenggalang dukung terkait Pilkada Kota Makassar.

"Kejadiannya itu saat Koordinator Kelurahan (korban) mengantar ibunya yang juga ketua RT menghadiri undangan Pak Dany. Semua RT/RW. Koordinator Kelurahan (Korlu) saya ini memang setiap hari itu mengantar orang tuanya karena ortunya tidak bisa bawa kendaraan. Nah RT RW mendapat undangan dari pak Dany di Villanya Tokka Maros," jelasnya menceritakan kronologis kejadian berdasarkan keterangan dari korban.


Surat Pemberitahuan Perkembangan Penelitian Laporan dari Kepolisian

"Jadi si korban itu kapasitasnya hanya mengantar, otomatis tidak bisa naik ke lokasi (Villa) pertemuan, hanya sampai di parkiran," jelas Poppy.

Pepy menambahkan bahwa kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 16.00 WITA usai shalat Ashar.  Sambil menunggu ibunya menghadiri undangan Paslon berakronim Adama ini, Nurlina, sapaan korban bersama anak kecilnya menunggu di area parkiran.

"Nah saat menunggu di parkiran,  dia merekam gambar lokasi tempat dia berada, untuk dikirimkan ke hp suaminya. Karena sudah menjadi kebiasaannya, setiap berada di luar rumah itu dia ditelepon oleh suaminya karena suaminya saat ini sedang di Palu Sulteng. Tetapi sebelum selesai merekam dia dipergoki oleh tim pak Dany empat orang, kedua tangannya dipegang masing-masing dua orang. kemudian HP-nya dirampas, lalu dia diseret ke kamar mandi, dan dicaci maki" jelasnya.

Mereka ambil HP milik Siti Roslina dan melihat isinya dengan memaksa membuka kodenya. "Padahal sebelumnya tidak ada gambar terkirim ke grup WA manapun. Karena saya pun sebagai korcam tidak ada masuk rekaman  ke grup Dilan manapun. Saya sebagai korcam ketika si korban datang sambil menangis," cetusnya.

Jadi, jelasnya, tidak ada penyusupan atau mata mematai. Dalam laporannya ke polisi pun tidak berubah pernyataannya. "Justru mereka (pendukung DP) yang terus menelepon agar kasus itu tidak usah diperpanjang. Minta dicabut. Masalahnya apa," ucapnya.

Menurutnya, bila mereka itikadnya ingin menyelesaikan baik-baik tidak mungkin menarik si korban ke toilet dan memaksa hapenya dibuka, tidak mencacimaki. "Kalau memang ingin menyelesaikan dengan baik tidak perlu keluar kata-kata yang kasar," katanya.

Tapi, lanjutnya, setelah dibuat pelaporan ke polisi dan berita tersebar mereka baru membuat pernyataan seperti itu. Dia juga mempersilahkan jika dari pihak DP akan membuat laporan balik.

"Silahkan saja. Tidak masalah. Kita kan berjalan sesuai apa yang terjadi. Kita hanya menjaga jangan sampai keluarga korban dan ibunya mendapat teror. Itu alasan kami melapor ke kepolisian. Itu saja," ujarnya.

Menurut Pepy, korban bersama anak kecilnya mengalami tekanan psikologis yang membuat korban bersama anaknya trauma dan ketakutan.

"Namanya ibu-ibu apalagi ada anak kecilnya diperlakukan seperti pencuri pasti dia syok dan trauma. HP-nya dirampas kemudian diperiksa semua histori panggilan siapa-siapa yang dihubungi. Korban juga dicaci maki di hadapan banyak orang, yang sangat disayangkan ada banyak orang disana tetapi tidak ada juga yang tengahi, hanya dilihatin," jelasnya lagi sambil menambahkan bahwa korban kuga menjalani visum et repertum di RS Salenwangan, Maros.

"Apakah wajar ibu-ibu diperlakukan seperti itu, dia seorang ibu-ibu bersama anak kecilnya diseret sama empat orang laki-laki berbadan kekar. Saya sebagai koordinator kecamatan harus membela tim saya, tetapi kami tidak arogan, kami tetap menempuh jalur hukum," imbuhnya.

Atas kejadian itu juga, ibu korban, Rajja Lawang, yang juga merupakan Ketua RT di RW 4 BTN Mangga III Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya tidak mengikuti pertemuan tersebut dan langsung kembali ke rumahnya sambil menunggu proses hukum. (A)

Posting Komentar untuk "Polisi Pastikan Usut Tuntas Kasus Penganiayaan Oleh Pendukung DP"