Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

44 Kelenteng Akan Meriahkan Kirab Budaya di Rembang

KH Zaim Achmad Ma'shoem (Gus Zaim)
REMBANG (wartamerdeka.com) - Festival atau kirab budaya WNI keturunan Tionghoa akan segera digelar dan dipusatkan di kota tua Lasem, Kabupaten Rembang yang berhimpitan waktunya dengan peringatan hari Kartini tahun ini. Sejumlah persiapan telah dilakukan, baik segi akomodasi, rute kirab hingga kesiapan masing-masing peserta.

Ketua Panpel Kirab budaya, Rudi Hartono (38) pengusaha muda asal Lasem saat bersilaturahmi ke segenap pimpinan Ponpes di Lasem menyatakan jika kirab budaya akan digelar selama dua hari,yakni tgl 21-22 April. ”Dari komunikasi dengan sejumlah pengurus Kelenteng yang ada di P Jawa,sudah terdapat 44 kota se Jawa yang menyatakan kesiapannya untuk berpartisipasi dalam perhelatan akbar tersebut,“ kata Rudi di kediaman KH Zaim Achmad Ma'shoem (Gus Zaim) pimpinan ponpes Kauman, Lasem, Rembang, tadi pagi.

KH Zaim Achmad Ma'shoem (Gus Zaim) saat dikonfirmasi mengakui festival budaya Tionghoa di Lasem dikarenakan latar belakang kultur etnis China yang mendarat pertama kali di Nusantara. Bandar Lasem sebagai kota kuno, kata Gus Zaim, sudah dikenal sebagai persinggahan para saudagar China dan Gujarat.


"Jadi jangan heran kalau di Lasem banyak bertaburan pondok pesantren serta rumah etnis China yang sedemikian banyak dan masih kokoh berdiri. Lasem sebagai kota kuno sekaligus bukti akulturasi budaya lintas etnis yang mampu hidup berdampingan secara damai sejak dulu, jauh sebelum kemertdrekaan,“ kata cucu kyai kharismatis KH Ma'shoem ini.(hasan)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama