Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

RS YARSI Adakan Gathering Untuk Praktisi Public Relation Dan Marketing Rumah Sakit


JAKARTA (wartamerdeka.info) - RS YARSI mengadakan gathering khusus untuk praktisi public relation (PR) dan marketing rumah sakit (RS) se-Jabodetabek bertema Menyikapi Berita Hoax,  Rabu (8/8). 

Kegiatan yang dihadiri lebih dari 100 peserta ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bagian PR dan Marketing RS dalam menjaga reputasi perusahaan.

"Acara ini dibuat agar para PR dan marketing mengetahui tujuan utama kerjanya, yaitu membuat serta menjaga reputasi RS. Sehingga perlu dibekali ilmu untuk dapat menyikapi fenomena yang ada saat ini, salah satunya mengenai berita-berita hoax," ujar Dr. Mulyadi Muchtiar, MARS, Direktur Utama RS YARSI.


Kegiatan ini juga diisi pemateri Anjari Umarjianto, S.Kom, SH, MARS dan juga Dr. ir. Haikal Hasan Baras, MA yang menyampaikan "Teknik Negosiasi yang Baik".

Menurut Mulyadi, adanya berita hoax harus diklarifikasi. Sehingga tidak menimbulkan kesimpang siuran. Jangan berlarut dengan satu keadaan yang menyebabkan lambatnya respon. 

Sementara teknik negosiasi yang menjadi kunci dari performa seorang marketer
"Kalau perlu diberikan jawaban berita yang berimbang untuk meluruskan. Peran PR RS untuk mengantisipasi ini sangat penting, karena pemberitaan yang tidak tepat berdampak terhadap reputasi sebuah organisasi," ungkapnya.


Sementara itu, Anjari Umarjianto, S.Kom, SH, MARS mencontohkan adanya RS yang pernah dituntut oleh pasiennya dengan menggandeng pengacara kondang karena merasa telah terjadi malpraktek.

"Nah hal itu kan seharusnya tidak terjadi jika dari awal RS mempunyai manajemen service yang baik dan cepat dalam merespon masalah ini. Karena sesuatu yang masuk ke garis reputasi jika dari awal tidak dilayani dengan cepat maka akan berkembang negatif," tandasnya. (Putra)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama