Krisis kelaparan di Somalia memburuk karena kekeringan menyebabkan lebih dari 500.000 orang mengungsi. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // Setelah gempa melanda Jepang utara, peringatan tsunami dikeluarkan lalu kemudian dicabut, namun masyarakat di berbagai wilayah harus tetap waspada terhadap potensi gempa mega. // Harga minyak mentah Brent melonjak naik lebih dari 7 persen karena Washington dan Teheran memberikan keterangan yang bertentangan mengenai negosiasi gencatan senjata. //

Berita Foto

Cinque Terre

Hawa Moalim, 33 tahun, duduk bersama anak-anaknya di kamp pengungsi Wayamo di Baidoa, negara bagian Somalia Barat Daya, setelah melarikan diri dari wilayah Bakool ketika kekeringan menghancurkan mata pencahariannya. Ia memulai perjalanan dengan enam anak dan beberapa kambing yang selamat, tetapi hewan-hewan itu mati di sepanjang jalan, sehingga keluarga tersebut tidak memiliki apa pun ketika mereka tiba dua minggu lalu. [Abdulkadir Mohamed/NRC] (sumber: Al Jazeera)

I Ketut Sandika Manusia IHDN Masa Kini


I Ketut Sandika menulis buku tentang Siwa Tattwa. Diterbitkan dan didistribusikan oleh www.baliwisdom.com Agustus 2018. Indonesia pada era Majapahit kaya akan karya sastra. Diperlukan pemuda-pemudi yang ulet dan tekun untuk menggarap teks-teks warisan leluhur ini untuk disesuaikan dengan semangat kebangsaan di tanah air saat ini.

I Ketut Sandika lahir pada tanggal 11 Februari 1988. Tulisan-tulisannya berkisar di sekitar  kajian budaya, agama dan spiritual mistik Nusantara. Ruang mistik Siwaistik sangat rahasia. Tidak mudah mengerti ajaran mengenai Yoga. Kesadaran sang diri untuk bersatu dengan sang pencipta adalah konsep yang abstrak. Only by love can men see me begitu kata Juan Mascro menerjemahkan ayat Bhagawad Gita.

I Ketut Sandika menulis buku agama yang dapat memenuhi kebutuhan umat  di masyarakat luas terutama di Bali. Orang Bali tidak boleh buta terhadap ajaran sastra Bali agar tidak kehilangan jati diri. Budaya asing menyerbu Bali. Lama-kelamaan Bali bisa goyah. Kekhawatiran  rektor UNUD akan punahnya Bahasa Bali cukup beralasan.

I Ketut Sandika adalah  manusia  yang mengabdikan hidupnya  untuk mengungkap kejayaan sastra agama pada  masa Majapahit dan sebelumnya. Tidak semua orang bisa seperti itu. Butuh pengorbanan tenaga dan waktu. Di tengah-tengah derasnya arus materialisme , masih ada segelintir orang Bali yang mempunyai kepedulian pada rontal-rontal peninggalan pendeta di masa lalu.

(I Wayan Budiartawan, penulis pernah jadi dosen ITB)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama