Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Gara-gara Tekanan Oknum Dewas, Pasar Jaya Rugi Rp 3 Miliar, GNPK-RI: Harus Diusut Tuntas

Basri Budi Utomo SH, Ketua Umum Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (GNPK-RI)
JAKARTA (wartamerdeka.info) -  Gara-gara tekanan oknum dewan pengawas (Dewas) kepada Direksi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Jaya untuk menunjuk BNI, Bank DKI dan Jakpro mengelola parkir di 34 pasar eks Dishub tanpa tender, dampaknya mulai terasa saat ini.

"Salah satunya Pasar Jaya merugi, alias Bank DKI  utang kepada Perumda," ujar sumber di divisi keuangan perusahaan tersebut.

"Berapa?"

Sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, sumber itu berbisik. "Rp 3 miliar," ungkapnya pelan. Sebuah jumlah yang tidak kecil.

Sementara BNI, yang sebelumnya mengelola 14 titik parkir eks Dishub, belum ada bocoran. "Lagi diaudit, sabar ya," bisiknya pelan.

Ironisnya, kata sumber sambil menghela nafas panjang, hutang itu sulit ditagih mengingat kerjasama sudah diputus per-November 2019. Sejak itu ke 34 titik parkir dikelola perusahaan plat merah yakni BNI dan Jakpro, lagi-lagi tanpa tender.   
                     
"Transaksi dilakukan di kolong meja antara Dirut, BNI dan Jakpro," jelas sumber yang minta dilindungi identitasnya.
   
Basri Budi Utomo SH, Ketua Umum Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (GNPK-RI) sangat geram mengamati kasus ini. "Tidak boleh dibiarkan, harus diusut tuntas", tegasnya.     

Ditemui di Grand  Cempaka hotel Jakarta Pusat, Senin (2/12/19), Basri meminta agar gubernur Anies Baswedan segera turun tangan.

 "GNPK-RI sudah memberikan info kepada beberapa anggota DPRD DKI Komisi B dan mendapat respon positif. Minggu depan akan diagendakan untuk dibicarakan"  tuturnya.   
               
Dia mempertanyakan sikap Ketua Dewas Rikrik yang dinilai tidak terbuka dan transfaran.

"Padahal dimana-mana dia selalu sesumbar akan pasang badan demi Anies. Faktanya dia ngumpeti badan di belakang Anies" pungkasnya. 
           
Soal hutang Rp 3 miliar ini belum dapat dikonfirmasi kepada Direktur Administrasi dan Keuangan Perumda Pasar Jaya. Dihubungi beberapa kali, ponsel yang bersangkutan tidak aktif. (tim)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama