Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

BPS Gereja Toraja Klarifikasi Soal Pemilihan Rektor UKI Toraja

Ketua Umum BPS Gereja Toraja Musa Salusu

MAKASSAR (wartamerdeka.info) -  Pemilihan Rektor (Pilrek) UKI Toraja akhirnya jadi polemik karena diduga menyimpang dari aturan yang ada.
Pro-kontra muncul dengan berbagai argumen yang dilontarkan. Belum juga ditetapkan resmi calon terpilih, Oktovianus Pasoloran, timbul riak yang menghantam hasil pilrek itu. Pasalnya, diduga ada intervensi oknum petinggi BPS Gereja Toraja. Tujuannya untuk menggolkan calon tertentu.

Tudingan ini, seperti dilansir sebuah media online dan media lainnya, lantas mengundang reaksi Ketua Umum BPS Gereja Toraja Musa Salusu. Dia pun memberi klarifikasi.

Menurut Musa, dua suara pengurus YPTKM yang dianggap siluman karena tidak hadir secara pisik itu sudah sesuai mekanisme dan tidak menyalahi aturan.

Pihaknya, kata dia, mendengar surat itu diserahkan kepada ketua YPTKM. Surat tersebut berupa surat kuasa atau rekomendasi dari kedua pengurus yayasan yakni Theo Kristian Seleng dan Linda C.S, istri Bupati Torut Kala'tiku Paembonan.

Musa menjelaskan, dalam aturan yayasan anggota yayasan yang tidak hadir boleh mendelegasikan suaranya dalam pilrek. Acuannya tetap pada anggaran dasar. Jika ada yang tidak hadir dalam pilrek dan ada surat kuasa yang dibubuhi materei dianggap sah. "Kemudian disetujui pengurus yayasan dan semua melalui prosedur," timpalnya.

Terkait dirinya yang dianggap melakukan intervensi dengan memanggil ketua yayasan sebelum pemilihan, 30 Desember, kata Musa, pihaknya hanya sebatas menyampaikan tiga hal. Yakni, agar memilih dengan hati nurani dan tidak berada di bawah tekanan. Kemudian pakai akal sehat dan yakinkan rektor terpilih nantinya mampu bekerja sama dengan senat, yayasan dan lembaga Gereja Toraja.

 "Dan siapapun terpilih harus kita dukung sepenuhnya. Hindari keributan setelah itu," bebernya menjelaskan.

Ketua Bidang I BPS Gereja Toraja, Alfred Anggui

Respon rada emosional disampaikan Ketua Bidang I BPS Gereja Toraja, Alfred Anggui.
Lewat Grup WA Tolak MP, baru-baru ini, Alfred menuturkan, 'bagus dibuka' jika masih dipermasalahkan soal pilrek itu.

"Coba tanya pihak yang tidak puas itu, berani kah dibuka? Soal issue skor NOL. Kalau Audit Akuntansi Publik sudah mulai dilaksanakan, nanti akan jelas bagi publik dan warga GT, mengapa kita semua harus bersikap tegas soal UKIT," sebutnya.

Terkait Anggaran Dasar Yayasan seperti apa, utamanya dalam pemilihan dengan pendelegasian hak suara, Alfred menyerahkan kepada pihak YPTKM yang menjelaskan. "Biar pengurus yayasan yang jawab. Karena setahu saya, dari semua yang hadir dalam rapat, tidak satu pun yang persoalkan. Jadi yang ribut ini, peserta di luar rapat," beber Alfred lagi. (Tom)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama