Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

 


IPW: Operasi Senyap KPK Patut Diapresiasi

Neta S Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch

Penangkapan Ketua DPRD dan eks Kepala Dinas PUPR Muara Enim adalah hasil kerja apik intelijen KPK dan Polri tanpa perlu melakukan penyadapan

JAKARTA (wartamerdeka.info) - Operasi senyap yang dilakukan KPK dalam menangkap Ketua DPRD Muara Enim Aries HB dan eks Kepada Dinas PUPR Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan Ramlan Suryadi, patut didukung semua pihak.

Indonesia Police Watch (IPW) memberi apresiasi pada strategi kerja KPK yang dipimpin Komjen Firli dalam penangkapan tersebut.

"Ada lima poin yang membuat KPK patut diapresiasi," ujar Neta S Pane,
Ketua Presidium Ind Police Watch dalam siaran persnya yang diterima redaksi hari ini.

Pertama, kara Neta S Pane, tanpa kehebohan yang penuh pencitraan dan penyadapan, KPK tetap mampu menangkap tersangka korupsi.

Kedua, tersangka korupsi itu adalah Ketua DPRD dari partai penguasa PDIP.

Ketiga, Sumsel adalah kampung halaman Firli, sepertinya Firli hendak membersihkan kampung halamannya terlebih dahulu.

Keempat, penangkapan itu adalah pengembangan dari sidang pengadilan Tipikor.

Kelima, penangkapan ini dilakukan KPK di tengah maraknya wabah Corona. Artinya di tengah wabah virus, jajaran KPK tetap bekerja serius memburu para koruptor.

Penangkapan ini diduga terkait kasus suap yang menjerat Bupati Muara Enim, Ahmad Yani, yang sedang menjalani persidangan karena korupsi terkait pengerjaan 16 proyek jalan dengan nilai total total Rp 129 miliar.

Proyek di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan itu merupakan aspirasi DPRD setempat yang sumber pendanaannya dari APBD tahun 2019.

Yani diduga meminta Kepala Dinas PUPR untuk mencari kontraktor yang bersedia memberikan fee proyek sebesar 15 persen. Dari sini Yani diduga sudah menerima fee proyek sebesar Rp 12,5 miliar. Dana tsb diduga mengalir ke Ketua DPRD.

"Penangkapan Ketua DPRD dan eks Kepala Dinas PUPR ini adalah hasil kerja apik intelijen KPK dan Polri tanpa perlu melakukan penyadapan," tandasnya.

Kedua tersangka dipantau dengan intensif. Begitu keduanya tercium bergerak ke Palembang, petugas KPK langsung menciduknya dan membawanya ke Jakarta lewat jalan darat.

Menurutnya, strategi penangkapan ini patut diacungi jempol dan menunjukkan adanya sinerji yang solid antara aparatur di lapangan.

Tidak seperti KPK era sebelumnya dimana aparatur lembaga anti rasuah ini merasa superioritas bekerja sendiri dengan alasan operasinya khawatir "bocor". Dengan adanya penangkapan terhadap Ketua DPRD Muara Enim tersebut, IPW berharap Komjen Firli bisa melanjutkan operasi senyapnya untuk menciduk para koruptor, terutama terhadap koruptor dari pengembangan kasus di pengadilan Tipikor. (A)

Posting Komentar untuk "IPW: Operasi Senyap KPK Patut Diapresiasi"