Langsung ke konten utama

Populer

Tuhan Menyuruh Kita Lapar

MBG (Makanan Buka berGizi) (9)

Tuhan di Ujung Rindu (8)

Bupati Barru Lantik 153 Pejabat, Langkah Strategis Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik

Antara Takjil dan Takdir (7)

Mencari "Wahyu Kamulyan" KUD Minatani

Oleh : W. Masykar. 

Wahyu Kamulyan, sebuah cerita lakon yang rupanya menjadi pilihan Pengurus KUD Minatani Brondong Lamongan saat menghelat pagelaran wayang pada Sabtu malam (29/7). 

Wahyu Kamulyan menceritakan kisah Pandawa Lima yang mencari , wahyu untuk bekal hidup dan anak turunannya agar menjadi orang yang mulia disisi sang pencipta.

Wahyu Kamulyan berlatar belakang cerita suatu kerajaan yang sedang mengalami krisis kepemimpinan. 

Krisis kepemimpinan itu lebih disebabkan karena ketidak pahaman mengenai syarat mutlak menjadi seorang pemimpin. 

Mengapa cerita Lakon Wahyu Kamulyan, menjadi pilihan pada pagelaran wayang kulit yang diselenggarakan oleh KUD Minatani? 

Adakah memang lakon tersebut adalah sebuah gambaran saat ini, dimana kepercayaan Pengurus sudah mulai luntur dimata anggotanya, sehingga butuh semacam penyegaran (refresh) untuk bisa menemukan sosok sosok Pengurus yang benar benar amanah, acceptable, kredible, akuntable, luwes,  adaptif dan visioner? 

Atau bisa jadi Pengurus yang saat ini menjabat merasa perlu meletakkan fondasi untuk mengokohkan bangunan Koperasi ke depan? Entahlah! 

Sehingga ke depan, siapapun yang duduk sebagai pimpinan (Pengurus) di Koperasi itu, haruslah sosok yang benar benar memiliki kemampuan lebih, bukan sekadar kemampuan managerial tapi juga leadership. 

Kesadaran akan pentingnya pemimpin yang setidaknya memiliki kemampuan managerial dan leadership itulah, yang layak dibangkitkan sehingga saat pemilihan tidak asal memilih, prinsip like and dislike yang selama ini kerap menjadi pijakan pertama haruslah bisa dirubah dan lebih mengedepankan kemampuan (kualitas)dan kredibilitas menjadi standart utama. 

Pentingnya masukan dari berbagai pihak. Atau dalam bahasa lain, dipahami sebagai kritik. Seperti halnya, lakon Wahyu Kamulyan, sosok punakawan Petruk menempati posisi strategis pada cerita ini, memiliki makna penting. 

Maka, kritik jangan dipahami sebagai ketidaksukaan dari yang menyampaikan kritik. Kritik bahkan bisa menjadi acuan dan pembelajaran penting untuk melakukan evaluasi atas kebijakan dan keputusan apapun. 

Pada cerita Wahyu Kamulyan, Petruk melakukan kritik pedas kepada pemerintahan yang sah, (atau bisa jadi petruk adalah representasi dari Anggota Koperasi yang melancarkan kritik pada lembaga Koperasi (Minatani) akan pentingnya pemimpin atau pengurus Koperasi kedepan yang memiliki visi misi dan mampu membawah lembaga tersebut mencapai kemajuan sesuai yang diharapkan anggota, memberi perubahan mencapai kesejahteraan anggota. 

Umumnya pemimpin atau pada tulisan ini dibatasi Pengurus Koperasi Minatani jangan hanya mengumbar emosi dan nafsu pribadi.

Tidak memperhatikan kepentingan anggota, tapi hanya mengejar kepentingan pribadi dan kelompoknya. 

Pada perjalanan cerita tersebut, Petruk dirasuki Dewa Ruci untuk menerjemahkan Hasta Brata, yakni, delapan (8) nilai kepimpinan. 

Pertama, Watak Surya atau matahari dimana memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan sebagai gambaran keadilan. 

Kedua, Watak Candra atau Bulan diteladani memancarkan sinar kegelapan malam. Cahaya bulan yang lembut mampu menumbuhkan semangat dan harapan-harapan yang indah. 

Ketiga, Watak Kartika atau Bintang diteladani memancarkan sinar indah kemilau, mempunyai tempat yang tepat di langit hingga dapat menjadi pedoman arah. 

Ke empat, Watak Angkasa yaitu langit diteladani ke luasan tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. 

Kelima Watak Maruta atau Angin diteladani selalu ada di mana-mana tanpa membedakan tempat dan selalu mengisi semua ruang yang kosong. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya.

Ke enam, Watak Samudra yaitu Laut atau air yakni seorang yang memiliki derajat dan martabat yang sama, sehingga dapat berlaku adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya. 

Ke tujuh, Watak Dahana atau Api diteladani Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan harus bisa menegakkan kebenaran dan keadilan secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu.

Ke delapan Watak Bumi yaitu tanah diteladani mempunyai sifat kuat dan bermurah hati.

Kerinduan masyarakat akan hadirnya seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat kemulyaan akhirnya terobati, dengan hadirnya Bima.

Bima mampu mewujudkan impian nya untuk dapat meraih perbaikan kesejahteraan yang lebih baik, dimana hal itu tergambar pada sifat-sifat kemulyaan ( Kepahlawanan, Kejuangan, Senasib Seperjuangan dan Merakyat, yang dimiliki tokoh Bima. 

Lantas, siapakah diantara lima orang pengurus Koperasi yang bisa digambarkan seperti sosok Bima? Bisa jadi Ketua, wakil ketua. Sekretaris atau wakil Sekretaris atau Bendaharanya. 

Karena usia misalnya, tertua tidak menjadi jaminan, seperti halnya Pandawa. 

Lima tokoh anak Pandu seorang raja Hastinapura ini, Bima yang bukan saudara tertua justru menjadi sosok penting dengan sifat sifat Kamulyan nya. 

Yang termuda pun belum tentu mampu memiliki sifat Kamulyan. Seperti halnya lima tokoh Pandawa; Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. 

Bima, bukan yang tertua, juga tidak yang paling muda. Bisa jadi, karena pagelaran wayang kulit dapat memberi ruang renungan bagi masyarakat sekaligus menanamkan kecintaan budaya. 

Sehingga Pengurus KUD Minatani merasa butuh ruang untuk melakukan evaluasi dengan cara menggelar pertunjukan wayang. A

palagi, wayang bukan saja sebuah tontonan, tapi sekaligus tuntunan. Wayang memiliki cerita penuh filosofi  dari watak karakter tokoh wayang yang mencerminkan kepribadian manusia secara utuh.(*) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Dasar antara Sertifikasi Profesi, Sertifikasi Pendidik, dan Sertifikasi Guru Penggerak

Oleh : YM. Sjahrir Tamsi  Dalam dunia pendidikan, sertifikasi memiliki peran penting sebagai pengakuan resmi atas kompetensi seseorang dalam bidang tertentu. Namun, sering kali terdapat kebingungan untuk membedakan antara Sertifikasi Profesi, Sertifikasi Pendidik, dan Sertifikasi Guru Penggerak.  Ketiga jenis sertifikasi ini memiliki fokus, tujuan, dan proses yang berbeda. Artikel ini membahas perbedaan mendasar di antara ketiganya berdasarkan peraturan perundang-undangan berlaku di Indonesia. 1. Sertifikasi Profesi Defenisi : Sertifikasi Profesi adalah pengakuan "Kompetensi Kerja" seseorang di bidang tertentu berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Sertifikasi ini dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Ketiga (LSP-P3) yang independen dan terlisensi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi Republik Indonesia (BNSP RI). Tujuan : Memberikan pengakuan kompetensi profesional di berbagai sektor pekerjaan atau profesi. Menjamin tenaga kerja yang ...

MS Bulganon H. Amir: YASKUM akan Dirikan Sekolah dan Pesantren Gratis

Ir Teuku Muhammad Syamsoe Bulganon Hasbullah Amir, pendiri YASKUM . Oleh: M. Aris Kuncoro JAKARTA (wartamerdeka.info) -  Ada khabar gembira dari Yayasan Kharisma Usada Mustika (YASKUM). Lembaga yang bergerak di bidang sosial ini kini tengah bersiap-siap hendak menyelenggarakan pesantren gratis dan sekolah umum gratis, bagi warga masyarakat tidak mampu. Untuk program sekolah umum gratis ini rencananya akan dibuka dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Andi Ina: Pastikan Golkar Rumah Bagi Kader

Makassar (wartamerdeka.info) - Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari yang juga Bendahara Partai Golkar Provinsi Sulawesi Selatan menghadiri acara buka puasa dan tarwih berjamaah bersama AMPG Sulsel di Four Point Sheraton, Selasa (18/3/2025).  Selain Andi Ina, hadir Walikota Makassar, Munafri Arifuddin, Bupati Selayar, Nasir Ali, Bupati Luwu, Patahuddin, Bupati Soppeng, Suardi Haseng, Wakil Bupati Jeneponto, Islam Iskandar, dan Wakil Bupati Wajo, Baso Rahmanuddin.  Hadir pula anggota DPRD dari Fraksi Golkar Barru diantaranya, Drs. H. Syamsuddin Muhiddin, M. Si yang juga Ketua DPRD. Rusdi Cara, Herman Jaya dan Hacing.  Andi Ina mengatakan, momentum ini bukan sekadar berbagi hidangan berbuka, tetapi juga ajang memperkuat soliditas dan komitmen dalam membangun Golkar yang semakin kuat.  Tentu, katanya, pihaknya sebagai kader selalu siap mendukung setiap inisiatif yang mempererat barisan, memastikan bahwa semangat kekeluargaan dan kepedulian sosial tetap menjadi fondasi utam...