JAKARTA (wartamerdeka.info) - Presiden Joko Widodo mengatakan Presiden Indonesia
berikutnya yang akan menggantikan dirinya melalui Pilpres tahun 2024,
harus berani meneruskan hilirisasi di segala bidang demi kemajuan
Indonesia.
“Apa pun risikonya pemimpin Indonesia berikutnya
harus berani dan tetap hilirisasi ini diteruskan, karena membuka
lapangan kerja 10,5 juta," kata Jokowi dalam pembukaan
workshop
dan Rapat Koordinasi Nasional Pemenangan Pemilu Partai Amanat Nasional
(PAN) di Semarang, Jawa Tengah, Minggu, sebagaimana dipantau secara
daring melalui tayangan langsung PAN TV dari Jakarta.
Dia
mengatakan Indonesia tidak boleh berbelok lagi atas keputusan hilirisasi
yang memiliki konsekuensi menghentikan ekspor bahan mentah di segala
bidang, sekalipun risikonya Indonesia bisa saja dimusuhi negara-negara
lain.
"Jangan sampai berbelok lagi, yang namanya ekspor bahan
mentah kita geser jadi ekspor barang setengah jadi atau barang jadi.
Meskipun risikonya kita banyak dimusuhi negara-negara lain. Karena
pabrik-pabrik di sana (negara lain), industri di sana menjadi setop
karena bahan mentahnya tidak kita ekspor. Itu yang namanya hilirisasi,"
jelasnya.
Dia mengulas, Indonesia telah menghentikan ekspor
bahan mentah nikel tahun 2020, yang menuai gugatan dari negara-negara
Uni Eropa di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Meski kalah dalam
gugatan, Presiden Jokowi menegaskan Indonesia tidak boleh mundur.
Oleh karena itu, kata dia, Indonesia mengajukan banding.
"Kalau kita kalah kemudian kita ragu untuk berbelok lagi ekspor
bahan mentah, sampai kapanpun negara ini tidak akan menjadi negara maju.
Itu selalu saya ulang-ulang kepada menteri. ya kita kalah, tapi terus
maju. Usahanya apa? Ya banding. Nggak tahu nanti kalau banding lagi
kalah, apakah ada banding lagi, diberi kesempatan ya banding lagi,"
tuturnya.
Dia mengatakan yang terpenting selama proses banding dilakukan,
Indonesia terus mempersiapkan industri hilirisasi. Sehingga apa pun
hasil banding tersebut, industri nasional sudah siap.
"Nikel
sudah siap kita sekarang ini. Kita akan setop lagi bulan Juni (2023)
bauksit. Setop. Padahal, hati-hati, 90 persen ekspor bahan mentah
bauksit kita itu ke Tiongkok. Nggak tahu dia nanti gugat kita nggak.
Kalau digugat ya berarti nikel-nya digugat Uni Eropa, bauksit-nya
digugat Tiongkok, karena 90 persen ekspor bahan mentah kita ke sana,"
kata Jokowi.
Meskipun demikian, Jokowi menegaskan Indonesia
akan terus berupaya menghentikan ekspor bahan mentah secara bertahap.
Setelah nikel, kemudian bauksit, Indonesia juga akan menghentikan ekspor
bahan mentah timah, tembaga, hingga emas.
Presiden dalam
kesempatan berbeda juga pernah menyebut bahwa hilirisasi tidak hanya di
sektor pertambangan, melainkan juga harus dilakukan di sektor pertanian,
perkebunan dan perikanan.
"Apa yang akan kita dapatkan
(dengan hilirisasi)? Banyak yang bertanya kepada saya, Pak ini setop,
yang dapat perusahaan-perusahaan gede? Jangan keliru," ujar Jokowi.
Dia menjelaskan, sebelum dilakukan hilirisasi, ekspor nikel hanya
berada di angka Rp17 triliun. Kini setelah dilakukan hilirisasi nikel
menjadi barang jadi dan barang setengah jadi, ekspor berkaitan nikel
sudah di angka Rp450 triliun.
"Dari situ lah negara
mendapatkan yang namanya pajak penghasilan, pajak PPN, pajak karyawan,
penerimaan negara bukan pajak, dapat bea ekspor. Kalau kita ikut tadi
perusahaan itu, seperti di Freeport, kita dapat dividen, dapat royalti,
dari situlah masuk sebagai penerimaan negara," paparnya.
"Dari penerimaan negara itulah kita bisa membiayai pembangunan di desa.
Kita bisa menganggarkan bantuan sosial. Jadi alur-nya seperti itu.
Dampak hilirisasi itu luar biasa besarnya kalau ini semua bahan bahan
mentah semua bisa kita hilirkan semuanya. PDB bisa melompat ke angka
Rp11.000 triliun. Lapangan kerja yang akan terbentuk bisa 10,5 juta,"
tambah dia.
Dia mengingatkan jangan sampai Indonesia terus
melakukan ekspor bahan mentah dan membuat kesempatan kerja hanya terbuka
di negara tetangga.
"Apakah ini (ekspor bahan mentah) akan kita teruskan? Saya kira jawabannya tidak," jelasnya. (An)
Komentar
Posting Komentar