(Cah Sedayu Asli Pegiat Sejarah Lokal, Praktisi Pendidikan SMAN 1 Lamongan dan SMAN 1 Paciran)
Di pesisir utara Jawa, kawasan "Sedayu Lawas", tepatnya Lamongan Utara, wilayah pelabuhan tua yang kini dikenal sebagai "Brondong". Wilayah ini sejak lama menjadi bagian dari jalur perdagangan maritim pantai utara Jawa yang menghubungkan Tuban, Gresik, hingga Madura.
Menariknya, dalam berbagai peta kuno Eropa sejak abad ke-16 hingga abad ke-19, nama "Brondong" muncul dalam berbagai bentuk ejaan yang berbeda. Varian nama ini tidak menunjukkan tempat yang berbeda, melainkan merupakan adaptasi fonetik orang Eropa terhadap pengucapan lokal Jawa.
Perubahan ejaan tersebut memperlihatkan bagaimana para pelaut Portugis, Belanda, dan Prancis mencoba menuliskan nama tempat yang mereka dengar dari penduduk lokal.
Salah satu bentuk paling awal yang diduga merujuk pada Brondong muncul dalam catatan pelaut Iberia sekitar tahun 1580. Dalam beberapa sumber peta Portugis–Spanyol, pelabuhan kecil di sekitar wilayah Sedayu dicatat sebagai Brodao.
Ejaan ini memperlihatkan ciri khas transliterasi Portugis yang sering menggunakan huruf “ao” untuk melambangkan bunyi asal. Banyak pelaut Portugis pada abad ke-16 menuliskan nama tempat di Nusantara secara fonetik berdasarkan pendengaran mereka terhadap bahasa lokal.
Kemungkinan besar, Brodao adalah upaya awal menuliskan bunyi Brondong dalam sistem fonologi Iberia.
2. Abad ke-16: "Brodam" dan "Bradam" bentuk paling awal yang tercatat muncul pada akhir abad ke-16. Dalam "peta Portugis yang digubah sekitar tahun 1599, wilayah ini ditulis sebagai "Brodam". Penulisan ini kemungkinan berasal dari upaya kartografer Portugis menyalin pengucapan lokal yang mereka dengar di pesisir Jawa.
Pada masa yang hampir sama, dalam catatan perjalanan ekspedisi Belanda tahun 1596, navigator Belanda Willem Lodewijcksz menuliskan nama tempat ini sebagai "Bradam" dalam versi publikasi bahasa Prancis dari catatan perjalanannya.
Variasi Brodam dan Bradam ini menunjukkan bahwa bunyi "ron" atau "rod" dalam pengucapan Jawa sering dipersepsikan sebagai "rad" atau "rod" oleh penulis Eropa.
Pada periode ini wilayah pesisir tersebut masih berada di lingkungan politik Kadipaten Sedayu, sebuah pusat kekuasaan pesisir penting antara Tuban dan Gresik.
3. Awal abad ke-17: "Brandam" dan "Brandon" memasuki abad ke-17, variasi penulisan semakin berkembang. Dalam peta Portugis tahun 1615 karya sejarawan Portugis João de Barros, nama wilayah ini muncul sebagai "Brandam".
Sementara itu, pada peta tahun 1616 karya kartografer Belanda "Petrus Bertius", ejaan yang digunakan adalah "Brandon".
- Perbedaan dialek pengucapan lokal
- Kesulitan orang Eropa menuliskan konsonan Jawa
- Transliterasi dari bahasa Melayu pelabuhan
Bunyi "-dong" dalam bahasa Jawa sering dipersepsikan oleh orang Eropa sebagai "dam" atau "don".
Dalam "peta Prancis tahun 1719", muncul bentuk yang cukup berbeda: "Bufaria". Bentuk ini diduga bukan perubahan nama, melainkan "kesalahan kartografis atau distorsi fonetik" akibat:
- penyalinan peta sebelumnya
- kesalahan pembacaan manuskrip
- perbedaan bahasa antara Portugis, Belanda, dan Prancis
Dalam peta yang sama, wilayah "Sedayu" sendiri ditulis sebagai "Sydhaya", menunjukkan perubahan ejaan memang lazim terjadi pada peta-peta Eropa mengenai Jawa.
Memasuki masa kolonial Belanda yang lebih sistematis, nama wilayah ini akhirnya kembali ke bentuk yang lebih mendekati pengucapan lokal.
Wilayah ini kemudian berkembang menjadi kawasan pesisir yang berfungsi sebagai:- pelabuhan perikanan
- pusat aktivitas nelayan
- jalur perdagangan pesisir
Rekonstruksi Evolusi Nama Brondong
| Tahun | Bentuk Nama | Sumber
1) [1580 ] Brodao ] Ferari Catatan Iberia ]
2) | 1596 | Bradam | Catatan perjalanan Willem Lodewijcksz |
3) | 1599 | Brodam | Peta Portugis|
4)| 1615 | Brandam | Peta João de Barros |
5) | 1616 | Brandon | Peta Petrus Bertius |
6) | 1719 | Bufaria | Peta Prancis |
7) | 1883 | Brondong | Peta kolonial Belanda|
Variasi nama ini menunjukkan beberapa hal penting dalam sejarah pesisir Jawa:
1. Pelabuhan pesisir kecil seperti Brondong sudah dikenal pelaut Eropa sejak abad ke-16.
2. Nama lokal sering berubah dalam peta Eropa karena penyalinan dari pengucapan lisan.
3. Hubungan geografis dengan Sedayu Lawas menunjukkan bahwa wilayah ini kemungkinan berfungsi sebagai pelabuhan atau jalur maritim dari pusat politik Kadipaten Sedayu.

Brondong dan Pesisir Sedayu
Kedekatannya dengan Sedayu Lawas menjadikannya bagian dari jaringan pelabuhan tua yang sejak abad ke-16 sudah dikenal para pelaut asing.
Dalam konteks sejarah maritim Jawa, pelabuhan kecil seperti Brondong sering menjadi tempat singgah kapal dagang sebelum memasuki pelabuhan besar seperti Tuban, Gresik, atau Surabaya.
Perjalanan nama Brondong menunjukkan bagaimana sebuah tempat di pesisir Jawa tercatat dalam berbagai tradisi kartografi Eropa.
Dari Brodao, Brodam, Brandam, Brandon, Bradam, Bufaria, hingga akhirnya Brondong, semua variasi tersebut merupakan jejak linguistik dari interaksi antara pelaut Eropa dengan dunia maritim Jawa sejak abad ke-16.
Melalui perubahan ejaan itu pula kita dapat melihat bagaimana sebuah pelabuhan kecil di dekat Sedayu Lawas sudah masuk dalam peta global pelayaran dunia sejak masa awal ekspansi Eropa di Asia.
1) Barros, João de. "Décadas da Ásia". Lisbon, abad ke-16 (peta Portugis 1615).
2) Bertius, Petrus. "Tabularum Geographicarum Contractarum". Amsterdam, 1616.
3) Lodewijcksz, Willem. "Historie van Indien" (catatan ekspedisi 1596).
4) Chambali, Achmad. "Sejarah Islamisasi Pesisir Lamongan". Lamongan, 2001.
5) Badan Pusat Statistik Kabupaten Lamongan. "Kecamatan Brondong Dalam Angka". ([Badan Pusat Statistik Kabupaten Lamongan][2])
6) Pemerintah Kabupaten Lamongan. "Profil Kecamatan Brondong". ([brondong.lamongankab.go.id][1])
[1]:https://brondong.lamongankab.go.id/profil/tentang-kami?utm_source=chatgpt.com "Tentang Kami | Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan"
[2]:https://lamongankab.bps.go.id/id/publication/2023/09/26/0effc19cf9e539678de68fa5/kecamatan-brondong-dalam-angka-2023.html/?utm_source=chatgpt.com "Kecamatan Brondong Dalam Angka 2023".(*)

