INFO

Selamat Membaca Media Berkelas Dikhususkan Untuk Anda

About Us

wartamerdeka.info

Warta Merdeka, sebuah portal berita yang berdedikasi untuk menyajikan informasi terkini dan mendalam, menjadi sumber terpercaya bagi pembaca.

BERITA FOTO

 

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan Raja Kerajaan Yordania Hasyimiah, Raja Abdullah II ibn Al Hussein, di Istana Basman, Amman, pada Rabu (25/02/2026).

Tadarus Kilat, Hati Lambat (15)

 


Oleh: Kamaruddin Hasan 

Sudah khatam berapa, Pak?”
“Alhamdulillah, tiga”
“Masya Allah, cepat sekali.”

“Iya, ini pakai mode 1,5x.”

Mode 1,5x?
Saya terdiam. Ini tadarus atau nonton podcast?

Ramadan selalu melahirkan dua jenis kecepatan: kecepatan tangan dan kelambatan hati. Tangan kita bisa berlari di atas mushaf, jari lincah menggulung halaman. Tapi hati? Masih loading. Kadang buffering. Kadang malah “tidak tersambung ke server langit”.

Fenomena ini bukan untuk ditertawakan, tapi sulit juga tidak tersenyum. Kita hidup di era serba cepat. Makan cepat, kirim pesan cepat, viral cepat. Bahkan ibadah pun ingin cepat. Seolah-olah pahala bisa dikejar seperti promo tanggal kembar.

Padahal kitab yang kita baca itu adalah firman Allah, bukan sekadar teks biasa. Ia bukan novel detektif yang dikejar ending-nya. Ia adalah petunjuk hidup, seperti yang ditegaskan dalam Al-Qur’an: “Hudan linnas” petunjuk bagi manusia (QS. Al-Baqarah: 185). Tapi entah kenapa, kita lebih sibuk mengejar target halaman daripada menemukan petunjuk jalan.

Suatu malam saya duduk di masjid, menyimak jamaah tadarus. Suaranya kompak, cepat, berderap seperti kereta ekspres. Saya ikut membaca. Baru sampai ayat tentang sabar, rombongan sudah pindah ke ayat tentang syukur. Saya masih tertinggal, merenungi satu kalimat yang menusuk: “Innallaha ma’ash-shabirin.” Allah bersama orang-orang yang sabar.

Saya spontan bergumam, “Ya Allah, mungkin Engkau bersama orang sabar. Tapi Engkau ketinggalan dengan bacaan kami.”

Seorang jamaah menoleh, “Pak, jangan ketinggalan, nanti gak khatam.”

Nah, ini dia. Kata “khatam” terdengar seperti garis finish lomba lari. Siapa tercepat, dia pemenang. Foto bersama. Upload. Caption: Alhamdulillah, khatam 30 juz.

Like berdatangan.

Hati? Masih antre disentuh ayat.

Bukan berarti tadarus cepat itu salah. Banyak ulama besar yang mampu membaca dengan cepat karena hafalan dan pemahamannya sudah menyatu dengan jiwa. Kecepatan mereka bukan karena ingin pamer target, tapi karena hatinya memang sudah akrab dengan kalam Ilahi. Cepat di lisan, cepat pula di rasa.

Yang jadi soal adalah ketika lisan berlari, tapi hati tertatih.

Kita seperti orang yang membaca surat cinta dengan kecepatan announcer diskon. Padahal tiap kata menyimpan rindu. Al-Qur’an itu bukan hanya untuk dilafalkan, tapi untuk ditadabburi direnungi. Imam besar seperti Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an tanpa kehadiran hati ibarat tubuh tanpa ruh. Hidup, tapi tak bernyawa.

Dialog imajiner ini mungkin akrab: “Apa yang kamu dapat dari ayat yang kamu baca?”

“Dapat satu juz.”

“Maksud saya, pesan apa?”

“Pesan? Oh… belum sempat buka.”

Lucu, tapi menampar.

Ramadan seharusnya mengajari kita melambat. Lapar saja kita tahan berjam-jam. Mengapa membaca firman Tuhan tidak kita beri ruang barang beberapa detik untuk berhenti dan merenung? Satu ayat yang meresap jauh lebih berharga daripada satu juz yang lewat tanpa bekas.

Bayangkan jika setiap selesai membaca satu halaman kita berhenti sebentar dan bertanya:

“Ayat ini sedang menegur siapa?”
“Jangan-jangan saya.”

Itu mungkin lebih berat daripada menambah target juz. Karena merenung artinya siap berubah. Dan berubah itu tidak secepat menggulir layar.

Ramadan bukan hanya bulan tilawah, tapi bulan transformasi. Al-Qur’an pertama kali turun bukan untuk dikhatamkan dalam sebulan, tapi untuk membentuk peradaban dalam waktu panjang. Ia membentuk generasi seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman bukan karena mereka cepat membaca, tetapi karena mereka cepat taat.

Jadi, apa solusinya?
Mungkin kita tetap boleh punya target khatam. Silakan. Tapi sisipkan target lain: satu ayat sehari yang benar-benar kita pahami dan praktikkan. Misalnya hari ini ayat tentang jujur. Besok ayat tentang menahan marah. Lusa ayat tentang memaafkan.

Bayangkan jika 30 hari Ramadan menghasilkan 30 perubahan kecil. Itu lebih revolusioner daripada 30 juz yang hanya singgah di tenggorokan.

Akhirnya saya kembali ke pertanyaan awal.

“Sudah khatam berapa, Pak?”

Saya ingin menjawab begini:

“Belum khatam. Tapi saya sedang berusaha agar satu ayat saja benar-benar tamat di hati.”

Karena boleh jadi masalah kita bukan kurang cepat membaca, tapi kurang lambat meresapi.

Tadarus kilat boleh saja, asal hati jangan lambat.

Redaktur

No Comment

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama