Ramadan hari ini bukan hanya hadir di masjid dan mushala. Ia juga hadir di story. Bukan sekadar di sajadah, tetapi di linimasa. Setiap menjelang berbuka, jagat maya mendadak religius. Doa-doa bertebaran, ayat-ayat meluncur, kutipan hikmah mengalir deras seolah-olah server media sosial ikut berpuasa.
“Semoga doa kita diijabah,” tulis seseorang dengan latar foto langit senja dan segelas es buah.
Di bawahnya, seratus komentar: “Aamiin .”
Indah? Tentu. Mengharukan? Kadang-kadang. Tetapi di antara doa dan drama, ada ruang refleksi yang sering terlewat.
Ramadan memang bulan spiritual. Kementerian Agama Republik Indonesia setiap tahun mengampanyekan penguatan moderasi dan kesalehan sosial. Masjid-masjid ramai, kajian daring menjamur, lembaga filantropi kebanjiran donasi. Bahkan platform seperti Instagram dan TikTok mendadak penuh konten tausiah 60 detik.
Agama dan algoritma berjumpa.
Namun di tengah banjir konten religius itu, kita menyaksikan fenomena yang menarik: spiritualitas yang kadang bercampur dengan sensasi. Ada yang mengunggah doa dengan tulus. Ada pula yang tanpa sadar menjadikan Ramadan sebagai panggung eksistensi.
Seseorang mengunggah video menangis saat doa qunut. Caption-nya panjang, dramatis, penuh metafora patah hati dan pengkhianatan. Doa berubah menjadi narasi sinetron. Air mata menjadi thumbnail.
Kita tentu tidak berhak menghakimi isi hati siapa pun. Doa adalah wilayah paling personal antara hamba dan Tuhannya. Tetapi ketika doa dipublikasikan, ia memasuki ruang tafsir publik. Ia bisa menginspirasi, tapi juga bisa menjadi konsumsi.
Di sinilah garis tipis antara doa dan drama.
Ramadan mengajarkan ketulusan. Tetapi media sosial mengajarkan keterlihatan. Dua arus ini kadang beriringan, kadang berseberangan. Kita ingin dekat dengan Tuhan, sekaligus tetap terhubung dengan pengikut. Kita ingin khusyuk, tetapi juga ingin engagement.
Dialog batin itu nyata.
“Posting doa ini, biar jadi pengingat banyak orang.”
“Iya, tapi jangan-jangan aku juga ingin dilihat sebagai orang yang religius.”
Tidak semua publikasi adalah riya. Ada konten yang benar-benar membangkitkan semangat ibadah. Banyak dai muda memanfaatkan platform digital untuk dakwah kreatif. Bahkan sebagian generasi yang mungkin tak datang ke majelis taklim, justru mendapat sentuhan pertama agama dari video pendek di linimasa.
Masalahnya bukan pada medianya. Masalahnya pada orientasinya.
Ketika doa menjadi konten, kita perlu ekstra waspada. Jangan sampai yang kita cari bukan lagi ridha Tuhan, melainkan validasi manusia. Jangan sampai yang kita tunggu bukan lagi “ijabah”, melainkan “view”.
Ramadan seharusnya mengajarkan sunyi. Ada malam-malam panjang ketika seseorang bangun tanpa kamera, tanpa live streaming, tanpa saksi selain Tuhan. Di situlah spiritualitas tumbuh paling jujur. Tidak ada filter. Tidak ada musik latar. Hanya bisikan lirih yang mungkin tak terdengar siapa pun kecuali Yang Maha Mendengar.
Dalam perspektif psikologi religius, pengalaman spiritual yang paling dalam seringkali bersifat privat. Ia tidak selalu membutuhkan publikasi. Bahkan, semakin intim relasi itu, semakin sulit ia dijelaskan dengan kata-kata, apalagi dijadikan konten.
Maka pertanyaannya sederhana: ketika kita mengunggah doa Ramadan, apakah ia lahir dari limpahan hati, atau dari kebutuhan atensi?
Ramadan bukan festival kesalehan musiman. Ia adalah madrasah pengendalian diri. Jika kita mampu menahan lapar dan dahaga, seharusnya kita juga mampu menahan dorongan untuk selalu terlihat.
Boleh saja berbagi doa. Boleh saja menulis refleksi. Tetapi mari jaga agar esensinya tetap suci. Jangan biarkan drama mengaburkan doa. Jangan biarkan panggung menggantikan sajadah.
Sebab pada akhirnya, yang mengubah hidup bukanlah story yang tayang 24 jam, melainkan doa yang mungkin tak pernah tayang tetapi menembus langit.
Dan Tuhan, kita percaya, tidak pernah menilai dari seberapa estetis unggahan kita. Ia menilai dari seberapa tulus getaran hati kita.

