Kritik

 Oleh : W. Masykar
Pimpred wartamerdeka.info

Enam huruf - dirangkai menjadi satu kata yang banyak pihak menghindari meskipun sebagian lainnya menjadikannya sebagai modal untuk menyampaikan masukan dan ide ide dari ketidakadilan dan keburukan yang kerap terjadi.
Kata itu adalah kritik. Banyak pihak berusaha menghindari kritik bahkan marah jika dikritik.Apalagi di era dimana medsos menjadi media paling mudah untuk menyampaikan kritik - terutama para pengelola negara berusaha menghindari kritik meski secara formalitas siap menerima kritik. Tidak sedikit pengelola negara pada suatu kesempatan menyampaikan siap menerima kritik, sebaliknya dikesempatan lain, saat benar dikritik berusaha menghindar bahkan membenci kritikan itu.

Aristoteles memandang Kritik sebagai masukan yang membangun dan berkah, bukan penghancur mental, yang membedakannya dari tindakan mencela. 
Itu sebabnya, banyak orang kerap mempertanyakan antara kritik dan mencela atau kritik dan fitnah kadang tidak jelas. Banyak orang menyampaikan celaan menganggap itu kritik. Dan ini, kerap dijadikan dalih bagi pihak yang dikritik dengan menyebutnya bahwa itu bukan kritik melainkan fitnah dan caci-maki.
Meski demikian kritik - baik dengan nada mencela, aroma fitnah atau sebagai ide dan saran - banyak pihak berusaha menghindar. Pengelola negara (pemerintah) para pejabatnya tidak sedikit (kalau tidak mau disebut hampir semua) berusaha berkerlit dari kritik. Apapun bentuknya.Secara filosofis (filsafat) kritik dipandang sebagai alat rasional, konstruktif, dan emansipatoris guna mengevaluasi kebenaran, norma, atau realitas sosial. Karena itu, kritik bukan sekadar mencela, melainkan proses analisis mendalam untuk membebaskan manusia dari kesesatan berpikir atau dominasi sosial. Kritik yang baik bersifat objektif, berbasis argumentasi kuat, dan bertujuan membangun. 

Sementara Al-Ghazali menyebut kritik yang disampaikan harus dengan metode yang sama dengan pemikir yang dikritik, memahami wacana secara utuh, dan didasarkan pada pengetahuan yang benar, bukan sekadar cemoohan.

Memang harus diakui bahwa tidak semua kritik kadang berbasis argumen dan objektif. Ada juga kritik yang disampaikan dibalut dengan rasa kebencian - sebagai pelampiasan. Apakah perasaan "benci' itu karena tidak didengar atau ada persoalan lain?
Itu sebabnya kritik ada beberapa klasifikasi atau model. Ada bidang kritik sastra, kritik sosial, kritik politik atau model kritik, kritik sinisme, kritik satire, kritik ironi dan kritik sarkasme.
Immanuel Kant (Filsafat Kritis) menyebut kritik bukanlah penolakan, melainkan introspeksi akal budi untuk menentukan batasan kemampuan pengetahuan manusia. Kant menekankan perlunya mempertanyakan apa yang tampak benar untuk menghindari ilusi metafisika.(*)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama