Ketua ICMI Jawa Timur
Ada satu hal menarik tentang Lailatul Qadar. Yaitu: Allah tidak memberi tahu tanggal pastinya. Padahal kalau Allah mau, sangat mudah bagi-Nya untuk menuliskan dengan jelas: malam sekian, tanggal sekian. Selesai. Kita tinggal siap berbondong-bondong pada malam itu.
Tetapi Allah tidak melakukannya. Lailatul Qadar justru dirahasiakan. Akibatnya, setiap sepuluh malam terakhir Ramadhan, jutaan orang berubah menjadi lebih rajin. Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah pun penuh sesak dibanding dari malam-malam sebelumnya.
Di Indonesia pun kita banyak yang seperti itu. Berburu lailatul qadar. Semua karena satu kemungkinan, yaitu: “Siapa tahu malam ini adalah Lailatul Qadar?”. Malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Kalau dihitung kasar, seribu bulan itu sekitar delapan puluh tiga tahun. Artinya, satu malam saja bisa lebih bernilai daripada hampir seluruh umur manusia.
Bayangkan. Delapan puluh tahun ibadah diringkas menjadi satu malam. Allah seperti memberi “diskon besar-besaran” kepada manusia.
Yang menarik, Rasulullah SAW sendiri tidak pernah bersikap santai menghadapi sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa beliau menghidupkan malam-malam itu dengan ibadah dan membangunkan keluarganya.
Artinya, Lailatul Qodar ini bukan malam biasa. Ini malam yang bisa menentukan arah hidup seseorang.
Malam ini kita memasuki malam ke-23. Banyak ulama menyebut malam ganjil di sepuluh hari terakhir sebagai waktu yang sangat mungkin menjadi Lailatul Qadar. Apalagi jika bertepatan dengan malam Jumat.
Tetapi sebenarnya pertanyaannya bukan hanya: “Apakah malam ini Lailatul Qadar?”. Pertanyaan yang lebih penting justru ini: “Jika benar malam ini Lailatul Qadar, apakah kita siap menyambutnya?”
Banyak orang ingin mendapatkan Lailatul Qadar. Tetapi tidak semua orang siap mempersiapkan dirinya. Padahal yang dicari dalam malam ini bukan sekadar pahala yang besar. Yang dicari adalah kedekatan dengan Allah.
Lailatul Qadar bukan pesta langit. Tetapi pertemuan istimewa antara seorang hamba dengan Tuhannya. Tidak perlu acara besar. Tidak perlu ritual yang rumit. Yang diperlukan adalah: Hati yang datang dengan tulus._l
Bisa jadi malam ini terlihat biasa saja. Langitnya sama. Anginnya sama. Suasana kota tetap ramai seperti biasa. Tetapi mungkin saja, pada malam ini para malaikat turun membawa keberkahan yang tidak terlihat oleh mata manusia.
Al-Qur’an menggambarkannya dengan sangat indah: “Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS. Al-Qadr: 5)
Karena itu jangan menunggu sempurna untuk beribadah malam ini. Tidak harus membaca Al-Qur’an berjuz-juz. Tidak harus shalat puluhan rakaat. Bahkan kita bisa memulainya dengan yang sederhana sesuai kemampuan kita.
Misalnya: Shalat dua rakaat dengan khusyuk. Baca beberapa ayat Al-Qur’an dengan hati yang benar-benar dihadirkan. Perbanyak istighfar. Dan berdoa dengan sungguh-sungguh menghadirkan hati kita kepada Allah.
Kita bisa menyampaikan apa yang ada dalam hati kita. Mungkin doa yang lama kita simpan. Mungkin kegelisahan yang belum pernah kita ceritakan kepada siapa pun. Mungkin harapan yang hampir kita lupakan.

Di malam-malam Ramadhan yang tinggal hitungan jari ini, mari kita benar-benar merencanakan aktivitas malam kita dengan baik. Lepas buka puasa mari siapkan diri menggapai lailatul qodar. Jika memang harus tidur sejenak, tidurlah sekitar jam 22.00 untuk niat dan meminta dibangunkan Allah pada jam 01.00. Agar kita bisa beribadah dan bermunajat dengan leluasa hingga fajar.
"Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.* Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” Inilah doa lailatul qodar yang diajarkan Rasulullah kepada Aisyah RA, istri tercinta beliau.
Siapa tahu malam ini adalah malam yang selama ini kita cari. Malam ketika Allah memperbaiki hidup kita. Malam ketika doa-doa lama akhirnya menemukan jawabannya. Malam ketika hati kita kembali menemukan kedamaian.(*)
