Ketua ICMI Jawa Timur
Di penghujung Ramadhan, umat Islam Indonesia kembali berada pada satu momen yang selalu menarik untuk dicermati: menanti kepastian jatuhnya 1 Syawal.
Sebagian telah menetapkan hari raya lebih awal melalui pendekatan hisab. Sementara yang lain masih menunggu hasil rukyat yang akan diputuskan dalam sidang isbat pemerintah. Tahun ini pun kembali mengemuka kemungkinan perbedaan tersebut, sebuah fenomena yang hampir selalu berulang setiap tahun, namun selalu relevan untuk dimaknai secara lebih dewasa.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar: kapan Idul Fitri jatuh? Tetapi lebih dalam: bagaimana umat menyikapi perbedaan itu sendiri?
Perbedaan dalam penetapan 1 Syawal sejatinya berakar pada dua pendekatan utama dalam tradisi keilmuan Islam: hisab dan rukyat.
Hisab bertumpu pada perhitungan astronomi yang presisi dan dapat diprediksi jauh hari sebelumnya. Sementara rukyat menekankan verifikasi empirik melalui pengamatan langsung terhadap hilal, sebagai bentuk kehati-hatian dalam memastikan masuknya bulan baru.
Kedua pendekatan ini bukan bentuk pertentangan, justru ini merupakan manifestasi dari kekayaan metodologi dalam Islam. Para ulama sejak berabad-abad lalu telah berbeda pendapat dalam hal ini, dan perbedaan tersebut diterima sebagai bagian dari dinamika ijtihad.
Lebih dari Sekadar Perbedaan TanggalSayangnya, dalam praktiknya, perbedaan penetapan hari raya kerap dipersepsikan secara simplistic, seolah-olah mencerminkan perpecahan umat. Padahal, jika ditarik lebih dalam, justru di sinilah letak kedewasaan beragama diuji.
Perbedaan ini mengajarkan bahwa: Kebenaran dalam ranah ijtihad bisa bersifat multi-perspektif, Keseragaman bukan satu-satunya ukuran persatuan, dan Toleransi intra-umat adalah fondasi penting dalam kehidupan beragama
Dengan kata lain, Idul Fitri bukanlah semata soal kesamaan tanggal, tetapi tentang kemampuan umat untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Fenomena ini seharusnya tidak berhenti sebagai rutinitas tahunan, tetapi menjadi momentum edukasi publik.
Di sinilah peran negara, ormas Islam, dan para intelektual menjadi penting untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa: Perbedaan metode adalah sah secara syar’I, Keputusan yang diambil masing-masing pihak memiliki dasar ilmiah dan teologis, dan Tidak ada ruang untuk saling menyalahkan dalam wilayah ijtihad.
Jika dikelola dengan baik, perbedaan ini justru dapat menjadi sarana literasi keagamaan yang mencerahkan, bukan sumber kebingungan apalagi konflik.
Menanti 1 Syawal bukan hanya soal menunggu hilal di langit, tetapi juga tentang menata ulang orientasi spiritual dalam diri.
Ramadhan telah mendidik umat untuk menahan diri, membersihkan jiwa, dan mendekat kepada Allah. Maka, puncaknya bukan sekadar perayaan, tetapi adalah sebuah transformasi.
Apa artinya hari raya datang lebih cepat atau lebih lambat, jika hati belum benar-benar kembali kepada fitrah?
Di titik ini, perbedaan tanggal menjadi relatif kecil dibandingkan dengan tujuan besar Ramadhan itu sendiri: yaitu membentuk manusia yang bertakwa.
Boleh jadi, sebagian umat merayakan Idul Fitri lebih dahulu, sementara yang lain menyusul di hari berikutnya. Namun, seluruhnya tetap menghadap kiblat yang sama, mengucap takbir yang sama, dan mengharapkan ampunan dari Tuhan yang sama.
Inilah wajah Islam Indonesia, yang tidak hanya kaya dalam tradisi, tetapi juga matang dalam menyikapi perbedaan. Kita sudah lama mengakui dan mengerti betul, bahwa persatuan tidak selalu berarti seragam. Dan perbedaan tidak selalu berarti perpecahan. Justru di sanalah, kedewasaan umat menemukan maknanya. Selamat Idul Fitri: Taqobbalallohu Minna Waminkum Taqobbal Yaa Karim. Mohon Maaf Lahir dan Bathin.(*)
