About Us

wartamerdeka.info

Warta Merdeka, sebuah portal berita yang berdedikasi untuk menyajikan informasi terkini dan mendalam, menjadi sumber terpercaya bagi pembaca.

Seni Mengelola Hasrat (19)


Oleh : Kamaruddin Hasan 

Suatu sore di bulan Ramadan, seorang teman bertanya dengan wajah serius, seolah sedang memikirkan teori besar.
Puasa itu sebenarnya menahan lapar saja atau menahan hidup juga?”
Saya tertawa. “Kalau menahan hidup, itu bukan puasa. Itu mode pesawat.”
Kami pun tertawa. Tetapi pertanyaan itu menarik. Sebab sesungguhnya Ramadan bukan sekadar latihan menahan makan dan minum. Ia adalah kelas besar tentang seni mengelola hasrat. 

Manusia, sejak lahir, hidup dengan satu mesin utama bernama “hasrat” Hasrat ingin makan. Hasrat ingin memiliki. Hasrat ingin dipuji. Bahkan kadang hasrat ingin terlihat saleh.

Masalahnya, hasrat itu seperti notifikasi ponsel.
Kalau tidak diatur, ia berbunyi terus.

“Ping… ingin makan.”
“Ping… ingin marah.”
“Ping… ingin membalas komentar orang.”
“Ping… ingin beli sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.”

Puasa datang seperti fitur “silent mode” untuk jiwa. 

Ia tidak mematikan hasrat, tetapi mengajarkan kita mengelolanya.

Dalam psikologi modern, manusia yang matang bukanlah manusia yang tidak punya keinginan. Itu mustahil. Yang matang adalah mereka yang mampu menunda dan mengarahkan keinginan. 

Ramadan melatih itu dengan cara yang sangat sederhana.

Bayangkan.

Di depan kita ada air dingin. Tenggorokan kering. Cuaca panas. Tetapi kita berkata pada diri sendiri:

“Nanti… tunggu azan.”

Padahal tidak ada satpam yang menjaga. Tidak ada kamera CCTV. Tetapi kita tetap menahan diri.

Di situlah letak keajaiban puasa. Ia mengubah manusia menjadi manajer bagi dirinya sendiri. 

Seorang teman pernah bercerita dengan nada bercanda.

Kalau di bulan biasa, saya lihat gorengan langsung beli. Tapi di Ramadan, saya bisa menatapnya lama seperti mantan yang sudah move on.”

Puasa memang aneh. Ia membuat kita melihat makanan dengan penuh kontemplasi filosofis. 

Namun sebenarnya bukan gorengan yang sedang kita latih untuk tahan.

Yang sedang kita latih adalah diri kita sendiri.

Masalah besar manusia modern bukan kekurangan fasilitas. Justru kebalikannya: terlalu banyak pemicu hasrat. 

Diskon di mana-mana.
Konten di mana-mana.
Godaan di mana-mana.

Kadang kita bahkan lapar bukan karena perut, tetapi karena mata dan pikiran.

Lihat iklan makanan: lapar.
Lihat orang liburan: ingin liburan.
Lihat tetangga beli mobil: ingin ganti mobil.

Hasrat bekerja seperti mesin fotokopi: cepat sekali menggandakan keinginan.

Di tengah dunia seperti itu, puasa datang sebagai kursus singkat tentang pengendalian diri. 

Ia mengajarkan satu kalimat sederhana:

“Tidak semua yang kita inginkan harus segera kita lakukan.”

Ramadan juga mengajarkan bahwa mengelola hasrat bukan berarti memusuhinya.

Hasrat itu seperti kuda.
Jika dilepas liar, ia bisa menabrak apa saja.
Tetapi jika diarahkan, ia bisa membawa kita sampai tujuan.

Karena itu setelah azan magrib, kita justru dipersilakan menikmati makanan. 

Seolah Ramadan berkata:
“Lihat… kamu sebenarnya mampu mengendalikan dirimu.”

Puasa bukan mematikan rasa lapar.

Ia mendidik rasa lapar agar tahu waktu dan batas

Seorang anak kecil pernah bertanya kepada ayahnya saat menunggu azan.
“Kenapa kita harus menahan lapar?”
Sang ayah menjawab santai,
“Supaya nanti kalau sudah besar, kamu tidak menjadi orang yang menuruti semua keinginan.”
Anak itu berpikir sejenak lalu berkata,
“Jadi puasa itu latihan jadi orang kuat?”
Ayahnya tersenyum.
“Iya. Kuat melawan diri sendiri.”

Pada akhirnya, Ramadan mengajarkan satu hal yang sering kita lupa:

kemenangan terbesar manusia bukan menaklukkan orang lain, tetapi menaklukkan dirinya sendiri.

Karena banyak orang terlihat sukses mengatur dunia, tetapi gagal mengatur nafsunya.

Banyak orang pandai mengelola perusahaan, tetapi tidak pandai mengelola amarah.

Banyak orang kaya harta, tetapi miskin kendali diri.

Di sinilah puasa bekerja diam-diam. Ia mengajari kita seni mengelola hasrat. 

Seni untuk berkata “cukup” saat dunia terus berkata “tambah”.

Seni untuk berkata “tunggu” saat keinginan berkata “sekarang”.

Dan seni untuk berkata “tidak” ketika nafsu berkata “kenapa tidak?”

Ramadan, pada akhirya, bukan sekadar bulan menahan lapar.

Ia adalah studio latihan bagi jiwa. 

tempat manusia belajar menjadi sutradara bagi hasratnya sendiri. bukan sekadar aktor yang mengikuti semua dorongan.

Redaktur

No Comment

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama