![]() |
| Foto AP / Gerald Herbert |
JAKARTA - Tim negosiasi Iran telah meninggalkan tempat perundingan dengan tim AS di Swiss setelah ancaman dari Presiden AS Donald Trump, demikian dilaporkan kantor berita Tasnim pada hari Minggu, mengutip sumber yang dekat dengan tim Iran.
Langkah ini dilakukan sebagai protes terhadap ancaman Trump untuk melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Iran jika Teheran gagal membujuk kelompok pro-Iran di Lebanon untuk berhenti menimbulkan masalah.
Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan Amerika Serikat harus hati-hati dalam pernyataannya, karena angkatan bersenjata Iran siap untuk menanggapi serangan apa pun.
"Mereka (AS) sebaiknya berhati-hati dengan pernyataannya. Angkatan bersenjata kami siap merespons. Apa pun yang mereka katakan, kami akan bertindak," tulisnya di X.
Sementara itu, seorang anggota tim negosiasi Iran, Hossein Korbanzadeh, mengatakan bahwa pembicaraan AS-Iran tidak akan berlanjut sampai aksi militer Israel di Lebanon dihentikan.
"Lebanon adalah topik yang paling banyak dibahas dalam negosiasi. Jika perang di Lebanon tidak berakhir, negosiasi tidak akan berlanjut," kata Korbanzadeh seperti dikutip oleh kantor berita Mehr.
Seperti diketahui, negosiasi tingkat teknis antara Iran dan Amerika Serikat, serta negara-negara mediator Pakistan dan Qatar, dimulai di resor pegunungan Burgenstock pada hari Minggu secara tertutup. Media melaporkan sebelumnya pada hari itu bahwa putaran pertama pembicaraan telah selesai.
Pada hari Minggu, Presiden AS Donald Trump mengancam Iran serangan lebih lanjut jika Teheran gagal membujuk kelompok pro-Iran di Lebanon untuk berhenti menimbulkan masalah.
"Iran harus segera menghentikan PROKSI mereka yang dibayar mahal di Lebanon dari menimbulkan masalah. Jika tidak, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan minggu lalu, hanya lebih keras!!," tulis Trump di Truth Social.
Pada malam tanggal 18 Juni, Iran dan Amerika Serikat menandatangani memorandum secara jarak jauh yang mengatur pengakhiran konflik militer yang dimulai pada 28 Februari. Dokumen tersebut juga menetapkan tenggat waktu bagi AS untuk mencabut blokade angkatan lautnya dan bagi Iran untuk memulihkan pengiriman di Selat Hormuz.
Iran juga berkomitmen untuk tidak memperoleh senjata nuklir, dengan masalah program nuklir Iran akan diselesaikan melalui perjanjian terpisah. Para pihak akan mengadakan negosiasi mengenai masalah ini dalam waktu 60 hari. Bagi Teheran, hasil yang diharapkan adalah pencabutan sanksi anti-Iran.
Sumber: sputnikglobe.com

