![]() |
| Seorang anak pengungsi dari Gaza memegang laporan medisnya saat bergabung dengan pasien anak-anak lainnya yang tiba di perbatasan Israel-Yordania pada 11 Juni 2025 (File: Salah Malkawi/Getty Images) |
JAKARTA - Lebih dari 60 anggota Kongres Amerika Serikat telah meminta Israel untuk mencabut pembatasan terhadap pasien kanker Palestina di Gaza sehingga dapat mencari perawatan di rumah sakit di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki.
Lima puluh satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan 11 anggota Senat menandatangani surat pada Kamis, yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Mereka termasuk Senator Bernie Sanders dan Chris Van Hollen serta Perwakilan Madeleine Dean dan Greg Casar.
Surat tersebut meminta pemerintahan Presiden Donald Trump untuk memfasilitasi evakuasi medis pasien kanker anak dan pengasuhnya, serta mendapatkan jaminan dari Israel agar mengizinkan kembali ke Gaza.
“Tidak ada alasan yang masuk akal mengapa mengizinkan anak-anak penderita kanker untuk berkendara selama 40 menit demi mendapatkan perawatan medis yang menyelamatkan nyawa harus menjadi kontroversial,” kata Deyar Jamil, seorang peneliti di kelompok hak asasi manusia DAWN, yang membantu menyusun surat tersebut.
Menurutnya, kekejaman seperti itu tidak mungkin terjadi tanpa dukungan politik AS dan pihaknya berterima kasih kepada anggota Kongres yang menuntut diakhirinya hal tersebut.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 94 persen rumah sakit di Gaza hancur atau rusak selama perang genosida Israel di wilayah Palestina, yang dimulai Oktober 2023.
Pasukan Israel menghancurkan Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina, satu-satunya fasilitas khusus kanker di Jalur Gaza, pada Maret 2025. Diagnosis kanker menjadi vonis mati di Gaza, di mana dokter memperkirakan bahwa kematian akibat kanker telah meningkat tiga kali lipat sejak Oktober 2023, demikian surat yang disampaikan.
Surat itu menyebutkan evakuasi medis terbatas yang diizinkan oleh otoritas Israel jauh dari memenuhi kebutuhan pasien.
Menurut PBB, setidaknya 1.200 orang telah meninggal di Gaza saat menunggu persetujuan evakuasi, termasuk seorang anak laki-laki berusia enam tahun penderita leukemia bernama Ghazal, yang menghabiskan dua bulan terakhir hidupnya berharap mendapat izin untuk pergi berobat.
Semenetara itu, WHO menangguhkan evakuasi medis dari Gaza ke Mesir pada April lalu setelah pasukan Israel menembak dan membunuh seorang kontraktor medis.
Meskipun ada perjanjian gencatan senjata yang berlaku pada Oktober 2025, pasukan Israel terus melakukan serangan di seluruh Gaza dan membatasi aliran bantuan kemanusiaan.
Sepanjang perang, pasukan Israel menghadapi tuduhan sengaja menargetkan pekerja medis dan secara sistematis menghancurkan fasilitas medis di seluruh Gaza.
Bahkan, sebelum perang, Israel mempertahankan kendali ketat atas siapa yang diizinkan masuk dan keluar Gaza. Sejak Oktober 2023, negara tersebut sebagian besar menolak permintaan evakuasi medis, dengan alasan keamanan.
Surat yang dikirim pada Kamis mengusulkan pembentukan koridor medis untuk memungkinkan perjalanan yang diperlukan keluar dari Gaza, menghubungkan Jalur Gaza dengan bagian lain wilayah Palestina.
Surat itu mencatat fasilitas medis di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur siap menerima pasien dari Gaza dan menawarkan layanan seperti perawatan radiasi, dengan Rumah Sakit Augusta Victoria dan Patriark serta Kepala Gereja di Yerusalem menawarkan untuk menanggung semua biaya yang relevan.
Surat itu juga menyerukan jaminan bahwa warga Palestina akan dapat membangun kembali fasilitas medis Gaza tanpa kerusakan lebih lanjut. Namun, surat itu menekankan perlunya evakuasi pasien kanker segera untuk memastikan mereka menerima perawatan yang menyelamatkan jiwa.
“Satu-satunya hambatan antara pasien-pasien ini dan perawatan yang sangat mereka butuhkan adalah persetujuan pemerintah Israel atas permintaan evakuasi mereka,” demikian bunyi surat tersebut. (Sumber: Al Jazeera)
