![]() |
| Militer Israel membombardir Lebanon Selatan, selanjutnya mengeluarkan ancaman untuk mengungsi. |
Oleh: Staff Al Jazeera AFP dan Reuters
JAKARTA - Setidaknya 16 orang tewas dalam serangan udara Israel di Tyre dan daerah sekitarnya di Lebanon Selatan, sembilan orang tewas dalam serangan udara Israel di desa Tayr Debba, sedangkan tiga orang tewas dalam serangan di Kotamadya Deir Qanoun en-Nahr
Demikian informasi yang dilaporkan Kantor Berita Nasional (NNA) milik negara Lebanon pada hari Rabu.
Menurut NNA, pada Rabu malam, sebuah pesawat tempur Israel menyerang Desa Deir ez-Zahrani, menargetkan bangunan masjid dan klinik yang menewaskan sedikitnya tiga orang.
Obaida Hitto dari Al Jazeera, melaporkan dari Tyre, Israel mencoba memberikan kesan bahwa mereka telah memberi waktu yang cukup untuk pergi dengan aman kepada penduduk desa-desa, tetapi kenyataannya tidak demikian.
“Konvensi Jenewa mensyaratkan jalur evakuasi harus aman, orang-orang diberi waktu yang cukup, dan jalur kembali disediakan sehingga pendudukan tidak berlanjut,” kata Hitto, yang juga menambahkan aktivitas militer Israel di Lebanon Selatan tidak memenuhi persyaratan tersebut.
Menurut Hitto, jika orang-orang mencoba meninggalkan Tyre hari ini dan pergi ke utara, mereka berisiko tinggi menjadi sasaran serangan pesawat tak berawak. Ini adalah situasi yang sangat berbahaya, dan tidak ada jaminan yang masuk akal bagi warga sipil yang mencoba melakukan perjalanan keluar dari kota.
“Ini adalah pertama kalinya kami mengirim misi penilaian ini, dan idenya memang untuk melihat pelanggaran oleh semua pihak, pelanggaran hukum internasional, pelanggaran hukum hak asasi manusia internasional, dan untuk mendokumentasikannya yang akhirnya melaporkan kembali kepada Anda tentang temuan kami,” kata Turk.
Pada awal Mei,
Menurut Menteri Informasi Lebanon Paul Morcos, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, mengatakan dalam rapat kabinet reguler bahwa penting untuk terus mendokumentasikan potensi kejahatan dan menyerahkannya kepada PBB.
"Salam juga mengatakan bahwa kesepakatan telah tercapai dan Turk akan mengunjungi Lebanon dalam waktu dekat untuk melakukan penyelidikan," kata Morcos.
Lebanon terseret ke dalam perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran pada bulan Maret ketika Hizbullah menembakkan roket ke Israel, dengan alasan serangan Israel yang hampir setiap hari di Lebanon dan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Kelompok Lebanon tersebut menolak kesepakatan gencatan senjata bersyarat, pekan lalu, yang menetapkan penghentian total tembakan Hizbullah tetapi tidak menyebutkan penghentian serangan Israel.
Para pejuangnya terus melancarkan serangan terhadap pasukan Israel yang telah menginvasi Lebanon Selatan, termasuk dengan roket dan drone pada hari Rabu.
Kementerian Kesehatan Lebanon menjelaskan serangan Israel di seluruh negeri telah menewaskan sedikitnya 3.696 orang dan melukai 11.413 lainnya sejak 2 Maret lalu. Sementara di pihak Israel, 29 tentara dan satu kontraktor sipil telah tewas di Lebanon.
Teheran bersikeras bahwa Lebanon harus menjadi bagian dari kesepakatan apa pun untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran, tetapi prospek kesepakatan diragukan pada hari Rabu setelah Iran dan AS kembali saling menyerang.
Pada hari Selasa, asosiasi desa-desa perbatasan Kristen di Lebanon Selatan mengeluarkan pernyataan, mendesak pemerintah Lebanon untuk segera membuka koridor kemanusiaan dan medis yang aman untuk memastikan akses warga, bantuan, dan tim medis dan bantuan ke desa-desa yang terkena dampak dan terisolasi. (Sumber: Al Jazeera)
