Tujuh anggota OPEC+, termasuk Arab Saudi dan Rusia, akan meningkatkan produksi sebesar 188.000 barel per hari. // Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Ketika Merah Putih Berkibar, Barru Meneguhkan Janji Kemerdekaan


BARRU (wartamerdeka.info) - Ada saat ketika sebuah lapangan tidak lagi sekadar menjadi tempat upacara. Senin pagi, 17 Agustus 2026, Lapangan Sepak Bola Sumpang Binangae berubah menjadi ruang hening tempat seluruh mata tertuju pada satu simbol: Merah Putih.

Tepat pukul 09.58 WITA, sirene meraung selama 60 detik.


Suara itu bukan sekadar penanda dimulainya upacara. Ia seperti mengetuk ingatan tentang perjuangan panjang bangsa—tentang pengorbanan, keberanian dan harga yang harus dibayar untuk sebuah kata bernama kemerdekaan.

Di hadapan peserta upacara, Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si. berdiri sebagai Inspektur Upacara. Sementara IPDA Muhammad Fauzi Nur Alifka, S.Tr.K., M.H. memimpin jalannya upacara sebagai Komandan Upacara.

Ketika Ketua DPRD Kabupaten Barru Drs. H. Syamsuddin Muhiddin, M.Si. membacakan teks Proklamasi, suasana seketika mengeras dalam keheningan.


“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia...”

Kalimat yang lahir 81 tahun silam itu kembali menggema.

Kalimat yang dulu menjadi awal sebuah negara berdiri, kini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan titik akhir. Ia adalah tanggung jawab yang harus terus diwariskan. 

Kemudian tibalah saat yang paling dinanti. Paskibraka Kabupaten Barru memasuki lapangan. Langkah mereka tegap. Tatapan lurus. Gerakan presisi. Tidak ada ruang bagi kesalahan.

Di antara barisan itu, Arina, siswi SMA Negeri 1 Barru, berdiri sebagai Pembawa Baki. Gadis kelahiran Garessi, 18 Februari 2010, putri pasangan Jamaluddin dan Erni tersebut membawa Sang Merah Putih dengan kehormatan penuh.


Di balik seragam dan langkah tegapnya, tersimpan sebuah mimpi: menjadi reporter atau pembawa berita.

Namun pagi itu, Arina tidak sedang menyampaikan berita. Ia sedang menjadi bagian dari sejarah membawa simbol bangsa di hadapan rakyat yang merayakan kemerdekaan.

Di belakangnya, Muhammad Yusuf A. berdiri sebagai Komandan Pleton 17. Siswa SMA Negeri 1 Barru kelahiran Barru, 2 Mei 2010, putra pasangan Alamsyah Abdi dan Katrina itu menyimpan cita-cita menjadi anggota TNI Angkatan Laut.

Tiga pengibar kemudian mengambil posisi.

M. Aditya Saputra, siswa SMA Negeri 1 Barru, dipercaya sebagai Pengibar Kanan. Putra pasangan Arizal dan Arina itu bercita-cita menjadi anggota TNI Angkatan Udara.

Di posisi tengah, Ibnu Syahril Mubarak, siswa Madrasah Aliyah Putra DDI Mangkoso, dipercaya sebagai Pengibar Tengah. Putra Muh. Ridwan, S.Ag., dan Juberiah, S.Pd., itu bercita-cita menjadi dosen.

Sementara Muhammad Fatih Athallah R., siswa SMA Negeri 1 Barru, dipercaya sebagai Pengibar Kiri. Putra pasangan Rahmat Sukarata, S.Kom., dan Syahriana, S.T., M.H., itu bercita-cita menjadi polisi.

Mereka datang dari sekolah, keluarga dan latar belakang berbeda.

Tetapi pagi itu, mereka berdiri dalam satu barisan.

Satu tugas. Satu kehormatan. Satu Merah Putih.

Ketika aba-aba diberikan, semuanya bergerak.

Baki diserahkan.

Tali ditarik.

Merah Putih perlahan meninggalkan bumi.

Sejenak waktu terasa berhenti, menghormati naiknya sang Merah Putih menuju ujung tiang penyangga.

Hingga akhirnya Sang Merah Putih  mencapai puncak tiang dan berkibar gagah di langit Barru.

Tugas selesai.

Tetapi makna perjuangan baru saja kembali ditegaskan.

Pengibaran bendera tersebut sukses dilaksanakan di bawah Komandan Pasukan Iptu Asmadil, S.H., KBO Sat Intelkam Polres Barru, lulusan Sekolah Inspektur Polisi Tahun 2021 Angkatan 50 Resimen Wira Satya Adhi Pradana.

Dibalik suksesnya, Paskibraka ditempa di bawah pelatih Peltu Takwa, Babinsa Desa Palakka, lulusan Secaba Reguler Infanteri Tahun 1999.

Pasukan pengapit turut diperkuat personel TNI dan Polri. Serda Rahmat, Babinsa Desa Pao-Pao, Kecamatan Tanete Rilau, bertugas sebagai Pengapit Depan Kanan, sementara Sertu Mansyur, Batimin Koramil 1405-086 Barru, sebagai Pengapit Depan Kiri.

Di belakang, Bripda M. Rifky Maulana Marwan, Bintara Bagian SDM Polres Barru, dan Bripda M. Rayhant Dwi Putra, Bintara Satuan Lalu Lintas Polres Barru, mengemban tugas sebagai pengapit.

Upacara dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” itu tidak berhenti ketika Sang Merah Putih mencapai puncak.

Usai upacara, pemerintah melanjutkan rangkaian peringatan dengan pemberian Remisi Umum Tahun 2026 dan Pengurangan Masa Pidana Umum Tahun 2026 kepada warga binaan Rutan Kelas IIB Barru.

Kepala Rutan Kelas IIB Barru, Hardiman,SH.M.Si menyerahkan cenderamata hasil karya pembinaan warga binaan berupa satu unit kursi Jepara kepada Bupati Barru secara simbolis.

Di sisi lain, penghargaan diberikan kepada Kepala BPKAD Kabupaten Barru, Abubakar, S.Sos., M, Si yang memasuki masa purnabakti. Sebuah penghormatan kepada seseorang yang telah menghabiskan bagian penting hidupnya untuk mengabdi kepada pemerintahan dan masyarakat.

Dua peristiwa itu seolah menyampaikan pesan yang sama:

Kemerdekaan harus menghadirkan kesempatan.

Kesempatan untuk memperbaiki diri.

Kesempatan untuk berkarya.

Kesempatan untuk mengabdi.

Dan kesempatan untuk melanjutkan perjuangan dengan cara masing-masing.

Hari itu, Barru tidak hanya mengenang para pahlawan yang telah gugur.

Barru juga memperlihatkan siapa yang akan melanjutkan estafet perjuangan itu.

Ada Arina dengan cita-citanya menjadi reporter.

Ada Yusuf yang bermimpi menjadi prajurit TNI Angkatan Laut.

Ada Aditya yang ingin mengabdi di TNI Angkatan Udara.

Ada Ibnu yang bercita-cita menjadi dosen.

Ada Fatih yang ingin menjadi polisi.

Mereka adalah generasi yang suatu hari nanti akan mengambil posisi yang hari ini ditempati orang-orang dewasa.

Karena itu, ketika Merah Putih berkibar di langit Sumpang Binangae, sesungguhnya yang sedang dikibarkan bukan hanya bendera.

Yang sedang dikibarkan adalah harapan.

Harapan tentang generasi yang berani bermimpi.

Harapan tentang bangsa yang terus bergerak.

Dan harapan agar kemerdekaan tidak berhenti sebagai seremoni setiap 17 Agustus.

Dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi penegasan bahwa perjuangan belum selesai.

Kemerdekaan harus diisi dengan kerja.

Persatuan harus dijaga.

Kolaborasi harus diperkuat.

Dan pembangunan harus dirasakan seluruh masyarakat.

Sebab 81 tahun setelah Proklamasi, tugas generasi hari ini bukan sekadar mengingat bagaimana Indonesia merdeka.

Tetapi memastikan bahwa kemerdekaan itu benar-benar menghadirkan kedaulatan, keadilan dan kemakmuran bagi generasi yang akan datang. (Syamsu Marlin)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama