Tujuh anggota OPEC+, termasuk Arab Saudi dan Rusia, akan meningkatkan produksi sebesar 188.000 barel per hari. // Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Mayjen Amir Hatami: Pasukan AS Tidak Lagi Diizinkan Masuk ke Selat Hormuz

Foto AP / Zachary Pearson/Angkatan Laut AS

JAKARTA (wartamerdeka) - Amerika Serikat tidak memiliki hak lintas melalui Selat Hormuz ataupun akses ke Teluk Persia dan Teluk Oman, sementara kendali atas Hormuz merupakan syarat mutlak untuk mengakhiri konflik militer dengan Washington.

Hal tersebut disampaikan Komandan Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, pada hari Minggu (16/8/2026).

"Pasukan AS telah diusir dan tidak lagi diizinkan memasuki Teluk Persia, Teluk Oman atau Selat Hormuz. Semua pihak harus memahami bahwa pangkalan-pangkalan Amerika tidak akan pernah bisa kembali ke kondisi semula dan Iran tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi," kata Hatami sebagaimana dikutip oleh lembaga penyiaran negara Iran, IRIB.

Ia juga menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan peluang geopolitik bagi Iran dan situasi di jalur perairan tersebut tidak akan pernah kembali seperti sedia kala.

"Daya tawar ini (Selat Hormuz) adalah salah satu syarat mutlak untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat," tambah Hatami.

Sumber: Sputnik 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama