Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting


Jakob Oetama Memang Layak Jadi “Guru Jurnalisme Indonesia”


Oleh: Danny PH Siagian, SE., MM

(Jurnalis & Dosen PTS di Jakarta)

Jakob Oetama (nama asli Jakobus Oetama), Sang pendiri Harian Kompas dan Gramedia Group itu akhirnya menghentikan langkahnya di usia 88 tahun, setelah dirawat 2 (dua) minggu di RS Mitra Kelapa Gading, Jakarta, hari Selasa, 9 September 2020.

Jacob Oetama yang akrab disapa banyak orang sebagai “pak JO” (singkatan nama), bukan saja dikenal sebagai wartawan senior. Tapi banyak atribut yang sudah bertengger di pundaknya sejak ia pernah menjadi Guru (SMP di Cianjur dan Jakarta), kemudian Wartawan, pernah jadi Dosen (di Universitas Indonesia), Pengusaha media, Penerima macam-macam Penghargaan (dari PWI, Filippina, dll), Doktor (HC) dari Universitas Gajah Mada, Penerima Bintang Mahaputera Utama (1973), anggota DPR/MPR, Tokoh Pers Nasional, dan masih banyak lagi.

Dari kisahnya yang dikutip dari berbagai sumber, ketika dulu sambil mengajar di SMP, Jakob mengikuti kursus B-1 Ilmu Sejarah, juga melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada sampai 1961.

Setelah lulus kuliah, ia mendapatkan pekerjaan baru sebagai sekretaris redaksi mingguan Penabur. Tugasnya sebagai pemimpin redaksi. Jakob pun berhenti mengajar. Padahal usai menyelesaikan kursus B-1 Ilmu Sejarah, Jakob mendapatkan rekomendasi untuk beasiswa di University of Columbia, Amerika Serikat. Tawaran itu membuatnya bimbang.

Selain itu, Jakob juga mendapat tawaran menjadi dosen di Universitas Parahyangan (Unpar), Bandung. Bahkan, kala itu Unpar telah menyiapkan rekomendasi agar Jakob dapat melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar PhD di Universitas Leuven, Belgia.

Di tengah kegalauan itu, Jakob berjumpa dengan Pastor J.W. Oudejans OFM, Pemimpin Umum di media mingguan Penabur. Pastor Oudejans memberi nasihat, “Jakob, guru sudah banyak, wartawan tidak.” Dan jadilah nasihat itu mengubah seluruh hidup Jakob hingga yang terlihat kemudian.

Selanjutnya, pertemuannya dengan Petrus Kanisius (PK) Ojong pada tahun 1958 dalam sebuah kegiatan jurnalistik, mendorong Jakob mendirikan Majalah Intisari. Kala itu, Ojong sudah aktif di dunia jurnalistik, sebagai pimpinan harian Keng Po dan mingguan Star Weekly. Tetapi, pada tahun 1958, Keng Po dibredel Pemerintah. Hal yang sama kemudian dialami Star Weekly pada tahun 1961. Keduanya tak disukai Pemerintah pada waktu itu, lantaran terlalu kritis.

Setelah itu tahun 1963, bersama PK Ojong, Jakob mendirikan majalah Intisari, yang menjadi produk jurnalisme yang selalu dinanti para pembacanya. Setelah Intisari berdiri, Menteri Perkebunan saat itu, Frans Seda dari Partai Katolik, meminta Ojong dan Jakob mendirikan surat kabar Partai Katolik. Maka, muncullah surat kabar harian Kompas tahun 1965.

Sejak itulah pak JO makin menjejakkan kakinya sebagai jurnalis, yang kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Kompas, selanjutnya menjadi Pemimpin Umum, karena PK Ojong meninggal dunia. Hingga merambah terus, mengembangkan sayap menjadi industri media bersama beberapa anak perusahaan dalam Gramedia Group. 

Banyak tulisannya yang mewarnai dunia pers Indonesia selama karirnya. Dan tak dapat dipungkiri, warna Kompas Gramedia Group adalah warna dari apa yang ditanamkan sang pendiri, yang menekankan jurnalisme bukan hanya sekedar berita, namun juga mengungkap cerita dibalik fakta.

Pikiran-pikirannya yang memasukkan unsur-unsur humanis, menjadi ciri nafas jurnalisnya. Bukannya tidak tajam melakukan kritik terhadap kebijakan Pemerintah, tapi juga tampak memberi buah pikir sebagai alternatif, atau sisi lain sesuai dasar-dasar kebenaran, kejujuran dan keberpihakan kepada kemanusiaan atau rakyat banyak.  

Lebih jauh lagi, bukan saja soal industri pers Gramedia group yang dia pikirkan, tapi juga para keluarga karyawannya. Bahkan lebih jauh lagi, para insan pers Indonesia juga menjadi perhatiannya hingga dunia pers itu sendiri, bagaimana supaya konsisten menjalankan fungsinya sebagai social control. 

Dalam berbagai kesempatan penulis berinteraksi dengan pak JO, sosok yang sangat bersahaja itu, tampak berusaha akrab sekalipun baru kenal. Dan ingatannya yang tajam untuk mengidentifikasi seseorang yang baru ia kenal serta mencirikan orang tersebut, itu yang mungkin tidak banyak diungkap oleh berbagai tulisan. Tapi penulis sangat merasakan dan memperhatikannya. Mungkin, hal itu bisa kita yakini sebagai ketajaman dan sekaligus juga sebagai talenta yang dimiliki beliau. Termasuk kita yakini dalam hal memahami bahkan menguasai berbagai referensi maupun berbagai literatur ilmu pengetahuan. 

Sepanjang pengalaman mencermati pak JO, hampir tidak terasa ada perbedaan sikap dan tampilan menyolok, ketika beliau sebagai Pemimpin Redaksi, Pemimpin Umum, hingga menjadi Bos Gramedia Group. Padahal, umunya seseorang bisa berubah, jika dulu mungkin mengelola cash flow dan aset dari hanya puluhan juta, hingga belakangan mengelola keuangan triliunan rupiah. Namun, itulah pak JO. Tetap saja terlihat sederhana, banyak senyum, jauh dari glamourisme dan gaya-gaya pengusaha yang terlihat nge-bossy.

Pikiran-pikirannya yang visioner tapi juga tidak ambisius dan tidak arogan itu, sangat mewarnai sikap dan tindakannya. Sehingga membuat pak JO menjadi jurnalis senior yang tidak sembarangan, dan sangat disegani berbagai kalangan pejabat Negara maupun berbagai kalangan yang berkaitan dengan urusan Negara. Tentu, tanpa mengabaikan tokoh-tokoh pers lainnya, yang juga memberi pengaruh eksistensi pers di masa-masa pak JO sedang giat-giatnya berkarir pada waktu itu, seperti: Adam Malik, Harmoko, B.M. Diah, Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, Goenawan Mohammad, Sabam Siagian, hingga Dahlan Iskan, dan yang lebih muda lainnya.

Demikian komprehensif dan berpengaruhnya sikap, pikiran dan hasil karya pak JO bagi perjalanan jurnalisme di Indonesia, maka sebernarnya, Jakob Oetama layak disematkan predikat sebagai “Guru Jurnalisme Indonesia”. Hal ini tentu tidak perlu diragukan lagi. Karena secara industri dalam permediaan, seperti: media cetak (harian, mingguan, dwi mingguan, bulanan), radio, televisi, media online, hingga unit bisnis berkaitan dengan media seperti: penerbitan, percetakan buku, universitas, ekspedisi, book store, hotel, dan lain-lain sudah dibuktikan penanganannya dari hulu hingga hilir.

Pak JO menjadi panutan bukan saja hanya di lingkungan Kompas Gramedia, tapi juga bagi jurnalisme Nasional. Karena berbagai kalangan juga sangat mengakui kepiawaian pak JO, dalam mengelola jurnalisme dengan berbagai kaitannya, sehingga dapat memberi pengaruh dalam perjalanan dunia jurnalistik itu sendiri. 

Semoga jejak-jejak karya dan pikiran yang beliau tularkan, dapat menginspirasi banyak orang, terutama para generasi muda. Selamat jalan pak JO….Beristirahatlah Dengan Damai…

Posting Komentar untuk "Jakob Oetama Memang Layak Jadi “Guru Jurnalisme Indonesia”"