Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

 


 


Premanisme Politik Ala SBY Dan AHY

Oleh: Saiful Huda Ems - SHE

(Lawyer dan Pemerhati Politik)

Entah kepanikan apalagi yang tengah mengganggu kejiwaan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), hingga acara Hari Ulang Tahun (HUT) atau Haul ke 20 yang diselenggarakan bukan oleh DPP Partai Demokrat hasil KLB pimpinan Bapak Dr. Moeldoko melainkan oleh beberapa sesepuh pendiri Partai Demokrat itu, harus digruduk ramai-ramai oleh para pengurus DPP dan DPD Partai Demokrat Provinsi Banten yang berada dalam kepemimpinan AHY. 

Acara itu sejatinya menurut penyelenggaranya akan dilakukan dengan khidmat, dan hanya mengundang beberapa orang saja yang mungkin dianggap oleh penyelenggara masih memiliki kepedulian terhadap masa depan Partai Demokrat. 

Acara haul yang menghadirkan para tokoh sesepuh pendiri Partai Demokrat dan beberapa akademisi yang semula hanya ingin memutar video sejarah berdirinya Partai Demokrat dan riwayat masuknya SBY ke Partai Demokrat dengan memperhatikan protokol kesehatan itu, mendadak diserbu, digruduk oleh kubu AHY yang mengira acara itu diselenggarakan oleh DPP Partai Demokrat hasil KLB pimpinan Bapak Dr. Moeldoko.

Beberapa pengurus DPP dan DPD Partai Demokrat Provinsi Banten kubu AHY yang diketuai oleh Bupati Lebak, yakni Iti Jayabaya yang dulu pernah mau menyantet Pak Moeldoko itu tiba di tempat acara sebelum acara dimulai, dan mencabuti semua atribut yang ada di sekitar lokasi acara di Hotel JHL Solitaire Jl. Gading Serpong Tangerang Provinsi Banten. Mereka seperti gerombolan preman bringas yang teriak-teriak di jalanan, dan meminta panitia untuk membubarkan acara HUT ke 20 Partai Demokrat yang diselenggarakan oleh para sesepuh pendiri Partai Demokrat itu. Untungnya Polisi disana sangat tanggap menangani masalah, hingga pertikaian kedua belah pihak itu tidak sampai jatuh korban. 

Cara-cara yang dilakukan oleh kubu AHY dengan menggruduk, marah-marah dan mencopoti berbagai atribut itu bukanlah cara yang baik sebagai layaknya kader partai yang berpikiran bijak, intelek dan dewasa, melainkan cara-cara preman yang sangat memalukan dan merugikan kebesaran nama Partai Demokrat itu sendiri. 

SBY harusnya meluangkan waktu sejenak untuk merenung, kenapa para kader dan pendiri Partai Demokrat yang dahulu membela dan memperjuangkan nasib SBY mati-matian, dan memperjuangkan kejayaan partai dengan keringat, darah dan air mata hingga pernah mengantarkan SBY menjadi Presiden RI selama dua periode, kini berbalik menjadi penentangnya? 

SBY harusnya menghentikan sejenak kesibukan menulis album lagunya, dan mengambil cermin besar lalu berkaca dan bertanya dalam hatinya, kenapa drama demi drama yang dilakukannya tidak pernah selesai-selesai dari tahun ke tahun, yang mengakibatkan para sahabat-sahabat terdekatnya sendiri yang dahulu mempagar betisnya dan mendorongnya untuk tampil hebat di depan publik hingga jutaan emak-emak klepek-klepek dan memberikan suara untuknya dalam dua kali Capres, kini berubah jadi muak dan meninggalkannya. 

Drama penganugerahan kehormatan dari diri sendiri untuk diri sendiri dalam acara dan kemasan partai. Drama kesatria Bapak Demokrasi tapi tak tahunya malah menjadi Bapak Dinasti. Drama penyusunan AD/ART Partai Demokrat sesuai aspirasi kader dan pengurus Partai Demokrat, ternyata nyatanya penuh manipulasi dan mendudukkan diri dan anak-anaknya sendiri di posisi-posisi strategis dan tertinggi Partai Demokrat. Drama masih dicintai rakyat dan dirindukan rakyat untuk kembali menjadi Presiden RI, namun faktanya malah dibully rakyat mulai dari dirinya sendiri, anak-anaknya hingga menantu-menantunya sendiri semua dibully rakyat. Drama menjadi korban kesewenang-wenangan Pemerintahan Jokowi, namun nyatanya malah menjadi provokator garis depan untuk memusuhi Pemerintahan Jokowi. Drama drama SBY seperti ini terbukti tidak malah mengharumkan nama SBY dan keluarganya yang seharusnya tampil menjadi Negarawan Indonesia, namun malah yang terjadi menghasilkan gelombang protes padanya disana-sini. Jika tidak, maka Partai Demokrat tak akan terbelah dua !.


Dalam acara HUT ke 20 Partai Demokrat di Hotel JHL Solitaire 10 September 2021 tadi malam itu bukanlah atas prakarsa DPP Partai Demokrat hasil KLB, apalagi atas prakarsa Ketumnya yakni Bapak Dr. Moeldoko. Bapak Dr. Moeldoko setidaknya untuk sampai saat ini, sudah sangat sibuk mengurusi tugas dan fungsinya sebagai Kepala KSP, jadi tuduhan kubu AHY terhadap Bapak Dr. Moeldoko yang dianggapnya memprakarsai acara itu merupakan tuduhan yang dicari-cari. AHY sebagai politisi pemula harusnya banyak belajar dari para seniornya, bagaimana mengelola konflik internal partainya tanpa harus melakukan fitnah. AHY sebagai politisi pemula juga harus belajar, bagaimana cara menghormati para sesepuh pendiri partainya, hingga ketika mereka mau mengadakan acara haul dan renungan berdirinya partainya, tidak dihadapi dengan mengerahkan gerombolan seperti preman kurang makan dan kurang pendidikan. Bijak dan demokratislah dalam memimpin partai !...

Jakarta, 11 September 2021.

Posting Komentar untuk "Premanisme Politik Ala SBY Dan AHY"