TikTok YouTube Instagram Twitter WhatApp

Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Mahfud MD: Tokoh-tokoh Politik Awalnya Galak, Begitu Ditangkap Ketakutan


Yogyakarta (wartamerdeka.info) - Mantan Ketua Mahkaman Konstitusi (MK), Mahfud MD hadir di acara dialog kebangsaan di Universitas Alma Ata, Yogyakarta, Rabu (29/5).

Mahfud menyindir tokoh diduga bertindak makar yang telah ditangkap dan diperiksa oleh kepolisian. 

Tokoh tersebut antara lain Lieus Sungkharisma, Kivlan Zen, hingga Eggy Sudjana, dikatakan Mahfud,  semula terlihat galak di berita-berita dan sosial media, namun mendadak menjadi ketakutan setelah ditangkap, dibeberkan bukti dan harus mempertanggungjawabkan terkait kegiatan politiknya.

"Nah, orang-orang itu, kalau Saudara lihat yang galak-galak itu, ada Lieus Sungkharisma, ada Kivlan Zen, ada si Eggy Sudjana, ketika belum ditangkap, galaknya bukan main, seperti nggak ada orang benar bagi dia," ujar Mahfud Md.

"Begitu dipanggil polisi, diperdengarkan, 'Nih kamu tanggal sekian ketemu ini, ini suaramu, kamu mau mengadakan ini, kamu merencanakan ini'. Bahkan ada yang memerintahkan membunuh, itu ada rekamannya," lanjut Mahfud.

Ia mengatakan, para tersangka dugaan makar itu semua membantah saat aparat menyebut mereka bertindak makar berdasarkan bukti yang diperdengarkan. Mereka berkilah tidak bermaksud merusak negara.

"Begitu diperiksa, 'Oh, ya saya ndak anu, ndak akan merusak negara'. Semula, ketika akan ditangkap galak, sesudah keluar (bukti), takut. Karena (bukti) rekamannya lengkap sekarang ini," paparnya.

Mahfud juga menyebut ada skenario yang sengaja diciptakan untuk mengacaukan keadaan pada aksi 21-22 Mei 2019. Kekacauan tersebut sengaja dibuat oleh pihak yang ingin merendahkan demokrasi yang memang sedang stagnan.

"Demokrasi yang sudah stagnan itu mau diturunkan lagi ke cara-cara anarkis. Apa pun alasannya, itu soal lain. Itu kita bisa berdebat apakah cukup alasan untuk melakukan itu atau tidak dan sekarang ini sudah mulai muncul gangguan terhadap kebangsaan kita," tegasnya. 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama