TikTok YouTube Instagram Twitter WhatApp

Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Suwendi: Tradisi Nguri-nguri Lestarikan Budaya Rasa Syukur


PONOROGO (wartamerdeka.info) - Masyarakat bersama pemerintah Desa Paringan, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur tak pernah luput melestarikan budaya daerah dengan menggelar tradisi Nguri-nguri sebagai peninggalan leluhur pada Rabu (13/5/2026).

Melaksanakan selamatan rakyat Rasuluhusada dan selamatan Desa Paringan berlangsung meriah dan  khimat. Kegiatan diawali menggelar tradisi jiarah ke makam  Eyang Pronojoyo, dilanjutkan Pawai Budaya di Jalan Protokol Desa dan berahkir di Pendopo Desa Paringan, sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur serta rasa syukur pada ALLAH SWT atas keruniaNya.


Kepala Desa Paringan, Suwendi. S.H., M.Si. mengatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya seremonial saja namun bentuk kebersamaan menjaga budaya leluhur jangan sampai terkikis di jaman modern.

Lihat berita menarik lainnya di wartamerdeka

"Ziarah ke makam Eyang pronoijoyo menjadikan pembuka selamatan rakyat Rasulluhusada Desa Paringan sebagai bentuk melaksanakan penghormatan pada leluhur yang telah membuka dan membangun desa paringan. Tradisi ini  juga menjadi cara masyarakat agar tidak melupakan leluhur dan menjaga akar budaya serta sejarahnya." Ujar Suwendi.

Suwendi menambahkan, kegiatan bersih desa serta sedekah bumi merupakan tradisi leluhur yang terus di jaga dan dilestarikan sebagai bentuk wujud Nguri-uri budaya Jawa  di masa perkembangan zaman modern.


Ratusan tumpeng diarak, berasal dari partisipasi masyarakat Desa Paringan. Tumpeng tersebut di bentuk menyerupai gugunan yang berisi dari hasil bumi, seperti padi, sayur mayur, buhah-buhahan, hinga ingkung ayam. Ini semua sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang maha esa atas rahmatnya panen dan rizki yang diterima masyarakat selama setahun terakhir.


Acara ini tadak hanya menjadi agenda tahunan tetapi juga menjadi ajang memupuk rasa kebersamaan , kerukunan, gotong royong antar warga dalam bermasyarakat dan dilakukan setiap harinya. Maka nilai-nilai adat budaya, spiritualitas lokal berpadu menjadi satu dalam tradisi yang masih lestari hingga kini.

“Kami beserta masyarakat berharap tradisi warisan leluhur ini dapat dijaga, dilestarikan  serta dipertahankan dan juga diwariskan kepada generasi muda agar identitas desa Paringan  tetap hidup dan tidak terkikis serta tergerus arus modernisasi,” ujar Suwendi menegaskan. (Hari)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama