TikTok YouTube Instagram Twitter WhatApp

Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Asops Panglima TNI: Fenomena Global dan Ancaman Kontemporer Sulit Diantisipasi


JAKARTA (wartamerdeka.info) - Dinamika perubahan fenomena global, regional, nasional yang sedemikian cepat dan dinamis telah menghadirkan berbagai ancaman kontemporer yang bersifat asimetris, proxy dan hibrid (campuran) serta IT yang lebih sulit untuk diantisipasi. Ancaman tersebut muncul sebagai akibat dari berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Informasi di era Revolusi Industri 4.0.

Hal tersebut disampaikan Asops Panglima TNI Mayjen TNI Tiopan Aritonang, S.I.P., saat membuka Rapat Kordinasi Teknis Pusat Pengendalian Operasi (Rakornis Pusdalops) tahun 2020, dengan tema “Melalui Rakornis Pusdalops TNI, kita Wujudkan Pusdalops TNI yang Profesional, Modern dan Mandiri guna Mendukung Keberhasilan Tugas Pokok TNI”, bertempat di Aula Gatsu Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (6/3/2020).

Ancaman terorisme dan radikalisme semakin sulit dihadapi karena adanya jaringan teknologi komunikasi yang membantu penyebaran pesan-pesan radikal ataupun perintah teror melalui jaringan Medsos, sehingga mampu secara cepat menyebarkan pengaruh dan mengaktifkan sel-sel tidur di seluruh dunia demi mendukung kepentingannya.

Asops Panglima TNI menjelaskan, ancaman lain yang perlu diwaspadai adalah serangan siber atau cyber war yang tak kalah dahsyatnya dibandingkan dengan serangan konvensional, karena sebegitu dahsyatnya penggunaan teknologi siber saat ini dampaknya setara dengan penggunaan senjata kinetik. Kemudian ancaman di wilayah regional seperti konflik batas teritorial di sekitar Laut Natuna dikarenakan tindakan offensif China untuk menguasai sumber kekayaan alam di sekitar Laut China Selatan yang juga diklaim oleh beberapa negara.

Terkait dengan ancaman tersebut, Pusdalops TNI, Puskodal Angkatan dan Puskodal Kotamaops TNI dalam pelaksanaan tugasnya menyiapkan dukungan fasilitas komando dan pengendalian operasi TNI serta penyelenggaraan sistem informasi di lingkungan Mabes TNI dan jajarannya, serta berfungsi merencanakan dan pengembangan Komando Kendali, Komunikasi, Komputerisasi Informasi (K4I) TNI yang mampu menjamin terselenggaranya komando pengendalian terhadap satuan-satuan jajaran TNI yang sedang melaksanakan operasi.

Di akhir sambutannya, Asops Panglima TNI berpesan guna menghadapi tantangan tugas tersebut maka Pusdalops TNI, Puskodal Angkatan dan Puskodal Kotamaops TNI, ke depan perlu meningkatkan infrastruktur, sumber daya manusia serta sistem dan metoda, dalam menjamin kesiapsiagaan operasi dan kesatuan Komando (Unity of Command). (A)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama